Dark/Light Mode

JFX Nilai Penguatan Price Discovery Penting Bangun Harga Referensi Komoditas

Rabu, 5 Agustus 2026 13:23 WIB
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya menyampaikan paparan dalam JFX Journalist Trading Workshop di Jakarta, Selasa (4/8/2026).  Foto: IMA/RM.ID
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya menyampaikan paparan dalam JFX Journalist Trading Workshop di Jakarta, Selasa (4/8/2026). Foto: IMA/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) menilai penguatan mekanisme pembentukan harga (price discovery) menjadi langkah penting untuk membangun harga referensi komoditas domestik yang lebih kredibel dan mencerminkan kondisi pasar nasional.

Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya mengatakan, sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis untuk membangun harga referensi sendiri melalui aktivitas perdagangan yang transparan, likuid, dan berkelanjutan.

Menurut Yazid, harga referensi yang kuat tidak lahir dari penetapan sepihak, melainkan dari transaksi yang benar-benar mencerminkan interaksi antara penawaran dan permintaan di pasar.

"Harga referensi dibangun melalui proses price discovery. Ketika transaksi berlangsung secara terbuka, melibatkan banyak pelaku pasar dan dilakukan secara berkesinambungan, harga yang terbentuk akan semakin mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya. Dari proses inilah lahir harga referensi yang kredibel," ujar Yazid dalam JFX Journalist Trading Workshop di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, selama ini pelaku usaha masih banyak menggunakan benchmark internasional sebagai acuan harga komoditas. Padahal, Indonesia sebagai produsen utama minyak sawit memiliki peluang besar untuk memperkuat pembentukan harga di dalam negeri sehingga mampu menghasilkan harga referensi yang lebih sesuai dengan karakteristik pasar nasional.

Baca juga : Harga Komoditas Naik, RI Dinilai Perlu Terapkan Windfall Tax

Yazid menegaskan, proses tersebut hanya dapat terwujud jika aktivitas perdagangan di bursa berlangsung aktif.

Semakin banyak transaksi dilakukan melalui mekanisme bursa dengan kontrak yang terstandarisasi dan pencatatan yang transparan, kata dia, maka harga yang terbentuk akan semakin representatif sebagai cerminan kondisi pasar.

Sebagai gambaran, harga acuan global olein yang mengacu pada FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) pada pekan terakhir Juli 2026 naik 3,52 persen, dari 1.135 dolar AS per ton menjadi 1.175 dolar AS per ton dibandingkan pekan sebelumnya.

"Kenaikan tersebut didorong oleh menguatnya harga minyak mentah Brent sebesar 4,23 persen, meningkatnya permintaan dari China, serta ekspektasi pasokan minyak sawit Indonesia yang lebih ketat," jelasnya.

Di tengah dinamika tersebut, aktivitas perdagangan olein di JFX tetap menunjukkan likuiditas yang terjaga. Sepanjang periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026, volume transaksi olein mencapai 67.564 lot dengan nilai sekitar Rp6,85 triliun.

Baca juga : Pemerintah Godok Skema Atasi Kenaikan Harga Komoditas Global, Termasuk Plastik

Menurut Yazid, aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan harga yang semakin aktif melalui mekanisme perdagangan yang transparan.

"Semakin aktif transaksi berlangsung, semakin banyak informasi pasar yang tercermin dalam harga. Bagi pelaku usaha, harga yang terbentuk melalui proses tersebut tidak hanya menjadi acuan dalam melakukan transaksi, tetapi juga menjadi dasar dalam mengelola risiko ketika pasar bergerak sangat dinamis," katanya.

Ia menambahkan, volatilitas harga komoditas global saat ini membuat pelaku usaha menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi. Perubahan harga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pasokan, permintaan global, harga energi, hingga kebijakan di berbagai negara.

Karena itu, pelaku usaha membutuhkan referensi harga yang kredibel sebagai dasar menyusun strategi penjualan, menjaga margin usaha, hingga melakukan lindung nilai terhadap fluktuasi harga.

"Semakin baik proses price discovery, semakin kuat pula dasar pengambilan keputusan bagi dunia usaha," ujarnya.

Baca juga : Duh, Masih Ada Pedagang Menjual Beras Di Atas HET

Selain olein, aktivitas perdagangan komoditas lain di JFX juga menunjukkan tren positif. Sepanjang Juli 2026, transaksi timah ekspor mencapai 2.855 lot dengan nilai sekitar Rp2,66 triliun, di tengah harga acuan timah di London Metal Exchange (LME) yang relatif stabil.

Sementara itu, aktivitas Perdagangan Akses Luar Negeri (PALN) mencatat nilai transaksi sekitar Rp54,45 triliun dengan volume lebih dari 3,92 juta lot pada periode yang sama.

Secara keseluruhan, nilai transaksi perdagangan di JFX sepanjang Juli 2026 mencapai sekitar Rp3.268 triliun yang berasal dari transaksi multilateral, bilateral, dan PALN.

Yazid menilai meningkatnya aktivitas perdagangan tersebut menunjukkan mekanisme bursa semakin dimanfaatkan tidak hanya sebagai sarana transaksi, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan harga yang transparan.

"Ketika proses tersebut semakin kuat, manfaatnya tidak hanya dirasakan pelaku usaha melalui pengelolaan risiko yang lebih baik, tetapi juga mendukung transparansi perdagangan komoditas nasional secara keseluruhan," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.