Dark/Light Mode

Beri Dampak Ekonomi yang Signifikan

Kontrak Berakhir, InJourney Harap MotoGP di Mandalika Lanjut

Jumat, 23 Oktober 2026 07:35 WIB
Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) Maya Watono. (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka/RM.ID)
Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) Maya Watono. (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka/RM.ID)

RM.id  Rakyat Merdeka - MotoGP Mandalika memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Sejak pertama kali digelar pada 2022, ajang balap motor dunia ini telah menghasilkan dampak ekonomi hingga triliunan rupiah setiap tahunnya. Manfaat ekonomi tersebut dirasakan oleh pemerintah daerah, pelaku usaha perhotelan, kuliner, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) berharap, kontrak tahap pertama MotoGP Mandalika yang berakhir tahun ini, akan berlanjut.

Kontrak tahap pertama MotoGP Mandalika telah berakhir pada 2026. Jika tak diperpanjang, Indonesia terancam kehilangan hak eksklusif untuk menggelar ajang balap motor paling bergengsi di dunia itu. Pasalnya, negara lain seperti Singapura Cs siap mengambil alih menjadi tuan rumah MotoGP.

Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) Maya Watono menjelaskan, sejak pertama kali digelar pada 2022, MotoGP Mandalika telah membawa perubahan signifikan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kawasan yang dahulu relatif sepi, kini semakin ramai sebagai destinasi wisata olahraga.

Gelaran MotoGP juga memberikan dampak ekonomi yang besar. Berdasarkan kajian Institut Teknologi Bandung (ITB), dampak ekonomi MotoGP Mandalika pada 2026 mencapai Rp 5,2 triliun. Manfaatnya dirasakan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ajang ini juga meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal.

Melihat hasil tersebut, Maya berharap, MotoGP terus digelar di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok. Maya optimistis, Mandalika akan berkembang lebih pesat dalam lima tahun mendatang.

“Harapan kami, ke depan Mandalika bisa mengalami quantum leap. Lima tahun ke depan, pertumbuhannya akan jauh lebih cepat,” kata Maya, dalam wawancara eksklusif dengan Rakyat Merdeka/RM.id di kantornya, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dalam wawancara itu, Maya didampingi Corporate Secretary InJourney Yudhistira Setiawan. Sedangkan Tim Rakyat Merdeka terdiri dari Direktur Utama/CEO Rakyat Merdeka Group Kiki Iswara Darmayana, Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati, Wakil Pemimpin Redaksi Kartika Sari, Asisten Redaktur Eksekutif Bambang Trismawan, reporter Novalliandy, serta jurnalis foto Dwi Pambudo.

Baca juga : Kasus Proyek Jalan Di Sumut, KPK Tetapkan 7 TSK Baru

Berikut wawancara lengkapnya.

MotoGP Mandalika telah berlangsung sejak 2022. Selama lima tahun penyelenggaraannya, apa saja dampak yang dirasakan, baik bagi masyarakat lokal maupun perekonomian Indonesia?

Kalau kita lihat, progresnya memang luar biasa. Tahun ini merupakan tahun kelima. Kebetulan, saya juga mengikuti perjalanan MotoGP sejak awal hingga sekarang.

Pertama, dari sisi kapasitas sumber daya manusia (SDM). Pada awal penyelenggaraan MotoGP, semua pekerja masih didatangkan dari luar negeri.

Sekarang, pada penyelenggaraan 2026, sebanyak 99 persen pekerjanya merupakan tenaga lokal. Bahkan, tenaga kerja lokal dari NTB sudah dikirim untuk bekerja dalam penyelenggaraan MotoGP di tempat lain, seperti Australia dan Malaysia. Ini sangat membanggakan dari sisi peningkatan kualitas SDM.

Kedua, dari sisi dampak ekonomi. Pada 2023, dampak ekonomi mencapai Rp 4,3 triliun. Kami juga mencatat seluruh pengunjung dan memperpanjang masa tinggal para pembalap. Mereka tinggal sebelum dan sesudah perhelatan sehingga perputaran ekonomi menjadi sangat besar. Dampak ekonomi tersebut dihitung melalui kajian bersama ITB. Untuk 2026, hasil kajiannya mencapai Rp 5,2 triliun.

Apakah kesuksesan ajang MotoGP juga ikut membangun minat investor?

Baca juga : MotoGP Mandalika Hasilkan Dampak Ekonomi 5,2 Triliun

Iya betul sekali. Hal lain yang juga sangat membanggakan dan signifikan adalah minat investor. Kepercayaan investor semakin tinggi. Kami mendapatkan banyak minat, terutama dari Eropa, untuk berinvestasi di Lombok. Investasinya mulai dari beach club, makanan dan minuman atau food and beverage (F&B), hingga berbagai fasilitas penunjang lainnya. Minat ini terus berlanjut.

Saya juga berbicara dengan para pemangku kepentingan. Dari 2022 sampai 2024, minat investasi di Lombok sangat tinggi. Lombok terus berkembang. Pertumbuhan pergerakan wisatawan ke Lombok meningkat dari 14 persen menjadi 19 persen, bahkan 20 persen.

Secara singkat, kinerja InJourney Tourism Group pada semester I-2024 dibandingkan semester I-2023 meningkat sekitar 10–14 persen. Angka ini jauh lebih tinggi daripada rata-rata nasional.

Jadi, seluruh indikator ekonomi yang dihasilkan dari penyelenggaraan MotoGP menunjukkan hasil luar biasa.

Jumlah penonton MotoGP Mandalika terus meningkat setiap tahun. Apa saja terobosan InJourney untuk meningkatkan penyelenggaraan MotoGP Mandalika dari tahun ke tahun?

Membangun kawasan dan menyelenggarakan ajang sebesar ini memiliki banyak keterbatasan. Karena itu, setiap tahun kami berusaha melakukan perbaikan. Salah satu contohnya adalah akomodasi. Tahun ini, kami bekerja sama dengan PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) di seluruh Lombok. Kami sepakat agar kenaikan harga hotel dan akomodasi tidak terlalu tinggi.

Kalau harganya terlalu tinggi, wisatawan bisa kapok datang kembali ke Lombok. Kami tidak ingin hanya mengejar keberhasilan jangka pendek. Kami ingin menjaga keberlanjutan ekosistem pariwisata. Karena itu, kami membangun kerja sama, bukan hanya secara internal di InJourney. Tetapi juga dengan para pemangku kepentingan pariwisata di Lombok.

Baca juga : Amin Musafa: Malu, Negara Maritim Kecelakaan Berulang

Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah, gubernur, bupati, hingga pemerintah pusat. Ada Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Keuangan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta Kementerian Perhubungan. Semua pihak harus bekerja sama secara gotong royong untuk memastikan setiap tahun ada perbaikan.

Bagaimana dengan tingkat okupansi akomodasi saat MotoGP lalu, apakah ada kenaikan?

Dari sisi akomodasi, kondisinya tahun ini jauh lebih baik. Tingkat okupansi hotel sejak H-7 sampai H-1 hampir 100 persen. Kami juga menambah alternatif akomodasi, seperti camping ground dan live on board menggunakan kapal.

Jumlah penerbangan dari maskapai BUMN juga ditingkatkan. Kalau tidak salah, tersedia sekitar 66 penerbangan sehingga jumlah pengunjung yang datang bisa bertambah. Jadi, dari sisi konektivitas, akomodasi, dan ekosistem pariwisata, kondisinya semakin membaik.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.