Dark/Light Mode

Angkutan Perkebunan KAI Naik 18 Persen, Perkuat Rantai Pasok Sawit Nasional

Selasa, 4 Agustus 2026 19:32 WIB
Foto: KAI.
Foto: KAI.

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume angkutan perkebunan mencapai 374.098 ton sepanjang 1 Januari hingga 31 Juli 2026.

Capaian tersebut meningkat 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 317.026 ton, atau bertambah 57.072 ton.

Pertumbuhan juga tercermin pada kinerja bulanan. Selama Juli 2026, volume angkutan perkebunan mencapai 51.741 ton, naik 24,52 persen dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 41.551 ton. Dengan demikian, terdapat tambahan volume sebanyak 10.190 ton dalam sebulan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, mayoritas komoditas perkebunan yang diangkut merupakan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Menurutnya, layanan logistik berbasis kereta api berperan menjaga kelancaran distribusi CPO menuju fasilitas pengolahan melalui kapasitas angkut besar, perjalanan terjadwal, serta sistem operasional yang terukur.

"Peningkatan sebesar 18 persen menunjukkan kebutuhan terhadap layanan logistik perkebunan berbasis kereta api semakin kuat. KAI menjaga kelancaran distribusi CPO sebagai bahan baku berbagai industri, termasuk industri bioenergi yang kini memiliki peran strategis dalam kebijakan ketahanan energi nasional," ujar Anne.

Baca juga : KAI-BRIN Susun Roadmap ATP, Target Uji Teknologi Rampung pada 2027

CPO merupakan bahan baku utama pembuatan Fatty Acid Methyl Ester (FAME), yaitu komponen biodiesel yang dicampurkan dengan solar.

Dalam program B50, komposisi bahan bakar terdiri atas 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar.

Keterkaitan sektor perkebunan dan energi semakin kuat setelah pemerintah menerapkan Program Mandatori Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026.

Program tersebut kemudian diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan implementasi B50 membutuhkan biodiesel sekitar 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter, dengan kebutuhan CPO mencapai 15,2 juta hingga 16,3 juta ton.

Program ini diproyeksikan mampu menghemat devisa hingga Rp170 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton.

Baca juga : Dirut KAI Paparkan Strategi Layanan Berbasis Voice of Customer

"Peningkatan kebutuhan CPO untuk biodiesel memperluas pasar domestik bagi sektor perkebunan. Dalam rantai pasok tersebut, kereta api berperan menjaga distribusi bahan baku dari wilayah produksi menuju industri pengolahan secara aman, efisien, dan berkelanjutan," kata Anne.

Perkembangan implementasi B50 di Indonesia juga mendapat perhatian pasar global. Berdasarkan laporan Oilseeds: World Markets and Trade edisi Juli 2026 yang diterbitkan United States Department of Agriculture (USDA), produksi minyak sawit dunia pada tahun pemasaran 2026/2027 diperkirakan mencapai 81,44 juta ton.

Dari jumlah tersebut, Indonesia diproyeksikan memproduksi 47,5 juta ton atau sekitar 58,3 persen dari total produksi global.

Laporan tersebut juga menyebut pasar minyak sawit dunia tengah mencermati dampak kebijakan B50 Indonesia, potensi El Niño, serta perkembangan harga minyak bumi yang memengaruhi dinamika pasar minyak nabati global.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah, KAI mulai menerapkan penggunaan B50 secara bertahap pada sarana berbasis diesel sejak 1 Juli 2026.

Implementasi tersebut mencakup lokomotif dan kereta pembangkit setelah melalui serangkaian pengujian performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas pembakaran, emisi, kondisi filter, pelumas, hingga sistem bahan bakar.

Baca juga : 106.474 Wisman Berangkat dari Stasiun Regional, KAI Catat Tren Positif

"KAI memiliki peran pada dua bagian penting dalam ekosistem B50. Melalui layanan angkutan perkebunan, KAI membantu kelancaran distribusi komoditas sawit. Pada kegiatan operasional, KAI menggunakan B50 secara bertahap pada lokomotif dan kereta pembangkit dengan tetap mengutamakan keselamatan serta keandalan sarana," jelas Anne.

Ke depan, KAI akan terus memperkuat kapasitas angkutan perkebunan melalui peningkatan kesiapan sarana, fasilitas bongkar muat, serta koordinasi dengan pelanggan dan para pemangku kepentingan.

Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung rantai pasok industri, memperluas pemanfaatan energi dalam negeri, sekaligus meningkatkan daya saing komoditas perkebunan nasional.

"Kereta api menghubungkan kegiatan produksi, pengolahan, dan kebutuhan energi nasional. Pertumbuhan volume angkutan perkebunan menjadi peluang untuk memperkuat peran logistik perkeretaapian dalam mendukung hilirisasi sawit serta kemandirian energi Indonesia," tutup Anne.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.