Dark/Light Mode

Hilirisasi Sawit Buka Peluang UMKM Indonesia Tembus Pasar Ekspor

Senin, 24 Agustus 2026 11:27 WIB
Foto: BPDP.
Foto: BPDP.

RM.id  Rakyat Merdeka - Hilirisasi kelapa sawit dinilai membuka peluang besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas akses ke pasar internasional.

Pengembangan produk turunan sawit yang berorientasi ekspor juga dapat menjadi salah satu strategi untuk mewujudkan industri sawit nasional yang berkelanjutan.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eisha Magfiruha Rachbini mengatakan, potensi pengembangan UMKM berbasis kelapa sawit di Indonesia sangat besar.

Menurut dia, pelaku UMKM dapat mengembangkan beragam produk turunan sawit, mulai dari sektor pangan (oleofood), bahan kimia (oleochemical), hingga bioenergi.

Hingga saat ini, program hilirisasi kelapa sawit telah menghasilkan lebih dari 193 jenis produk turunan.

Perkembangan tersebut memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani, perluasan lapangan kerja, hingga terciptanya efek ekonomi berantai yang lebih luas.

Baca juga : KOWANI-PIM-PPMI Bersatu Lestarikan Budaya Dan Perkuat Ekonomi Perempuan

“Potensi UMKM berbasis kelapa sawit sangat besar. Ke depan perlu ditingkatkan UMKM yang mampu memberikan nilai tambah dari produk atau komoditas kelapa sawit,” kata Eisha di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Eisha mendorong pelaku UMKM berbasis kelapa sawit untuk meningkatkan daya saing dan berani memasuki pasar internasional.

Dia menyebut, kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor nasional saat ini masih relatif rendah, yakni sekitar 15 persen.

Menurut Eisha, komoditas kelapa sawit dapat menjadi salah satu sektor yang mendorong peningkatan kontribusi UMKM terhadap ekspor. Terlebih, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia.

“Kontribusi UMKM terhadap ekspor hanya sekitar 15 persen dan nilainya stagnan, tidak berkembang. Ke depan perlu ditingkatkan,” tuturnya.

Peraih gelar doktoral dalam studi kebijakan ekonomi internasional dari Universitas Waseda, Jepang, tersebut juga mendorong pelaku UMKM menjadi bagian dari rantai pasok global produk berbasis kelapa sawit.

Baca juga : Unjuk Gigi di KKI 2026, 30 UMKM Binaan BI DKI Siap Tembus Pasar Global

Menurutnya, keterlibatan UMKM dalam rantai pasok global dapat mendorong transformasi usaha, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat kualitas produk agar sesuai dengan standar internasional.

“Karena ketika UMKM masuk pasar global, baik menjadi eksportir atau pemasok rantai nilai global, maka akan berproduksi dengan standar dan kualifikasi pasar global. Hal itu akan mendorong UMKM untuk lebih efisien dalam produksi dan mendorong mereka naik kelas,” paparnya.

Eisha meyakini, UMKM berbasis kelapa sawit memiliki peluang untuk memenuhi standar dan kualifikasi pasar global.

Terlebih, program hilirisasi sawit telah menunjukkan keberhasilan dalam meningkatkan nilai tambah (added value) produk secara signifikan. Secara umum, hilirisasi sawit dapat meningkatkan nilai ekonomi produk antara tiga hingga 10 kali lipat.

Bahkan, nilai tambah untuk produk bernilai tinggi seperti vitamin E dan oleokimia tertentu dapat mencapai lebih dari 30 kali lipat.

Meski demikian, Eisha berharap, pemerintah tetap memberikan pendampingan dan dukungan kepada UMKM yang berorientasi ekspor.

Baca juga : Rumah BUMN BRI Antar Keripik Pisang Lokal Tembus Malaysia & Hong Kong

Dukungan tersebut dapat mencakup penguatan kapasitas keuangan, pemberian insentif, hingga bantuan teknis (technical assistance) untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi.

“Tantangan menjadi eksportir cukup besar bagi UMKM. Terlebih, untuk menembus pasar global yang memiliki barrier cukup besar di tengah keterbatasan kapasitas finansial dan produksi dari UMKM,” ingatnya. 

Selama ini, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong pengembangan UMKM berbasis kelapa sawit yang berorientasi ekspor.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat industri sawit nasional sekaligus mendorong pengembangan industri yang berkelanjutan.

Eisha menambahkan, pemerintah dapat memperkuat dukungan kepada UMKM berorientasi ekspor melalui pemetaan pasar potensial, pencarian calon pembeli (potential buyer), serta memfasilitasi business matching antara pelaku UMKM dan mitra usaha di pasar global.

“Perwakilan Indonesia di luar negeri, atase perdagangan, dan ITPC perlu lebih aktif melakukan pemetaan potensi pasar bagi UMKM ekspor,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.