Dark/Light Mode

Temuan BPS: Beras Melimpah, Harganya Naik

Jumat, 2 Oktober 2026 08:31 WIB
Pekerja mengangkat karung beras di Gudang Bulog, Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Pekerja mengangkat karung beras di Gudang Bulog, Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan anomali di sektor perberasan. Stok beras melimpah, tapi harganya justru naik.

Data di Perum Bulog menunjukkan, stok beras nasional mencapai 4,5 juta ton. Panen di sejumlah daerah juga tetap berlangsung meski sedang ada El Nino. BPS memproyeksikan, produksi beras sepanjang September-November mencapai 7,06 juta ton.

Namun, harga beras justru naik. BPS menyebut, harga beras di tingkat penggilingan sepanjang September 2026 rata-rata naik 0,81 persen secara Agustus 2026, jika dibandingkan dengan September 2025, kenaikannya lebih tinggi lagi, mencapai 6,04 persen.

Dari sisi jenis, kenaikan tertinggi secara tahunan terjadi pada beras premium. Harga beras premium di tingkat penggilingan naik 0,81 persen secara bulanan dan melonjak 10,52 persen secara tahunan. Sementara, harga beras medium di tingkat penggilingan naik 0,87 persen secara bulanan, dan naik 4,72 secara tahunan.

Baca juga : Ada Fenomena “Downgrade” Gaya Hidup

Kenaikan juga terjadi pada tingkat grosir. BPS mencatat, harga beras di tingkat grosir merangkak naik 0,61 persen secara bulanan dan 4,93 persen secara tahunan. Di tingkat pengecer, harga beras naik 0,80 persen secara bulanan dan 3,73 persen secara tahunan.

"Sebagai informasi, harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai kualitas dan mencakup di seluruh wilayah Indonesia," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, dalam rilis data BPS, di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Ia menyebut, kenaikan terjadi karena pasokan di tingkat hulu mulai berkurang. "Terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan beras setelah berakhirnya masa puncak panen raya," ujarnya.

Selain siklus panen, kondisi cuaca turut memengaruhi pasokan. Ateng mengatakan, El Nino membatasi aktivitas tanam petani di sejumlah sentra produksi. "Sehingga ada pasokan gabah yang masuk ke penggilingan menjadi ada hambatan terbatas," katanya.

Baca juga : Tegur Anak Buah Bergaya Hidup Mewah, Qodari Kasih Contoh Pakai Jam Seiko

Sebelumnya, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Hermawan menyatakan, kenaikan beras di pasaran terjadi karena ulah oknum yang memainkan harga. “Istilah Pak Kepala Bapanas, mafia yang memanfaatkan kondisi saat ini untuk menaikkan harga," ungkapnya, Rabu (30/9/2026). 

Ia menyebut, saat ini ada keterbatasan stok beras di ritel modern imbas ulang sebagian produsen yang menyalurkan beras fortifikasi abal-abal. Setelah kedapatan bermasalah, produsen tersebut tak boleh lagi memproduksi beras fortifikasi.

Hermawan meyakini, stok dan harga beras di berbagai pasar tradisional masih memadai. "Beras premium dan medium di pasar tradisional itu banyak. Yang jadi masalah memang di ritel modern," ucapnya.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Amran Sulaiman memastikan akan mengejar mafia beras. Ia menyebut, telah ada 102 tersangka yang ditindak Satgas Pangan Polri sepanjang 2024 hingga 2026 atas berbagai praktik yang merugikan kepentingan pangan nasional.

Baca juga : 196 Orang Jadi Tersangka, 96 Korporasi Diduga Terlibat

“Mafia kita beresin. Ini ada mafia, ada 102 tersangka. Presiden perintahkan, kirim ke neraka, (saya jawab) ‘siap Bapak Presiden’," ucap Amran.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.