Dark/Light Mode

Perkuat Ketahanan Energi, Bahlil: Gas Jangkrik-MAHA Prioritas Pasar Domestik

Kamis, 22 Oktober 2026 17:14 WIB
Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia (tengah) meresmikan pengaliran gas perdana dari Sumur Jangkrik North East (JNE)#6 dan Lapangan MAHA di Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026). (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)
Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia (tengah) meresmikan pengaliran gas perdana dari Sumur Jangkrik North East (JNE)#6 dan Lapangan MAHA di Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026). (Foto: Dede Iswadi Idris/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dari atas kapal yang berjarak 12 mil lepas pantai Selat Makassar, Kalimantan Timur. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia meresmikan pengaliran gas perdana dari Sumur Jangkrik North East (JNE)#6 dan Lapangan MAHA.

Sumur JNE#6 mulai mengalirkan gas sebesar 60 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).Sementara produksi Lapangan MAHA ditargetkan meningkat bertahap hingga 230 MMSCFD pada akhir Oktober 2026. Dengan demikian, total tambahan produksi dari kedua lapangan mencapai 290 MMSCFD.

Bahlil menegaskan, tambahan produksi gas ini akan memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri sebelum mengalokasikan sebagian produksi untuk ekspor.

Bahlil menilai tambahan produksi tersebut signifikan bagi upaya pemerintah meningkatkan pasokan gas nasional. Dia juga menyampaikan bahwa pengembangan lapangan-lapangan baru diharapkan mendorong produksi gas Indonesia hingga sekitar 3.000 MMSCFD pada 2028–2029.

“Artinya, ini ada penambahan sekitar 290 MMSCFD. Ini adalah sebuah angka yang tidak sedikit,” ujar Bahlil.

Bahlil menambahkan, peningkatan produksi migas harus berjalan seiring dengan percepatan pemanfaatannya.

“Cadangan yang besar itu tidak akan mempunyai arti apa-apa kalau kita tidak mampu melakukan produksi,” katanya.

Bahlil menekankan, percepatan produksi merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kedaulatan energi. Pemerintah, kata dia, perlu mengoptimalkan sumber daya alam di darat maupun di laut demi memenuhi kebutuhan nasional.

Baca juga : PLTS 100 GWp: Ujian Transisi dan Penguatan Ketahanan Energi Nasional

“Sudah jelas arahnya adalah sumber daya alam kita pakai untuk kepentingan domestik terlebih dahulu,” kata Bahlil.

Dia menyebut, sebagian produksi dapat dialokasikan untuk ekspor setelah kebutuhan dalam negeri diprioritaskan.

Kebijakan tersebut, menurut Bahlil, menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Bangun Hilirisasi di Daerah

Selain meningkatkan produksi gas, Bahlil mengungkapkan rencana pembangunan pusat hilirisasi berbahan baku gas di Kalimantan Timur.

Pemerintah ingin agar tambahan pasokan energi tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah di daerah penghasil.

“Kita akan membangun pusat hilirisasi di Kalimantan Timur dengan mempergunakan bahan baku dari gas,” ujar Bahlil

Ia menjelaskan, hilirisasi di daerah diharapkan membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta menambah penerimaan negara dan daerah.

“Kita ingin daerah juga harus mendapatkan bagian dalam pemanfaatan sumber daya alam mereka,” katanya.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Terus Perkuat Kedaulatan Dan Ketahanan Energi Nasional

Dia juga mengapresiasi investasi dan kegiatan eksplorasi yang dilakukan Searah, perusahaan patungan (joint venture) raksasa energi asal Italia, Eni, dan perusahaan minyak nasional Malaysia, Petronas.

Bahlil menyebut kegiatan survei mencakup wilayah sekitar 12.000 kilometer persegi dengan investasi sekitar 100 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, investasi untuk proyek yang diresmikan disebut mencapai sekitar 840 juta dolar AS.

Menurut Bahlil, eksplorasi menjadi penting karena banyak lapangan migas Indonesia telah berusia tua. Penemuan serta pengembangan lapangan baru diperlukan untuk menjaga dan meningkatkan produksi nasional.

Dia menambahkan, target peningkatan produksi minyak Indonesia menjadi 900 ribu hingga 1 juta barel per hari pada 2029–2030.

Bahlil berharap pengembangan lapangan migas di Kalimantan dapat ikut menyumbang pencapaian target tersebut.

Transfer Teknologi

Bahlil juga meminta perusahaan pengelola memaksimalkan transfer teknologi dan pengetahuan kepada tenaga kerja Indonesia.

Dia menilai, penguatan kemampuan sumber daya manusia nasional penting agar Indonesia semakin mampu mengelola teknologi migas secara mandiri.

Baca juga : Konflik Timteng Tak Kunjung Usai, Ketahanan Energi RI Tetap Terjaga

Dia meminta SKK Migas dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi turut mendorong percepatan pengembangan proyek melalui penyelesaian perizinan dan kontrak.

Namun, percepatan itu tetap harus berjalan sesuai aturan dan dengan memperhatikan kepentingan seluruh pihak.

Bahlil menambahkan, pemerintah juga mendorong pengembangan energi berbasis sumber daya domestik untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM).

Dia menyinggung program biodiesel B50 serta rencana pengembangan bahan bakar berbasis etanol secara bertahap, dari E10 hingga E50, dengan bahan baku seperti singkong, jagung, dan tebu.

Menurutnya, optimalisasi produksi migas dan pengembangan energi berbasis bahan baku dalam negeri merupakan bagian dari strategi memperkuat kemandirian energi Indonesia.

Dia menutup sambutannya dengan menekankan pentingnya menjaga kepentingan nasional dalam pengelolaan sumber daya energi. “Nasionalisme dan kedaulatan bangsa kita harus kita jaga,” pungkasnya. (DRS)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.