Dark/Light Mode

Dibeberkan Destry di DPR, Ekonomi Tumbuh Kuat

Selasa, 29 September 2026 08:36 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (Foto: Tedy O Kroen/RM)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (Foto: Tedy O Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memaparkan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat di tengah ketidakpastian global. Di tahun ini, ekonomi diperkirakan tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Kemudian di tahun depan naik menjadi 5,2 hingga 6 persen.

Hal itu disampaikan Destry dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (28/9/2026). Rapat dipimpin Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun bersama Wakil Ketua Dolfie OFP, Mohamad Hekal, dan Fauzi Amro. Sementara, Destry ditemani Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman serta tiga Deputi Gubernur BI: Thomas Djiwandono, Filianingsih Hendarta, dan Ricky P Gozali.

Awalnya, tema rapat ini adalah “Evaluasi, dan Arah Prioritas serta Kebijakan Kerja Bank Indonesia ke Depan”. Namun, Misbakhun meminta agar agenda pembahasan difokuskan pada “Arah dan Prioritas Kerja BI” saja. Ia menilai, penggunaan kata "evaluasi" dapat menimbulkan persepsi negatif. Sebab, Komisi XI tidak mengundang BI untuk melakukan evaluasi.

Destry kemudian meminta persetujuan agar pembahasan langsung diarahkan pada kebijakan BI ke depan. Permintaan ini disetujui. 

Dalam paparannya, Destry mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 5,2 hingga 6 persen pada 2027. Proyeksi ini telah disampaikan BI dalam pembahasan asumsi ekonomi makro RAPBN 2027.

Baca juga : AS Tolak Syarat Damai Iran, Harga Minyak Makin Melejit

"Saya gambarkan, prospek ekonomi 2026 secara global itu memang agak gloomy (muram), tapi di 2027 diperkirakan akan ada perbaikan," ujarnya.

Destry menjelaskan, investasi menjadi salah satu komponen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. BI memperkirakan, pertumbuhan investasi 2027 berada di kisaran 6,3 hingga 7,1 persen.

Ia berharap, investasi swasta ikut meningkat, termasuk investasi yang bersumber dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya mengandalkan belanja Pemerintah.

Komponen selanjutnya adalah konsumsi rumah tangga, belanja Pemerintah, ekspor dan impor. "Konsumsi rumah tangga masih tetap menjadi salah satu key driver dalam pertumbuhan ekonomi kita," ucap Destry.

Ia mengakui, ketidakpastian geopolitik turut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas dunia, terutama minyak dan gas. Kenaikan itu kemudian memberikan tekanan terhadap inflasi global. Makanya, bank sentral di berbagai negara cenderung mempertahankan kebijakan moneter yang ketat untuk menjaga inflasi. Situasi ini kemudian berdampak terhadap arus modal, terutama di negara-negara berkembang.

Baca juga : Bestari Barus: Pengaruh Jokowi Di PSI Sangat Besar

Destry menyebut, investor cenderung memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar Amerika Serikat dan emas. 

"Jadi kesimpulannya, di global ini kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer. Pada akhirnya ini akan memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait dengan aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia," tuturnya.

Destry kemudian membeberkan arah dan prioritas kebijakan bank sentral ke depan. BI akan memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, sektor riil, serta penciptaan lapangan kerja.

“Prioritas kebijakan Bank Indonesia akan kami bagi menjadi tiga bagian, yaitu kebijakan utama, kemudian kebijakan pendukung, dan kebijakan kelembagaan,” ujar Destry.

Pada kebijakan moneter, lanjut Destry, BI akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa dan menjaga kecukupan likuiditas. BI juga memperluas repo operasi moneter menggunakan surat berharga non-Surat Berharga Negara (SBN). Fasilitas repo non-SBN telah dimulai melalui surat berharga SMF. BI akan memperluas fasilitas tersebut ke surat berharga SMI mulai Oktober 2026.

Baca juga : Adi Prayitno: Tantangan Utama PSI Adalah Mesin Politik

Pada kebijakan makroprudensial, BI akan memperkuat pengawasan secara digital dan melanjutkan inovasi untuk mendorong intermediasi. Fokusnya adalah meningkatkan penyaluran kredit dan pembiayaan ke kegiatan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Pada sistem pembayaran, BI akan memperluas pembayaran lintas negara atau cross-border payment. BI juga akan mendorong inovasi aset keuangan digital, memperkuat perlindungan konsumen, dan mengembangkan talenta digital melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI).

Untuk kebijakan internasional, BI akan memperluas penggunaan mata uang lokal melalui local currency transaction (LCT). Likuiditas renminbi dan yen juga akan diperkuat, disertai perluasan instrumen hedging bagi investor dan pelaku pasar.

Destry memastikan, seluruh kebijakan tersebut akan dijalankan secara terintegrasi dengan Pemerintah dan lembaga terkait. Fokus BI tetap menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan agar lebih impactful, inklusif, dan integratif yang tentunya ini ditopang dengan penguatan sinergi kebijakan dengan pemerintah ataupun dengan lembaga lainnya, untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Destry.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.