Dark/Light Mode

Asiana Ubah Sampah Jadi RDF, Soroti Tantangan Sampah Basah di Indonesia

Selasa, 11 Agustus 2026 18:05 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Sampah perkotaan di Indonesia yang didominasi material bercampur dan memiliki kadar air tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam pengolahannya menjadi energi.

Kondisi itu mendorong PT Asiana Technologies mengembangkan teknologi waste-to-fuel yang mengolah sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif bagi industri.

Teknologi tersebut diperkenalkan Asiana Technologies dalam ajang Indo Water, Indo Waste & Recycling, Indo Renergy & Electric, Indo Security, Indo Firex, dan IISMEX 2026 Expo & Forum di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies, Poltak Sitinjak, mengatakan teknologi tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik sampah di Indonesia yang memiliki kadar air relatif tinggi.

Alternative fuel yang bersumber dari solid waste, baik sampah industri, sampah organik maupun sampah perkotaan, setelah kita konversi dapat menjadi energi baru terbarukan yang kita sebut solid fuel,” ujar Poltak kepada media di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Menurut Poltak, RDF yang dihasilkan memiliki nilai kalor lebih dari 3.500 kilokalori per kilogram dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pada industri tertentu.

Ia menjelaskan, bahan bakar hasil pengolahan sampah tersebut dapat digunakan sebagai pendamping batu bara atau co-firing pada fasilitas industri.

Pemanfaatannya tidak harus langsung menggantikan batu bara secara keseluruhan, tetapi dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan teknologi pengguna.

Baca juga : Jakarta Targetkan Sampah Ke Bantargebang Menyusut

Poltak menilai, pengolahan awal diperlukan karena sampah perkotaan di Indonesia umumnya bercampur dan memiliki kandungan air yang tinggi.

Karena itu, sampah perlu diolah terlebih dahulu, termasuk melalui proses pengurangan kadar air, sebelum material yang memenuhi spesifikasi digunakan sebagai bahan bakar.

“Karena kandungan air di sampah-sampah kita di Indonesia itu tinggi. Jadi kami mengusulkan sampah diolah dulu, setelah menjadi bahan bakar baru digunakan di pembangkit atau pabrik yang menggunakan batu bara,” katanya.

Selain teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar, Asiana Technologies memperkenalkan smart container untuk mendukung sistem pengangkutan sampah dari tempat penampungan sementara (TPS).

Poltak mengatakan, satu unit smart container yang dikembangkan memiliki kapasitas hingga 20 ton sampah setelah melalui proses pemadatan.

Sistem tersebut dirancang untuk menampung sampah di TPS sebelum diangkut menggunakan kendaraan khusus ketika kapasitasnya telah terpenuhi.

Menurut dia, pemadatan sampah dapat mengurangi volume sekaligus memisahkan air lindi yang kemudian dapat diolah lebih lanjut. Sistem tersebut juga dilengkapi teknologi pemantauan untuk memberi informasi ketika kapasitas kontainer telah penuh.

“Setelah penuh, ada AI yang memberi tahu operator untuk melakukan penjemputan,” ujarnya.

Baca juga : Inovasi PT Asiana Technologies Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Poltak mengatakan, smart container dapat ditempatkan di TPS sehingga sampah dari lingkungan permukiman terlebih dahulu dikumpulkan di lokasi tersebut.

Selanjutnya, petugas kebersihan memasukkan sampah ke dalam kontainer sebelum diangkut ke lokasi pengolahan atau tempat pemrosesan akhir.

Teknologi tersebut menggunakan sistem kontainer tertutup yang dirancang untuk mengurangi potensi gangguan lingkungan selama proses penampungan.

Menurut Poltak, teknologi yang digunakan berasal dari Eropa, sementara perusahaan menargetkan proses manufakturnya dilakukan di Indonesia dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang diklaim lebih dari 75 persen.

Di sisi pengolahan, Poltak menyebut teknologi waste-to-fuel yang dikembangkan perusahaannya telah diterapkan di Rorotan, Jakarta. Menurut dia, fasilitas tersebut menerima sekitar 2.500 ton sampah per hari untuk kemudian diolah menjadi bahan bakar.

Namun, sejumlah angka dan klaim mengenai kapasitas pengolahan serta hasil produksi tersebut merupakan keterangan dari pihak perusahaan dan masih perlu dilihat berdasarkan data operasional maupun verifikasi dari pihak terkait.

Poltak juga mengatakan, produk bahan bakar hasil pengolahan sampah tersebut diarahkan untuk dimanfaatkan sektor industri, termasuk industri semen.

Dia menyebut, sejumlah perusahaan, di antaranya Solusi Bangun Indonesia dan kelompok usaha Semen Indonesia, sebagai pihak yang telah menggunakan atau menjajaki penggunaan bahan bakar alternatif tersebut.

Baca juga : Bantargebang Tutup Pintu Untuk Sampah Daur Ulang

Menurutnya, peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dari sampah dapat menjadi salah satu opsi untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap batu bara sekaligus membuka pemanfaatan baru terhadap sampah.

Selain Jakarta, Asiana Technologies mengaku tengah menjajaki atau mengembangkan kerja sama pengolahan sampah di sejumlah daerah.

Poltak menyebut, pembicaraan antara lain dilakukan dengan pemerintah daerah di Bekasi, DKI Jakarta, Padang, Palembang, dan Ogan Komering Ulu.

Ia mengatakan model kerja sama yang ditawarkan perusahaan diarahkan pada investasi dan penjualan produk bahan bakar hasil pengolahan sampah kepada industri.

“Pada intinya, kita mengolah sampah di Indonesia dengan teknologi ini tidak menggunakan dana APBD dan tidak meminta tipping fee. Kita menghasilkan bahan bakar dan menjualnya ke industri,” kata Poltak.

Pengembangan teknologi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan pengurangan timbunan di tempat pemrosesan akhir, tetapi juga dapat diarahkan pada pemanfaatan kembali material sampah.

Meski demikian, penerapannya tetap membutuhkan kajian terkait kualitas RDF, standar emisi, keberlanjutan bahan baku, keekonomian, serta kesesuaian dengan regulasi lingkungan dan energi.

Dengan pendekatan tersebut, pengolahan sampah menjadi RDF menjadi salah satu pilihan yang tengah dikembangkan untuk mempertemukan kebutuhan pengelolaan sampah dengan pemanfaatan energi alternatif di sektor industri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.