Dark/Light Mode

Di Saat Dunia Dilanda Perang

Stok Beras Aman, BBM Cukup Untuk 20 Hari

Senin, 12 Oktober 2026 08:00 WIB
Ilustrasi stok beras dan BBM di dalam negeri dalam kondisi aman. (Foto: AI/Gemini)
Ilustrasi stok beras dan BBM di dalam negeri dalam kondisi aman. (Foto: AI/Gemini)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah dunia yang sedang dilanda perang, Pemerintah memastikan stok pangan dan energi di dalam negeri dalam kondisi aman. Stok beras mencapai 4,5 juta ton, sedangkan stok BBM cukup untuk 18–20 hari.

Situasi global memanas akibat perang Rusia dengan Ukraina serta konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Kondisi ini turut diperburuk oleh konflik Arab Saudi dengan kelompok Houthi.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menyebut perang Rusia dan Ukraina telah mengganggu pasokan pangan dan energi. Sementara itu, konflik AS dan Israel dengan Iran turut memicu gejolak harga energi dan pupuk, terutama akibat penutupan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur vital perdagangan energi dunia.

“Kami menemukan harga barang kebutuhan pokok terus meningkat,” demikian pernyataan IMF dikutip dari The Manila Times, Minggu (11/10/2026).

Saat ini, rumah tangga di seluruh dunia berjuang mati-matian menghadapi peningkatan biaya hidup. Kenaikan upah tidak mampu mengimbangi tekanan harga yang tiada henti.

Baca juga : Karhutla Bikin Rakyat Menderita

IMF bahkan memproyeksikan inflasi global sepanjang 2026 mencapai 4,7 persen, meningkat dibandingkan realisasi 2025 sebesar 4,1 persen. Kenaikan harga tersebut berpotensi semakin membebani ekonomi rakyat jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.

Menghadapi ancaman tersebut, Pemerintah mengandalkan penguatan cadangan pangan domestik untuk menjaga pasokan dan menekan impor. Perum Bulog saat ini memiliki stok beras hingga 4,5 juta ton melalui penyerapan gabah dan beras dalam skala besar sepanjang tahun.

“Untuk serapan Bulog sampai dengan Jumat (9/10/2026) totalnya sudah mencapai 4,11 juta ton,” ujar Rizal dalam konferensi pers Pengadaan 4 Juta Ton Beras di kantor Bulog, Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Menurut dia, penguatan cadangan beras menjadi langkah penting untuk memastikan kebutuhan pangan nasional terpenuhi, terutama ketika negara-negara produsen juga berupaya mengamankan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri masing-masing.

Rizal mengingatkan, Indonesia tidak bisa sepenuhnya mengandalkan impor apabila terjadi kekurangan pasokan beras. Pasalnya, negara pemasok beras seperti India, Vietnam, dan Thailand juga menghadapi tantangan produksi akibat fenomena iklim.

Baca juga : Korban PHK Tembus 63 Ribu Orang, Ciptakan Lapangan Pekerjaan Secepatnya

Sementara itu, dari sektor energi, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman memastikan, ketahanan stok BBM nasional berada pada kisaran 18–20 hari. Pemerintah juga terus mengantisipasi kendala distribusi yang berpotensi mengganggu ketersediaan BBM di sejumlah wilayah.

Laode menjelaskan, antrean BBM di beberapa daerah tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan stok, tetapi juga dipengaruhi kondisi geografis dan jalur distribusi. Kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino, misalnya, menghambat pengangkutan BBM melalui jalur sungai.

Meski demikian, Laode sebelumnya mengakui bahwa perang di Timur Tengah telah mengganggu sumber pasokan energi Indonesia. Sekitar 25 persen sumber impor BBM disebut hilang akibat konflik tersebut.

Untuk mengatasi persoalan itu, Pemerintah bersama Pertamina melakukan pendekatan langsung atau hunting pasokan ke sejumlah negara yang masih memiliki stok. Strategi tersebut ditempuh karena proses pengadaan melalui mekanisme lelang yang biasa digunakan Pertamina relatif sepi peserta.

“Kita cari negara yang punya stok, kita beli,” katanya.

Baca juga : Kasus Motor Listrik MBG, Kejagung Ungkap Nilai Kerugian Rp 863,8 Miliar

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengamini, perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah telah berdampak terhadap pasokan pangan dan energi global. “Oleh karena itu, produksi pangan dan energi harus dimaksimalkan,” ujar Faisal saat dihubungi Rakyat Merdeka, Minggu (11/10/2026).

Menurut Faisal, Pemerintah perlu memperkuat ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi negara mitra. Dengan menjalin kerja sama dengan lebih dari satu negara pemasok, Indonesia memiliki alternatif sumber pasokan apabila terjadi gangguan di negara tertentu.

Faisal juga menekankan pentingnya pemberian insentif bagi produsen pangan, termasuk petani, agar produksi dalam negeri meningkat dan risiko kekurangan pangan dapat ditekan. “Ini yang harus menjadi prioritas,” pungkasnya. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.