Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pengamat: Indonesia Perlu Tangkap Peluang Relokasi Investasi dari Teluk
Kamis, 15 Oktober 2026 18:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Konflik berkepanjangan di Timur Tengah dinilai berpotensi memicu pergeseran arus investasi dari negara-negara Teluk ke kawasan yang lebih aman, termasuk Asia Tenggara. Indonesia perlu menangkap peluang tersebut untuk menarik modal asing yang dapat memperkuat perekonomian nasional.
Pengamat Ekonomi Syariah Universitas Paramadina Imas Damayanti mengatakan, ketegangan militer di Timur Tengah sejak awal 2026 tidak hanya berdampak terhadap stabilitas ekonomi regional, tetapi juga memengaruhi kepercayaan investor terhadap kawasan Teluk atau Gulf States.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi yang sebelumnya ditempatkan di kawasan tersebut.
“Terlepas dari dampak yang bertubi-tubi dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah, Indonesia harus menyambut peluang dari kondisi ini. Capital flight dari Gulf States yang selama ini dianggap sebagai safe haven oleh para investor, harus berhasil kita relokasi masuk ke Indonesia,” kata Imas di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Baca juga : DPR Apresiasi BRI Jadi Merek Paling Bernilai Di Indonesia
Imas menilai, ketidakpastian keamanan di Timur Tengah dan kawasan Teluk belum menunjukkan tanda penyelesaian yang konkret. Kondisi ini berpotensi memengaruhi keberlanjutan investasi, terutama pada sektor-sektor yang menjadi andalan negara-negara Teluk dalam mendiversifikasi perekonomian di luar minyak dan gas bumi.
Menurutnya, sektor pariwisata menjadi salah satu bidang yang rentan terdampak akibat gangguan keamanan, termasuk penutupan ruang udara dan jalur laut. Ia menyebut, penutupan ruang udara di kawasan Teluk berpotensi menghilangkan pendapatan dari belanja wisatawan internasional hingga 58 miliar dolar AS.
Selain pariwisata, proyek-proyek strategis di sektor properti dan digital yang tengah berjalan di sejumlah kota, seperti Dubai dan Doha, juga berisiko mengalami hambatan akibat ketidakpastian tersebut.
“Tidak ada upaya konkret dari pemimpin negara di wilayah Teluk untuk menyelesaikan konflik ini. Pastinya ini membuat investor tidak lagi percaya ya untuk berinvestasi di Teluk,” tegasnya.
Baca juga : Kredibilitas Fiskal Jaga Kepercayaan Investor
Imas juga menyoroti persoalan keamanan di Arab Saudi, termasuk insiden serangan rudal di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, yang menurut keterangannya berdampak terhadap jamaah umrah. Ia menilai, persoalan keamanan tersebut dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas kawasan Teluk.
“Ini menjadi bukti konkret bahwa instabilitas keamanan di wilayah Teluk sudah sangat memprihatinkan. Tidak bisa lagi mereka itu (wilayah Teluk) masuk sebagai negara yang aman, khususnya untuk investasi,” ungkapnya.
Di tengah situasi tersebut, Imas menilai Indonesia memiliki peluang untuk menarik perusahaan multinasional yang mempertimbangkan kembali lokasi investasi dan kantor pusat regional mereka. Sejumlah perusahaan yang sebelumnya berencana membangun kantor pusat regional di Riyadh dan Dubai, menurutnya, mulai melirik kawasan lain yang dinilai lebih aman, termasuk Asia Tenggara.
Indonesia dinilai memiliki modal untuk memanfaatkan peluang tersebut karena relatif terhindar dari konflik militer yang melanda kawasan Timur Tengah. Namun, peluang relokasi modal itu perlu direspons dengan langkah konkret dari pemerintah agar investasi benar-benar masuk ke dalam negeri.
Baca juga : Airlangga Komit Tumbuhkan Investasi Sektor Manufaktur
“Dalam hal ini, kita boleh percaya diri karena Indonesia pun termasuk negara di ASEAN yang relatif aman dan terhindar dari konflik maritim maupun udara,” ujarnya.
Imas mendorong pemerintah segera menyiapkan langkah untuk menarik arus masuk modal asing atau capital inflow. Menurutnya, investasi dapat menjadi salah satu stimulus untuk menggerakkan perekonomian nasional, memperluas aktivitas pasar, dan mendukung pembiayaan pembangunan.
Masuknya modal asing juga berpotensi memberikan dampak terhadap penguatan nilai tukar rupiah, meskipun realisasinya bergantung pada besaran investasi, kondisi pasar keuangan, serta faktor ekonomi lainnya.
Karena itu, pemerintah perlu memanfaatkan momentum pergeseran investasi global dengan memperkuat daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi. Upaya tersebut penting agar peluang relokasi modal dari kawasan Teluk dapat memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya