Dark/Light Mode

Wadirut MIND ID Dorong Lampung Perkuat Hilirisasi Komoditas Pertanian

Minggu, 27 September 2026 15:46 WIB
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dr. Dany Amrul Ichdan. (Foto: Ist)
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dr. Dany Amrul Ichdan. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertumbuhan ekonomi Lampung yang terus meningkat dinilai perlu diikuti dengan peningkatan nilai tambah komoditas pertanian agar lebih banyak manfaat ekonomi yang tinggal dan dirasakan masyarakat di daerah.

Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama MIND ID, Dr. Dany Amrul Ichdan, dalam orasi ilmiah pada Rapat Luar Biasa Senat Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serbaguna Unila, Rabu (23/9/2026).

Dany menunjukkan produk domestik regional bruto (PDRB) Lampung meningkat sekitar 3,5 kali dalam 15 tahun, dari Rp 150 triliun pada 2010 menjadi sekitar Rp 523 triliun pada 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Lampung tumbuh 5,28 persen pada 2025, melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera. Namun, kontribusi sektor manufaktur masih berada di kisaran 17–20 persen.

Menurut Dany, peningkatan PDRB tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan struktur pengolahan komoditas di Lampung. “Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja,” ujar Dany.

Ia menyoroti, rantai nilai komoditas yang masih berhenti terlalu awal. Nilai sektor pertanian Lampung mencapai sekitar Rp 150 triliun, sementara berdasarkan paparannya, hanya sekitar Rp 20–30 triliun yang masuk ke industri pengolahan.

Baca juga : Dies Natalis ke-61 Unila, Dua Orasi Soroti Hilirisasi Dan Dampak Riset

Karena itu, ia mendorong, Lampung memperbesar porsi komoditas yang diolah sebelum dipasarkan sehingga penciptaan lapangan kerja dan pendapatan dari proses tersebut lebih banyak terjadi di daerah.

Menurut Dany, modal untuk mengembangkan hilirisasi tersebut tersedia. Kementerian Pertanian mencatat Lampung sebagai sentra ubi kayu terbesar nasional dengan produksi sekitar 7,9 juta ton pada 2024.

Dalam orasinya, Dany juga menyebut nilai ekonomi ubi kayu mencapai sekitar Rp10,6 triliun dan pisang sekitar Rp25,3 triliun. Lampung juga menjadi salah satu sentra utama jagung dan kopi nasional serta memiliki potensi lada hitam.

Besarnya produksi dan nilai komoditas tersebut, menurut dia, perlu diikuti kemampuan menghasilkan produk olahan sekaligus memperluas pasar.

Untuk menjelaskan langkah yang diperlukan, Dany menggunakan kerangka DAI, yakni distinctive, adaptive, dan inclusive.

Distinctive berarti memilih keunggulan yang berangkat dari komoditas Lampung sendiri. Adaptive berarti menyiapkan industri, energi, dan infrastruktur agar mampu mengolah komoditas tersebut. Sementara inclusive berarti memastikan petani memperoleh manfaat yang lebih baik, bukan sekadar menjadi pemasok bahan mentah.

Baca juga : Jaga Kekayaan Mineral, Perkuat Kontribusi Bagi Negeri

Pada aspek adaptive, Dany mengapresiasi arah pengembangan Katibung, Kawasan Industri Lampung II (KAIL II), dan Rejosari.

Katibung direncanakan menjadi kawasan energi terintegrasi dengan usulan kilang berkapasitas 300 ribu barel per hari serta pengembangan bioetanol berbahan baku pertanian. Dalam paparannya, peletakan batu pertama kawasan tersebut ditargetkan pada 2027.

Sementara itu, KAIL II dipersiapkan sebagai kawasan pengolahan berbasis potensi agro, sedangkan Rejosari dijajaki sebagai lokasi industri bioetanol berbahan baku sorgum. Dany menegaskan berbagai rencana tersebut masih harus dibuktikan melalui pelaksanaan di lapangan.

Adapun aspek inclusive dicontohkan melalui pengembangan bed dryer di Pringsewu. Dalam contoh pengeringan gabah berkapasitas besar yang disampaikan Dany, proses yang dilakukan secara manual dan dapat memakan waktu hingga 15 hari diperkirakan bisa diselesaikan dalam 10–12 jam menggunakan mesin.

Gabah yang lebih cepat kering dan dapat disimpan memberikan petani pilihan untuk tidak langsung menjual hasil panen ketika harga kurang menguntungkan. Menurut Dany, contoh tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi juga berkaitan dengan kemampuan petani menjaga mutu sekaligus menentukan waktu penjualan.

Ia menilai, pekerjaan berikutnya bagi Lampung ialah menghubungkan kawasan industri dengan pasokan lokal serta memperbaiki proses pascapanen.

Baca juga : APHI: Pencegahan Karhutla Harus Menyentuh Akar Masalah

Dalam hal tersebut, Unila dapat berperan melalui riset pengolahan, peningkatan mutu produk, dan pengembangan usaha yang menjawab kebutuhan petani serta industri.

Dengan demikian, ukuran kemajuan tidak hanya dilihat dari peningkatan produksi atau berdirinya kawasan industri, tetapi juga dari bertambahnya lapangan kerja dan pendapatan yang diterima masyarakat Lampung.

Dany merupakan alumnus S1 Manajemen Ekonomi Unila tahun 1998. Ia meraih gelar magister pada 2000 dan doktor pada 2011 dari Universitas Padjadjaran. 

Sebelum bergabung dengan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, Dany antara lain pernah memimpin PT Pertamedika–IHC dan PT Pertamedika Sentul.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.