Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Airlangga: Inflasi Terjaga & Neraca Perdagangan Surplus
Fondasi Ekonomi Menguat, Tiga Indikator Jadi Bukti
Sabtu, 3 Oktober 2026 06:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perkembangan positif memasuki kuartal IV-2026. Inflasi masih berada dalam sasaran, neraca perdagangan kembali mencatatkan surplus dan aktivitas manufaktur kembali masuk zona ekspansi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Kamis (1/10/2026), menunjukkan inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Sementara inflasi inti tercatat 2,84 persen secara tahunan.
Di sektor perdagangan, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 3,55 miliar dolar AS atau sekitar Rp 63,5 triliun pada Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan surplus 0,12 miliar dolar AS (Rp 2,1 triliun) pada Juli 2026.
Secara kumulatif, surplus perdagangan Januari-Agustus 2026 mencapai 7,25 miliar dolar AS atau sekitar Rp 129,6 triliun. Sedangkan indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2026 meningkat menjadi 52,4 dari 49,8 pada bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut membawa aktivitas manufaktur kembali ke zona ekspansi, sekaligus mencatat perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, perkembangan ketiga indikator tersebut menunjukkan fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian global.
“Pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi,” kata Airlangga seperti keterangan tertulis, Jumat (2/10/2026).
Baca juga : Kemarau, Sampah & Rumput Kering Mudah Tersambar Api
Menurut Airlangga, terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya manufaktur, serta tetap tumbuhnya ekspor menjadi bagian penting dari kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi, dan meningkatkan aktivitas industri.
Meski demikian, tekanan harga pangan masih menjadi perhatian. Inflasi kelompok volatile food atau harga pangan bergejolak tercatat 5,03 persen secara tahunan pada September 2026.
Pemerintah menyebut tekanan tersebut dipengaruhi dinamika permintaan, serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino dan bencana alam.
Kinerja ekspor non-minyak dan gas (migas) masih menjadi penopang utama surplus perdagangan. Sepanjang Januari-Agustus 2026, ekspor besi dan baja mencapai 19,18 miliar dolar AS atau sekitar Rp 343 triliun, meningkat 4,88 persen.
Ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya mencapai 17,75 miliar dolar AS (Rp 317,5 triliun). Sementara ekspor batubara mencapai 16,58 miliar dolar AS (Rp 296,5 triliun).
Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen. Kondisi ini menunjukkan aktivitas hilirisasi dan industri pengolahan masih berkontribusi terhadap kinerja perdagangan nasional.
Dari segi impor, bahan baku dan barang penolong mencapai 133,38 miliar dolar AS (Rp 2.385 triliun). Sementara impor barang modal mencapai 36,74 miliar dolar AS (Rp 657,1 triliun). Keduanya menyumbang sekitar 91,3 persen dari total impor Januari-Agustus 2026.
Baca juga : Portugal Tajam Tanpa Ronaldo
Kenaikan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 15,2 persen, serta mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 22,94 persen juga menunjukkan kebutuhan produksi dan investasi domestik tetap berjalan.
Perbaikan aktivitas manufaktur turut terlihat dari pertumbuhan pesanan baru pada September 2026 yang mencapai laju tercepat sejak Februari. Pesanan ekspor juga mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.
Peningkatan produksi mulai diikuti penyerapan tenaga kerja. Pembelian dan persediaan input turut meningkat. Sementara tekanan harga input dan output melambat ke level terendah dalam enam bulan.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah kebijakan untuk memastikan perbaikan indikator ekonomi berdampak pada masyarakat. Di antaranya penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) tahap III, bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan pada Oktober-Desember 2026, serta percepatan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menambahkan, ekonomi Indonesia masih akan tumbuh kuat dan berkelanjutan di tengah dinamika global.
Menurutnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengoordinasikan sektor prioritas dan inisiatif strategis dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi untuk periode 2025-2029.
Di sektor manufaktur, Pemerintah menyiapkan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, industri semikonduktor, serta revitalisasi industri padat karya.
Baca juga : Injak Usia 45 Tahun, Adrenalin Alonso Masih Menyala
Pada sektor ekonomi digital, Pemerintah menyiapkan pembangunan pusat data (data center) di salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Sedangkan di sektor energi, kebijakan diarahkan untuk memperkuat keamanan energi dan meningkatkan penggunaan energi bersih.
Percepatan produktivitas juga dilakukan melalui sejumlah program untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), seperti Program Vokasi dan Program Magang Nasional.
Pemerintah juga meningkatkan akses pembiayaan bagi sektor produktif dan berorientasi ekspor. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Sabtu, 3 Oktober 2026 dengan judul "Airlangga: Inflasi Terjaga & Neraca Perdagangan Surplus Fondasi Ekonomi Menguat, Tiga Indikator Jadi Bukti"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya