Dark/Light Mode

Ekonomi Rakyat Sedang Kurang Baik

Ada Fenomena “Downgrade” Gaya Hidup

Kamis, 1 Oktober 2026 08:54 WIB
Ilustrasi downgrade gaya hidup masyarakat. (Gambar dibuat dengan ChatGPT)
Ilustrasi downgrade gaya hidup masyarakat. (Gambar dibuat dengan ChatGPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada fenomena menarik di masyarakat yang patut jadi perhatian Pemerintah. Untuk menggambarkan kehidupannya yang sedang tidak baik-baik saja, mereka ramai-ramai menurunkan gaya hidup alias downgrade.

Di media sosial, fenomena downgrade gaya hidup ramai jadi perbincangan. Contohnya akun @w******* di thread mengaku menurunkan kelas mobilnya. "In this economy, apa yang sudah kalian downgrade. Me: jual HRV, beli lCGC. Nggak apa-apa ya yang penting fungsinya sama," tulisnya.

Akun @a********** mengaku melakukan hal serupa. "Dulu punya mobil Cortez dan rumah cluster, sekarang tinggal di rumah mertua dan kerja naik motor Shogun tua," akunya.

Akun @t******** lebih miris. Dia curhat, berbagai asetnya harus dijual karena kondisi ekonomi yang tidak baik.

Baca juga : Tegur Anak Buah Bergaya Hidup Mewah, Qodari Kasih Contoh Pakai Jam Seiko

"Dulu Innova Reborn, XL7, dan Avanza. Sisa Avanza saja. Rumah masih di cluster, tapi 2 apartemen dan rumah di Bogor lenyap. Dulu manager sekarang driver online. Dulu beristri sekarang diceraikan. Kurang apa lagi ya?" curhatnya.

Kondisi ini sejalan dengan hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dilakukan Juli 2026. Hasil survei ini ditautkan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi di akun X @burhanuddinmuhtadi, 3 September 2026.

Hasil survei itu menunjukkan, lebih dari 49 persen masyarakat Indonesia tak bisa menabung dari penghasilannya. Bahkan, sebanyak 16,4 persen pendapatannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehingga harus berutang. Kemudian 11,7 persen tidak mampu memenuhi kebutuhan dan terpaksa harus mengambil tabungan. Sedangkan masyarakat yang mengaku bisa menabung dari pendapatannya sebesar 20,3 persen. 

Burhan juga menyebut telah terjadi pergeseran pola pertahanan hidup masyarakat yang membuat miris. "Temuan survei @indikator: responden yang sebelumnya makan tabungan (mantab) bergeser ke makan utang (maut)," tulisnya.

Baca juga : Niti Emiliana: Momentum Pemerintah Perkuat Informasi Produk

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebut, ekonomi rakyat memang sedang tidak baik-baik saja. Indikatornya sangat jelas. Jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mencapai 50 ribu orang, suku bunga naik, dan inflasi bahan makanan tembus 4,2 persen per Agustus.

"Makin banyak masyarakat bertahan dengan utang. Inflasi mulai meningkat dan menekan pengeluaran rumah tangga. Wajar masyarakat sekarang melakukan survival mode atau bertahan hidup dengan downgrade gaya hidup," ulas Bhima, saat dihubungi Rakyat Merdeka, Rabu (30/9/2026).

Ia mengatakan, fenomena ini berdampak ke siklus bisnis yang turun. Kata dia, ketika permintaan barang seperti mobil melemah, terjadi PHK di sektor otomotif. Kemudian menyebabkan daya beli turun lebih tajam. "Kalau tidak bisa lagi downgrade maka turun jadi orang miskin," ucapnya.

Untuk mengatasi masalah ini, ia menyarankan Pemerintah menebar stimulus besar-besaran ke kelompok menengah. Di antaranya melalui pemangkasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 8 persen, seperti yang dilakukan Vietnam.

Baca juga : Irma Suryani Chaniago: BPOM Harus Tegas Melarang Beredar

Selain itu, Bhima meminta agar Pemerintah mulai merealokasi anggaran ke sektor yang efektif untuk mengerek perekonomian. "Geser anggaran MBG ke belanja yang lebih produktif. Misalnya, pengembangan kawasan industri," sarannya. MEN/FAQ

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.