Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dorong Kredit Produktif & Jaga Stabilitas Rupiah
BI Tahan Bunga Acuan, Longgarkan Likuiditas
Senin, 26 Oktober 2026 06:40 WIB
Proyeksi Ekonomi Tumbuh 4,9-5,7 Persen
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 sekitar 3,0 persen, dengan inflasi sekitar 4,6 persen. Ketegangan geopolitik, tingginya harga minyak dan komoditas, serta kebijakan moneter AS yang ketat diperkirakan mempertahankan ketidakpastian pasar keuangan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury diperkirakan tetap tinggi, sementara minat investor terhadap aset negara berkembang masih terbatas.
Kondisi tersebut turut menopang penguatan indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, yakni euro, yen Jepang, pound sterling Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss.
Baca juga : Pertamina Serius Jaga Pasokan BBM di Seluruh Negeri
Di tengah tekanan eksternal, BI menilai ekonomi Indonesia tetap berdaya tahan. Konsumsi rumah tangga terjaga berkat stimulus pemerintah, sedangkan investasi tumbuh positif ditopang investasi pemerintah dan mulai menguatnya investasi swasta. Ekspor nonmigas juga meningkat.
BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen.
Kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, keputusan mempertahankan BI-Rate mencerminkan pendekatan selektif untuk menjaga rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Keputusan tersebut berbeda dari ekspektasi sebelumnya yang mengarah pada kenaikan suku bunga 25 basis poin setelah tekanan pasar meningkat menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Baca juga : DPR: Momentum Tingkatkan Kualitas Tenaga Medis Kita
“Kebijakan tersebut menunjukkan, BI memilih untuk tidak melakukan pengetatan suku bunga acuan secara menyeluruh. Karena BI menilai tekanan rupiah masih dapat ditangani melalui instrumen yang lebih tepat sasaran,” ujar Josua kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut Josua, langkah tersebut cukup beralasan karena BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin pada Mei–Juni 2026, sementara inflasi inti masih terkendali.
Kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00 persen dinilai dapat menjaga daya tarik instrumen rupiah. Sementara itu, penurunan GWM diproyeksikan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun.
Namun, Josua mengingatkan bahwa tambahan likuiditas harus benar-benar mengalir menjadi kredit produktif, bukan kembali ditempatkan pada instrumen moneter atau mendorong permintaan valas.
Baca juga : Pembuang Sampah Dan PKL Liar Bakal Ditindak
“Keberhasilan kebijakan, menurutnya, bergantung pada stabilitas rupiah, terjaganya arus modal asing, dan inflasi yang tetap terkendali,” tutup Josua.
Senada, ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai pelonggaran GWM dapat membantu memperbaiki kondisi likuiditas, mengurangi tekanan pendanaan, dan mendukung pembiayaan sektor produktif.
“Sedangkan kenaikan suku bunga Deposit Facility diarahkan untuk membantu stabilisasi rupiah,” kata David. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya