Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Gandeng Raksasa China, Dayabumi Garap Proyek Listrik Tenaga Surya 90 Megawatt
Senin, 19 Oktober 2026 20:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Daya Bumi Energi (Dayabumi Group) menggandeng ekosistem industri GEM Group asal China untuk menjajaki pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 90 megawatt-peak (MWp) dan sistem penyimpanan energi baterai berkapasitas 40 megawatt-hour (MWh) di Indonesia.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan dua nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) bersama International Green Industrial Park (IGIP) dan PT QMB New Energy Materials Indonesia (QMB) pada Senin (19/10/2026).
Ketua GEM Group, Prof. Xu Kaihua, mengatakan kolaborasi dengan Dayabumi diarahkan untuk memperluas penggunaan energi terbarukan di kawasan industri sekaligus mendukung transformasi menuju industri rendah karbon. Ia menilai keterlibatan perusahaan lokal semakin penting dalam pengembangan industri di Indonesia.
“Melalui kolaborasi dengan Dayabumi Energi, kami ingin memperluas pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung kebutuhan kawasan industri,” ujar Xu dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Chairman sekaligus Komisaris Utama Dayabumi Energi Gamma Thohir, Senior Deputy General Manager GEM Group sekaligus General Manager IGIP Wang Qiang, serta Deputy General Manager GEM Group sekaligus Executive Deputy General Manager QMB Dr. Xu Pengyun. Prosesi tersebut disaksikan oleh Garibaldi Thohir atau Boy Thohir dan Xu Kaihua selaku Chairman GEM Group.
Baca juga : Pertamina NRE dan TNI AL Kaji Pengembangan PLTS di Wilayah Kodaeral III
Rencana pembangunan PLTS 90 MWp yang dilengkapi sistem penyimpanan baterai 40 MWh menjadi fokus awal kerja sama kedua pihak. Namun, penandatanganan MoU tersebut masih merupakan tahap penjajakan dan belum menandakan bahwa proyek telah memasuki tahap konstruksi atau beroperasi.
Melalui kesepakatan tersebut, para pihak akan mengeksplorasi kelayakan teknis dan komersial, kebutuhan infrastruktur, serta model implementasi yang sesuai dengan kebutuhan operasional industri. Rincian mengenai lokasi proyek, nilai investasi, jadwal pembangunan, dan target operasional belum disebutkan dalam bahan keterangan perusahaan yang tersedia.
Bagi Dayabumi, kerja sama ini membuka peluang pengembangan proyek energi terbarukan berskala besar melalui kemitraan dengan perusahaan internasional. Perusahaan juga menargetkan kolaborasi tersebut menjadi landasan untuk mengembangkan solusi energi bersih yang dapat menunjang kebutuhan sektor industri.
Sementara itu, ekosistem GEM Group di Indonesia mencakup kegiatan pengolahan nikel, pengembangan material baterai, dan pengembangan kawasan industri melalui QMB dan IGIP. Pemanfaatan energi surya berpotensi mendukung kebutuhan listrik kawasan industri tersebut, meskipun besaran pengurangan emisi dan porsi listrik yang akan dipasok proyek belum diumumkan.
Garibaldi Thohir, selaku Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Komite Tiongkok (KIKT), menilai kerja sama tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan antara pelaku usaha Indonesia dan China. Ia juga mengaitkan pengembangan proyek dengan arahan pemerintah untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya nasional.
Baca juga : Survei PPI: Amran, Teddy, dan Erick Masuk Tiga Besar Pejabat Berkinerja Terbaik
“Ke depannya, bisnis energi terbarukan akan semakin pesat dan hal ini sesuai dengan arahan Bapak Presiden mengenai 100 GW,” kata Garibaldi dalam sambutannya.
Pemerintah memang tengah mendorong percepatan pembangunan PLTS nasional dengan target kapasitas 100 gigawatt-peak (GWp). Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program tersebut pada 25 Agustus 2026, dengan tahap awal mencakup 14 proyek PLTS berkapasitas gabungan sekitar 5,3 GWp.
Dalam konteks tersebut, proyek yang dijajaki Dayabumi dan GEM Group berpotensi menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan energi surya untuk kebutuhan industri. Meski demikian, kapasitas rencana 90 MWp tersebut masih perlu dibedakan dari kapasitas pembangkit yang telah dibangun dan beroperasi.
Garibaldi juga menyebut proyek tersebut sebagai percontohan pengembangan kawasan industri dengan pasokan listrik bersih dan menyatakan kapasitasnya termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia. Klaim mengenai posisi proyek tersebut dibandingkan proyek lain belum dapat dipastikan tanpa data pembanding dan rincian teknis yang terverifikasi.
Secara teknis, kapasitas 90 MWp menunjukkan daya puncak sistem panel surya dalam kondisi pengujian standar, sedangkan kapasitas baterai 40 MWh menunjukkan jumlah energi yang dapat disimpan. Kedua ukuran tersebut berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung; kemampuan memasok listrik juga akan bergantung pada produksi aktual PLTS, kapasitas daya baterai, dan pola penggunaan energi.
Baca juga : Satu Mobil Tiga Plat Nomor
Pemanfaatan tenaga surya dan penyimpanan baterai dapat membantu industri mendiversifikasi sumber energi serta mengelola pasokan listrik ketika produksi panel surya berubah akibat kondisi cuaca atau waktu. Namun, dampaknya terhadap biaya energi dan emisi baru dapat dinilai setelah desain proyek, sumber listrik yang digantikan, serta skema operasionalnya diketahui.
Penandatanganan dua MoU tersebut menjadi langkah awal bagi Dayabumi dan GEM Group untuk mengidentifikasi peluang kerja sama jangka panjang di sektor energi terbarukan. Kelanjutan proyek akan bergantung pada hasil kajian kelayakan, keputusan investasi, kesiapan infrastruktur, serta kesepakatan teknis dan komersial para pihak.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya