Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kemendag Gandeng Nestle, Target Ekspor Minimal Rp 10 Triliun Dalam 3 Tahun
Kamis, 15 Oktober 2026 18:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Perdagangan (Kemendag) melepas ekspor produk kopi siap minum (ready-to-drink atau RTD) PT Nestlé Indonesia ke Australia, Kamis (15/10/2026).
Ekspor ini menjadi bagian dari rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 sekaligus upaya memperkuat ekspor produk manufaktur Indonesia ke pasar global. Pada kesempatan yang sama, Kemendag menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Nestlé Indonesia.
Melalui kerja sama ini, Nestlé berkomitmen melakukan ekspor dengan nilai minimal Rp 10 triliun selama tiga tahun ke depan.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan, pelepasan ekspor ke Australia tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas pemasaran produk Indonesia ke berbagai negara.
Menurutnya, keberadaan Nestlé selama lebih dari 50 tahun di Indonesia turut membantu pengembangan produk lokal agar mampu memenuhi standar internasional.
“Secara simbolis kita melepas ekspor ke Australia, tetapi sebenarnya kita juga melakukan ekspor ke berbagai negara untuk produk kopi dari Indonesia,” kata Budi di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Kamis (15/10/2026).
Budi mengapresiasi investasi dan kemitraan Nestlé yang dinilai berkontribusi terhadap pengembangan kapasitas pelaku usaha lokal. Kerja sama tersebut juga melibatkan petani kopi, peternak sapi perah, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca juga : UE-China Negosiasi Dagang, Batasi Ekspor Mobil Listrik
“Terima kasih banyak karena kehadiran Nestlé justru bisa mengembangkan produk-produk lokal yang berstandar internasional,” ujarnya.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi menjelaskan, komitmen ekspor minimal Rp 10 triliun dalam tiga tahun merupakan salah satu poin utama kerja sama tersebut. Nilai ekspor itu masih berpeluang meningkat seiring perluasan pasar dan penguatan rantai pasok.
“Inti kerja sama ini adalah yang pertama komitmen daripada Nestlé untuk melakukan ekspor, minimal itu Rp10 triliun selama tiga tahun. Nah, tentunya ini bisa lebih tinggi lagi,” ujar Fajarini.
Menurut Fajarini, kerja sama tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekspor, tetapi juga penguatan daya saing petani dan produktivitas komoditas pertanian dalam negeri.
Upaya ini sejalan dengan program Desa Bisa Ekspor yang bertujuan meningkatkan kapasitas petani agar produk mereka mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Melalui kemitraan dengan perusahaan berskala global seperti Nestlé, produk pertanian lokal diharapkan dapat masuk ke jaringan rantai pasok internasional. Dengan begitu, petani tidak hanya didorong meningkatkan produksi, tetapi juga memperoleh akses pasar yang lebih luas.
“Yang paling penting, dengan kerja sama ini, kami ingin memperkuat bagaimana meningkatkan daya saing petani,” katanya.
Baca juga : Ekspor Nikel Ditargetkan Tembus USD 45 M pada 2026, Bahlil Andalkan Hilirisasi
Fajarini menambahkan, penguatan rantai pasok tersebut berpotensi membuka peluang ekspor bagi berbagai komoditas pertanian Indonesia, mulai dari kopi, kakao, kelapa, santan, hingga rempah-rempah.
Pemerintah berharap program pembinaan dan peningkatan produktivitas dapat membantu produk-produk tersebut memenuhi standar pasar internasional sekaligus memperluas akses kepada pembeli di luar negeri.
“Tentu kita berharap dengan perjanjian kerja sama ini, bisa memberikan dampak yang sangat positif terhadap produk-produk Indonesia, khususnya yang berbasis pertanian ya, seperti kopi, cokelat, dan juga kelapa ya,” jelasnya.
Sementara itu, CEO Nestlé Indonesia Georgios Badaro mengatakan, volume ekspor produk jadi Nestlé dari empat pabriknya di Indonesia diperkirakan melampaui 50.000 ton hingga akhir 2026. Produk tersebut akan dipasarkan ke lebih dari 30 negara yang tersebar di tiga benua.
“Kami dengan senang hati menyampaikan bahwa pada akhir tahun ini, ekspor produk jadi kami akan melebihi 50.000 ton, itu dari keempat pabrik kami yang ada di Indonesia,” kata Georgios.
Ia menilai dukungan Pemerintah, khususnya Kemendag, berperan penting dalam mendorong peningkatan ekspor produk Nestlé dari Indonesia. Selain dukungan kebijakan, kualitas dan daya saing produk menjadi faktor utama dalam mempertahankan kepercayaan pasar internasional.
“Hal penting bagi pasar impor adalah dua hal: kualitas dan daya saing produk,” ujarnya.
Baca juga : Sepakati Pasokan Baja 30.000 Ton, Krakatau Steel Perkuat Pasar Ausie-New Zealand
Dukungan terhadap petani lokal juga menjadi bagian dari rantai pasok Nestlé di Indonesia. Direktur Corporate Affairs PT Nestlé Indonesia, Fajar Dewantara mengatakan, selama puluhan tahun perusahaan telah membina ribuan petani kopi, terutama di Lampung.
“Nestlé sudah lebih dari 30 tahun membina petani kopi di Indonesia, khususnya di wilayah Lampung. Jumlahnya kira-kira sampai sejauh ini ada sekitar 12.500 petani kopi yang ada di dalam kelompok binaan Nestlé,” sebut Fajar.
Selain petani kopi, Nestlé juga menjalankan program pembinaan bagi peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur. Program tersebut telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun untuk mendukung pengembangan komoditas susu dalam negeri.
"Program seperti ini sebetulnya tidak hanya untuk komoditas kopi, tapi juga untuk komoditas susu sapi perah rakyat di Jawa Timur, itu pun sudah kita bina lebih dari 50 tahun,” ujarnya.
Melalui kerja sama ini, Kemendag dan Nestlé berharap peningkatan ekspor dapat berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas petani, peningkatan produktivitas pertanian, serta perluasan akses produk lokal ke pasar global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya