Dark/Light Mode

Kerajinan Bambu Jadi Penyongsong Ekonomi Pribumi (Kapanewon Dlingo)

Jumat, 2 Oktober 2026 17:02 WIB
Produk kerajinan bambu khas Kapanewon Dlingo. (Foto: Dok. Pribadi Penulis)
Produk kerajinan bambu khas Kapanewon Dlingo. (Foto: Dok. Pribadi Penulis)

Sisik bunyi lapisan bambu kini tersirat dalam pisau para pengrajin lokal, khususnya di Kapanewon Dlingo, Kalurahan Muntuk. Satu per satu rintisan iratan (bilahan bambu) menjadi simbol harapan bagi penghidupan dan perekonomian keluarga. Setiap simpul anyaman menjadi simpul harapan bagi seorang anak yang akan mengenyam pendidikan. Namun, realitasnya, bagaimana sentral kerajinan bambu dapat mengikuti derasnya arus globalisasi?

Konsep “Gemah Ripah” menjadi ungkapan kepercayaan masyarakat Kapanewon Dlingo akan “ripahnya” kemakmuran alam. Salah satunya adalah konsep gemah ripah melalui sumber daya alam (SDA) bambu. Hal inilah yang menjadi fondasi awal ketika kemakmuran ekonomi mulai dibangun. “Makmur Mujur” menjadi tonggak utama sekaligus awal perjalanan sentral kerajinan bambu khas Kapanewon Dlingo untuk terus diangkat dan dikembangkan.

Namun, apakah sentral kerajinan bambu masih “Makmur Mujur” seperti dahulu? Apakah pertanyaan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu dipikirkan hingga kini?

Gambar 1.1

Kekayaan SDA bambu masyarakat lokal yang menjadi sumber sentral kerajinan bambu masyarakat Kalurahan Muntuk (Foto: Dok. Pribadi Penulis)

Mari kita memulai perbincangan dengan satu kata yang kini terdengar familier, khususnya di kalangan generasi muda.

Baca juga : Film Anak-Anak Bambu Tayang di Hari Anak Nasional, Angkat Kisah Nyata

E-commerce menjadi sebuah konsep yang mungkin terdengar akrab bagi kalangan anak muda saat ini. Lantas, bagaimana dengan orang tua yang sudah berusia lanjut atau sepuh? Dapatkah mereka memahami sekaligus mendalami konsep e-commerce?

Satu lintas pemikiran tersirat dalam lubuk hati penulis. Akankah pengrajin bambu lokal tidak terperosok dalam derasnya arus ketertinggalan di tengah perkembangan media dan globalisasi? Lantas, bagaimana realitasnya dalam lingkup perekonomian lokal?

Kemerosotan kesejahteraan pengrajin bambu kini menjadi urgensi yang perlu mendapat perhatian dan dikaji secara lebih mendalam. Kondisi ini membawa pembaca pada sebuah renungan mengenai urgensi kemerosotan nilai keberagaman budaya, khususnya kerajinan bambu. Keterkaitan tersebut justru turut memberikan beban sekaligus pukulan terhadap perekonomian masyarakat lokal setempat.

Alih-alih hanya membahas ketertinggalan, lantas bagaimana dengan kesejahteraan pendidikan anak bangsa yang orang tuanya sudah “sepuh” dan berprofesi sebagai pengrajin bambu?

Realitasnya, para pengrajin mengalami kemerosotan ekonomi dan sosial yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perkembangan e-commerce dan derasnya arus digitalisasi. Kondisi tersebut turut memengaruhi sistem perekonomian konvensional pedagang setempat yang sempat terperosok jauh dari lumbung kejayaan ekonomi. Lantas, bagaimana pula sistematika sila ke-3 Pancasila yang bernaung dalam kata “Persatuan Indonesia” dapat digerakkan?

Pemikiran inilah yang seharusnya menjadi khazanah dan pondasi dalam kehidupan berpancasila. Nilai sila ke-3 Pancasila seharusnya menjadi pencerminan sekaligus implementasi dalam kehidupan atas dasar “Persatuan Indonesia”.

Baca juga : Bocah 12 Tahun Nyetir Mobil Curian

Sentral kerajinan bambu seyogianya menjadi bahan perenungan mendalam. Multikulturalisme merupakan kekayaan bangsa yang seharusnya dapat dikembangkan hingga menembus kancah internasional.

Selain itu, nilai sila ke-5 juga turut merepresentasikan konsolidasi nilai keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat. Namun, derasnya arus globalisasi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terus bergerak dan memobilisasi keberagaman budaya, termasuk kerajinan bambu.

Representasi kemakmuran melalui aspek komersial e-commerce perlu diberdayakan secara mendalam. Peran promotif dan edukatif pun turut menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian dari generasi muda. Pelatihan pengelolaan e-commerce perlu diberdayakan dan dikukuhkan guna mendongkrak perekonomian serta keberlangsungan budaya masyarakat lokal Kapanewon Dlingo.

Sudah sepatutnya sentral kerajinan bambu dipandang sebagai kekayaan dan keberagaman budaya khas. Keterlibatan dalam upaya pelestarian perlu diintegrasikan dengan pemasaran sehingga dampaknya dapat dirasakan, atau setidaknya dapat diterapkan, dalam pengembangan sentral kerajinan bambu masyarakat Kapanewon Dlingo.

Gambar 1.2

Produk Kerajinan Bambu Pengrajin Lokal Mayarakat Kalurahan Muntuk Yang Mulai Dipublikasikan di E-commerce (Foto: Dok. Pribadi Penulis)

Baca juga : Rakit Bambu Cisadane Tetap Jadi Andalan Warga

Lantas, bagaimana kontribusi nilai-nilai Pancasila lainnya dalam menaungi urgensi globalisasi dalam persoalan ini?

Pada dasarnya, nilai-nilai Pancasila lainnya juga turut merepresentasikan dukungan terhadap kesejahteraan ekonomi lokal, khususnya dalam pengembangan kerajinan bambu Kapanewon Dlingo. Berbagai bentuk implementasi perlu didorong, diusung, dan dipikul secara strategis sebagai wujud kehidupan berpancasila di era digitalisasi saat ini.

Masyarakat percaya bahwa konsep “Gemah Ripah, Makmur Mujur” akan tetap menjadi pondasi budaya masyarakat Kapanewon Dlingo di era digitalisasi. Kini, penulis pun turut percaya bahwa kedua konsep tersebut tetap akan menaungi perjalanan sentral kerajinan bambu di tengah derasnya arus globalisasi.

Demikian “Gemah Ripah, Makmur Mujur” dapat terus dipupuk melalui implementasi konseptual nilai-nilai Pancasila, khususnya bagi generasi kini.

Kini waktunya penulis mengutarakan kepada pembaca mengenai konseptualisasi nilai-nilai Pancasila dalam rasa cinta terhadap budaya untuk menyongsong perekonomian pribumi. Pulihnya sistem perekonomian melalui pandangan yang berbudaya seperti sedia kala menjadi ungkapan mendalam atas rasa dan jiwa berpancasila.

Kini Pancasila hadir dalam kesemakmuran masyarakat pengrajin bambu. Dalam ruas batang bambu, kini serat bambu ikut melahirkan mahakarya. Begitupun nilai Pancasila menemukan jati dirinya. Anyaman bambu pun turut menyatukan dalam tiap helai iratan karyanya. Begitu pula, Pancasila menyenyam persatuannya.

MUTIARA ANNISA MULIA
MUTIARA ANNISA MULIA
Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.