Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,1 persen ke level Rp 17.761 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (2/9/2026) dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.744 per dolar AS.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia mayoritas melemah terhadap dolar AS. Baht Thailand melemah 0,21 persen, yen Jepang turun 0,12 persen, ringgit Malaysia melemah 0,11 persen, dan dolar Taiwan turun 0,11 persen.
Baca juga : Rupiah Menguat Tipis Ke Rp 17.718
Dolar Singapura melemah 0,06 persen, yuan China turun 0,02 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,005 persen. Sementara itu, won Korea Selatan justru menguat 0,18 persen terhadap dolar AS.
Indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama menguat 0,09 persen ke level 99,73. Sementara rupiah menguat 0,23 persen terhadap poundsterling Inggris ke level Rp 23.983 dan menguat 0,25 persen terhadap dolar Australia ke level Rp 12.680.
Baca juga : Awal Pekan, Rupiah Melorot Ke Rp 17.748
Rupiah tercatat stagnan terhadap euro di level Rp 19.975. Pergerakan tersebut terjadi di tengah tekanan dolar AS terhadap mayoritas mata uang kawasan.
Analis pasar uang Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah masih berpotensi tertekan terhadap dolar AS. Tekanan tersebut dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta sejumlah sentimen eksternal lainnya.
Baca juga : Prof Didik: Perbaikan Iklim Investasi Jadi Kunci Perkuat Rupiah
“Kenaikan harga minyak mentah dunia, serta penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS,” kata Lukman, Rabu (2/9/2026).
Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.800 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya