Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Indonesia dan 7 Negara Kompak Tekan Israel, Dorong Sanksi Atas Permukiman E1
- Andalkan Sayap Macarena, McLaren Incar Hattrick Di Sirkuit Zandvoort
- Hanura Bidik Generasi Muda, Angkat Isu Lapangan Kerja
- Kepala Buperta Buktikan Mampu Jadi Tuan Rumah Perhelatan Pramuka Skala Nasional
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
Asbanda Dorong Penguatan Likuiditas BPD Untuk Dukung Ekonomi Daerah
Jumat, 21 Agustus 2026 14:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) bersama Bank Bengkulu menggelar Seminar Nasional Bank Pembangunan Daerah Seluruh Indonesia (BPD-SI) pada Jumat (21/8/2026). Diskusi membahas penguatan likuiditas BPD dalam mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.
Seminar bertema “Dukungan Pemerintah terhadap Penguatan Likuiditas BPD dalam Meningkatkan Stabilitas Sistem Keuangan Nasional” tersebut digelar di Bengkulu, Jumat, sebagai bagian dari rangkaian Undian Nasional Tabungan Simpeda Tahun XXXVII-2026.
Seminar dibuka Wakil Gubernur Bengkulu Mian dan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fauzi Amro. Turut hadir Ketua Umum Asbanda Agus Haryoto Widodo, Direktur Utama Bank Bengkulu Iswahyudi, jajaran direksi BPD, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Ketua Umum Asbanda Agus Haryoto Widodo mengatakan, kebijakan yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan mempercepat penyaluran dana pemerintah perlu tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem keuangan daerah.
Menurut dia, karakteristik BPD berbeda dengan bank pada umumnya karena struktur pendanaannya berkaitan erat dengan siklus fiskal daerah, mulai dari transfer pemerintah, APBD, pembayaran gaji aparatur sipil negara (ASN), hingga transaksi badan layanan umum daerah (BLUD) dan badan usaha milik daerah (BUMD).
Aset BPD
Agus mengatakan, industri perbankan nasional secara umum masih kuat dengan kondisi likuiditas agregat yang memadai. Namun, kondisi tersebut belum tentu mencerminkan distribusi likuiditas yang merata, termasuk bagi BPD.
Hingga Juni 2026, total aset 27 BPD mencapai sekitar Rp 1.043 triliun, sedangkan total kredit yang disalurkan sekitar Rp 673 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) sekitar Rp 770 triliun.
Baca juga : Ketum Asbanda Dorong Sinergi BPD-BPR dengan Mitigasi Risiko Ketat
Meski secara fundamental BPD berada dalam kondisi sehat, tekanan terhadap sumber pendanaan tetap perlu diantisipasi seiring pertumbuhan fungsi intermediasi dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan di daerah.
“Likuiditas BPD adalah bagian dari kapasitas pembangunan daerah,” kata Agus.
Ia menilai, persaingan penghimpunan dana yang semakin ketat berpotensi meningkatkan biaya dana atau cost of fund (CoF), yang pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan BPD menyediakan pembiayaan dengan harga kompetitif.
Karena itu, Asbanda mendorong kebijakan nasional yang mampu menjaga keseimbangan antara efisiensi di tingkat pusat dan ketahanan keuangan daerah.
Kesetaraan
Asbanda juga mendorong terciptanya level playing field bagi BPD dalam berbagai program dan transaksi pemerintah.
Agus mengatakan,BPD yang memenuhi standar teknologi, tata kelola, kualitas layanan, dan manajemen risiko perlu mendapatkan kesempatan yang setara untuk menjadi bank penyalur maupun mitra pemerintah.
Selain itu, dana pemerintah yang ditempatkan pada BPD sehat diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai instrumen intermediasi produktif di daerah.
Baca juga : Ketum Asbanda: KUB BPD Bukan Sekadar Modal, tapi Kolaborasi IT dan SDM
Penempatan dana tersebut dapat dikaitkan dengan pembiayaan sektor prioritas, seperti UMKM, pangan, perumahan, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur sehingga memberikan efek pengganda terhadap perekonomian daerah.
Sementara itu, Wakil Gubernur Bengkulu Mian menilai BPD perlu terus bertransformasi dan tidak lagi hanya dipandang sebagai bank milik pemerintah daerah. “Kita tidak boleh lagi memandang BPD hanya sebagai bank milik pemerintah daerah. Lebih dari itu, BPD harus menjadi bank yang kompetitif, profesional, sehat, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di era digitalisasi,” ujarnya.
Menurut Mian, penguatan permodalan, peningkatan kualitas layanan, transformasi digital, dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi langkah penting untuk memperbesar peran BPD dalam mendukung perekonomian daerah.
Ia berharap, Bank Bengkulu terus meningkatkan kinerja dan semakin aktif mendukung sektor produktif di Bengkulu.
Tiga Rekomendasi
Anggota DPR RI Fauzi Amro menilai, likuiditas BPD secara nasional masih tebal dan memadai, tetapi tingginya cost of fund menjadi salah satu kerentanan yang perlu diperhatikan.
Menurut Fauzi, tingginya biaya dana antara lain dipengaruhi ketergantungan BPD terhadap dana mahal institusi melalui special rate serta pola dana APBD.
Ia merekomendasikan tiga langkah konkret, yakni BPD segera menyelesaikan konsolidasi Kelompok Usaha Bank (KUB) untuk menjamin kecukupan modal inti dan akses likuiditas intra-grup.
Baca juga : ASBANDA Dorong BPD Bertransformasi Jadi Motor Ekonomi Daerah
Kedua, Tabungan Simpeda perlu dimodernisasi menjadi digital account berbasis aplikasi untuk menjaring nasabah ritel non-ASN sekaligus menekan CoF. Ketiga, BPD perlu membangun platform teknologi dan keamanan siber secara bersama.
Fauzi menegaskan, transformasi BPD tidak cukup hanya mengandalkan dukungan pemerintah dan regulator. Manajemen BPD perlu memperkuat tata kelola, mempercepat digitalisasi, menekan biaya dana, serta meningkatkan pembiayaan bagi UMKM dan sektor produktif di daerah.
“Dukungan dari Pemerintah, DPR RI dan KSSK (Kemenkeu, Bank Indonesia, OJK, dan LPS) akan terus hadir untuk menjaga ketahanan serta stabilitas likuiditas BPD. Namun, kunci utama transformasi dan daya saing BPD tetap berada di tangan manajemen BPD itu sendiri,” katanya.
Fauzi menilai, BPD memiliki posisi strategis sebagai penggerak ekonomi daerah karena tidak hanya menjalankan fungsi intermediasi perbankan, tetapi juga mendukung pembiayaan berbagai sektor produktif dan pembangunan di daerah.
Direktur Utama Bank Bengkulu Iswahyudi mengatakan, seminar tersebut diharapkan menghasilkan pemikiran dan rekomendasi yang dapat disampaikan kepada pemerintah untuk mendukung pembangunan daerah melalui bank pembangunan daerah.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Undian Nasional Tabungan Simpeda Tahun XXXVII-2026 yang diselenggarakan di Bengkulu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya