Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- BNI Salurkan Masker Hingga Obat-obatan Bagi Warga Terdampak Erupsi Anak Krakatau
- Lewati Jalan Berlumpur & Minim Sinyal, Kepala Unit BRI Dorong UMKM Naik Kelas
- Kortastipidkor Polri Dukung RUU Perampasan Aset Segera Disahkan
- Menhut Ungkap Arahan Prabowo: Padamkan Karhutla, Selamatkan Satwa
- Mantan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga Meninggal Dunia
Berkontribusi Bagi Masyarakat, MHU Raih Impactful Program Awards 2026
Kamis, 3 September 2026 11:17 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Multi Harapan Utama (MHU), anak usaha MMSGI, kembali mendapat apresiasi atas kontribusinya dalam mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
MHU meraih penghargaan Impactful Program Awards dalam ajang Investortrust CSR Awards 2026 yang digelar di Habitate, Oakwood, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas pendekatan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) MHU yang tidak berhenti pada pemberian bantuan.
Program diarahkan untuk menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang terukur sekaligus membangun kemandirian masyarakat.
Empat inisiatif yang menjadi bagian dari pendekatan tersebut yakni air bersih pasca tambang melalui Pompa Hydram, penguatan BUMDes Payang Sejahtera, penguatan KUBE Koetai Harapan Utama, serta Rumah Cokelat Lung Anai.
Keempat program tersebut menunjukkan MHU mengembangkan potensi masyarakat melalui berbagai pendekatan, mulai dari pemanfaatan aset pascatambang, penguatan kelembagaan ekonomi desa, peningkatan keterampilan, hingga hilirisasi komoditas lokal.
Presiden Direktur MHU Kemal Djamil Siregar mengatakan, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak semata-mata diukur dari besarnya investasi yang diberikan perusahaan, tetapi dari perubahan yang dapat terus berlangsung dan memberi manfaat bagi masyarakat.
"Kami ingin memastikan masyarakat memiliki akses, kemampuan, dan kelembagaan yang dapat tumbuh secara mandiri," kata Kemal dalam keterangannya, Kamis (3/8/2026).
Salah satu program unggulan MHU adalah air bersih pasca tambang melalui Pompa Hydram di Desa Sungai Payang, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Melalui program ini, MHU mengubah kolam atau void pasca tambang menjadi sumber air bersih bagi masyarakat.
Baca juga : MHU Sabet 2 Penghargaan PR di Indonesia Public Relations Awards 2026
Teknologi Pompa Hydram digunakan untuk mengalirkan air dengan memanfaatkan energi kinetis air sehingga tidak membutuhkan listrik maupun bahan bakar.
Infrastruktur yang dibangun terdiri dari tiga unit Pompa Hydram, dua unit hydropur, serta Water Treatment Plant (WTP) berkapasitas 126 meter kubik.
Jaringan distribusinya mencapai lebih dari 3,6 kilometer dan melayani tiga dusun, yakni Donomulyo, Sentuk, dan Rempanga.
Secara keseluruhan, program tersebut telah memberikan akses air bersih kepada 582 kepala keluarga masyarakat sekitar tambang.
Pengelolaan fasilitas juga melibatkan BUMDes Payang Sejahtera agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan program.
"Kami tidak hanya melihat void sebagai bagian dari proses pasca tambang, tetapi sebagai aset yang dapat dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat," ujarnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa proses pasca tambang dapat diarahkan untuk menghasilkan manfaat sosial berkelanjutan sekaligus menjawab kebutuhan dasar masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Dampak pemberdayaan juga terlihat melalui program Penguatan BUMDes Payang Sejahtera yang telah berjalan sejak 2017.
MHU mendorong BUMDes tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi membangun ekosistem usaha yang mampu berjalan secara mandiri.
Pengembangan dilakukan melalui pemetaan potensi lokal, pembinaan, pengembangan unit usaha, hingga dukungan permodalan.
Baca juga : Gandeng Sembcorp, Anak Usaha MMSGI Bangun PLTS 1,032kWp
Sejumlah unit usaha yang berkembang antara lain katering, laundry, housekeeping, pabrik kompos, hingga pengelolaan layanan air bersih melalui WTP.
Dampaknya tercermin dari peningkatan omzet BUMDes Payang Sejahtera dari Rp4,6 miliar pada 2019 menjadi Rp27,6 miliar pada 2023.
Program ini juga mencatat nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,27. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi dapat menghasilkan efek berantai ketika masyarakat memiliki kelembagaan yang mampu mengelola sekaligus mengembangkan potensi ekonomi secara mandiri.
"Target kami bukan membuat masyarakat bergantung pada perusahaan, tetapi membangun institusi ekonomi desa yang mampu berdiri dan berkembang secara mandiri," ujarnya.
Pendekatan serupa diterapkan melalui KUBE Koetai Harapan Utama di Dusun Berhala, Desa Loa Kulu Kota. Kelompok pertukangan kayu tersebut sebelumnya menghadapi keterbatasan peralatan produksi, kualitas produk, dan akses pasar.
MHU kemudian memberikan pelatihan, pendampingan, serta dukungan peralatan yang lebih modern bersama sejumlah mitra. Perubahan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan produksi.
Pada 2019, kelompok tersebut mulai mendapatkan pembinaan dari pemerintah daerah dan dipercaya memasok meja serta kursi untuk sekolah-sekolah di Kutai Kartanegara.
Program tersebut mencatat nilai SROI sebesar 5,23, yang menunjukkan nilai sosial yang dihasilkan dari investasi pemberdayaan masyarakat.
Potensi lokal juga dikembangkan melalui Rumah Cokelat Lung Anai di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu.
Program yang diinisiasi MHU tersebut mengembangkan potensi perkebunan kakao masyarakat adat Dayak Kenyah dengan pendekatan hilirisasi.
Baca juga : Proyek Pompa Hidram MHU Masuk 10 Besar SDG Innovation Accelerator Award 2024
Jika sebelumnya kakao lebih banyak dijual dalam bentuk biji dengan nilai ekonomi terbatas, masyarakat kini didorong mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, seperti cokelat batangan dan bubuk kakao.
Program ini melibatkan Kelompok Tani Lalut Isau, BUMDes, Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara, Yayasan Peduli Desa Nusantara Madani, serta Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara. MHU juga memberikan dukungan terhadap fasilitas pengolahan, termasuk rumah pengering dan mesin pengolahan kakao.
Dampaknya mulai terlihat dari peningkatan nilai ekonomi komoditas tersebut. Lebih dari 100 petani mengalami peningkatan pendapatan hingga lima kali lipat.
Harga kakao kering fermentasi mencapai Rp120.000-150.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp25.000-30.000 per kilogram untuk biji basah.
Di sisi hilir, keterlibatan perempuan juga semakin kuat. Sebanyak 12 perempuan lokal telah terlibat dalam aktivitas pengolahan, membuka ruang ekonomi baru sekaligus memperkuat peran perempuan dalam rantai nilai komoditas kakao.
Bagi MHU, keberadaan perusahaan di tengah masyarakat tidak hanya diukur dari aktivitas operasional, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menciptakan ekosistem yang memungkinkan masyarakat berkembang bersama.
Kemal menegaskan, pendekatan tersebut akan terus menjadi bagian dari arah keberlanjutan MHU.
"Kami percaya program sosial yang baik harus meninggalkan kemampuan, bukan ketergantungan," ujar Kemal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya