Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Warisan Keterampilan Leluhur Terancam Punah
Krisis Regenerasi, Perajin Batik Indonesia Menyusut
Jumat, 2 Oktober 2026 06:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Jumlah perajin batik di Indonesia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPI), jumlah perajin batik periode 2019-2023 turun sekitar 20 persen, dari 131.000 orang menjadi 105.000 orang.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, regenerasi perajin menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlangsungan batik sebagai identitas dan kekayaan budaya Indonesia.
“Budaya batik di Indonesia memiliki peranan besar sebagai identitas dan kekayaan budaya sampai dengan nilai ekonomi,” kata Faisol saat Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (30/9/2026).
Menurut Faisol, karakteristik batik yang membutuhkan keterampilan tangan berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, sekaligus menopang perekonomian keluarga di berbagai daerah.
Selain itu, perkembangan tren fashion membuat batik semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan batik tidak lagi terbatas pada acara formal, seiring meningkatnya minat generasi muda terhadap berbagai produk dengan motif batik.
Namun, perkembangan pasar tersebut belum sepenuhnya diikuti ketersediaan perajin. Penurunan jumlah perajin dapat mengancam keberlanjutan keterampilan membatik yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga : Layanan Bus Transjakarta Harus Dijamin Lebih Baik
Faisol mengatakan, jika permasalahan regenerasi ini tidak segera ditangani, maka keterampilan dan warisan leluhur membatik dikhawatirkan akan menjadi ancaman ke depan.
“Melalui HBN ini, kami berharap dapat meyakinkan generasi penerus untuk menumbuhkan kebanggaan dalam membeli batik maupun memberikan inspirasi menjadi pembatik,” harapnya.
Menurut Faisol, selain regenerasi, industri batik menghadapi persaingan dari produk kain bermotif batik yang dibuat menggunakan teknik cetak atau printing. Perkembangan teknologi memungkinkan produk tersebut dibuat dengan kualitas semakin baik dan harga lebih terjangkau.
Kondisi tersebut membuat masyarakat berpotensi kesulitan membedakan batik yang dibuat melalui proses tradisional dengan kain bermotif batik hasil printing.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan industri batik. Masyarakat perlu memahami batik tidak hanya berdasarkan motif, tetapi juga proses pembuatan, keterampilan tangan dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
“Sudah saatnya kita memastikan agar batik tidak hanya dikenal sekadar dari motifnya, melainkan dihargai dari proses, keterampilan tangan, serta nilai budaya leluhur yang menyertainya,” tegas Faisol.
Baca juga : Ronaldo Angkat Kaki Dari Timnas Portugal
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melihat diversifikasi produk sebagai salah satu langkah penting untuk mengembangkan industri batik nasional.
Pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik didorong mengembangkan produk jadi. Mulai dari fashion siap pakai (ready-to-wear), aksesori, hingga produk kriya yang sesuai dengan gaya hidup modern.
Faisol mengatakan, kolaborasi antara IKM batik dengan desainer dan akademisi juga diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam menciptakan produk yang lebih beragam.
“Dengan variasi produk yang semakin beragam, kita akan mampu menjawab tren dan kebutuhan pasar dari berbagai segmen tanpa kehilangan identitas aslinya,” ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Selain diversifikasi, standardisasi produk menjadi perhatian dalam pengembangan industri batik. Standardisasi diperlukan untuk menjaga konsistensi mutu, sekaligus memberikan jaminan terhadap kualitas dan keaslian produk.
Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah Batikmark, antara lain berkaitan dengan mutu fisik dan ketahanan warna produk batik. Penerapan standar tersebut juga membantu konsumen mengenali karakteristik produk batik yang memenuhi ketentuan mutu.
Baca juga : Kejutan Di Sirkuit Sepang, Mercedes Pakai Livery Khusus...
Dalam rangkaian Puncak Pameran HBN 2026, Kemenperin menyelenggarakan sejumlah kegiatan pada 30 September-4 Oktober 2026 di Atrium Plaza Tunjungan 3, Surabaya. Kegiatan tersebut meliputi kuliah umum, talkshow, workshop dan penyerahan Batikmark kepada IKM. Pameran industri batik itu melibatkan lebih dari 40 peserta.
Sebelumnya, Kemenperin juga telah melaksanakan program pembinaan IKM batik, antara lain melalui fasilitasi Batikmark dan pendampingan diversifikasi produk.
Faisol menekankan, pengembangan industri batik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Mulai dari Pemerintah Pusat dan daerah, asosiasi, pelaku industri, akademisi, komunitas, perbankan hingga media.
“Keberhasilan dalam membangun ekosistem industri batik yang tangguh, mandiri dan berdaya saing tinggi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat antar pemangku kepentingan,” tuturnya.
Selain itu, pelestarian batik juga perlu dilakukan melalui pendekatan kreatif agar semakin dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Kehadiran batik di ruang publik melalui kegiatan yang unik dan kreatif dapat memperkuat posisi batik sebagai bagian dari identitas sekaligus gaya hidup sehari-hari. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Jumat, 2 Oktober 2026 dengan judul "Warisan Keterampilan Leluhur Terancam Punah Krisis Regenerasi, Perajin Batik Indonesia Menyusut"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya