Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- KPK Terbitkan Sprindik Baru, Legislator Bengkulu Vinna Ledy Dipanggil
- Jaksa KPK Dakwa Silmy Karim Lakukan Pemerasan hingga Rp 168,9 Miliar
- BBNI Tampil Solid di Kuartal III, Fundamental Kuat Topang Rebound Saham Himbara
- Takluk dari Genoa, Bianconeri Melorot ke Posisi 8 Serie A
- Produksi Tembus 6,59 Juta Ton, Petrokimia Gresik Dukung Ketahanan Pangan
Garuda Raup Pendapatan Rp 49 T Hingga Kuartal III-2026, Naik 13%
Kamis, 29 Oktober 2026 19:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar 2,71 miliar dolar AS atau Rp 49,2 triliun sepanjang Januari-September 2026 meskipun industri penerbangan masih menghadapi tekanan kenaikan harga bahan bakar pesawat. Jumlah tersebut tumbuh 13,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan keterangan resmi perusahaan di Jakarta, Kamis (29/10/2026), pertumbuhan pendapatan Garuda Indonesia Group tersebut setara dengan peningkatan 316,4 juta dolar AS secara tahunan, yang ditopang bisnis penerbangan berjadwal, diversifikasi usaha non-penerbangan, serta pemulihan kapasitas operasional.
Pendapatan penerbangan berjadwal meningkat 12,6 persen atau sebesar 233,2 juta dolar AS, sedangkan penerbangan non-berjadwal tumbuh 2,1 persen atau 6,3 juta dolar AS.
Sementara itu, pendapatan bisnis non-penerbangan meningkat 31,3 persen menjadi 322,8 juta dolar AS, atau bertambah 77 juta dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan bisnis non-penerbangan tersebut antara lain ditopang kenaikan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal GMF AeroAsia sebesar 42,4 persen dan pendapatan layanan agen perjalanan sebesar 76,1 persen.
Namun, kinerja pendapatan tersebut masih dibayangi peningkatan beban operasional, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar penerbangan seiring volatilitas pasar energi global dan dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Baca juga : Garuda Pastikan Skema Bagasi Baru Beri Ruang Lebih bagi Penumpang
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, beban bahan bakar Garuda Indonesia Group meningkat 42,9 persen atau setara 309,8 juta dolar AS. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan total beban operasional sebesar 15,7 persen secara tahunan.
Meski demikian, perusahaan mampu menjaga pertumbuhan beban operasional di luar bahan bakar pada kisaran 3,1 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan yang mencapai 13,2 persen.
Garuda Indonesia Group mencatatkan laba usaha sebesar 97,2 juta dolar AS, sementara rugi periode berjalan secara konsolidasi menyusut 3,0 persen menjadi 179,3 juta dolar AS.
Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro mengatakan, pertumbuhan pendapatan dan peningkatan kontribusi bisnis non-penerbangan menjadi indikasi perkembangan transformasi perusahaan, terutama dalam memperkuat produktivitas dan mengoptimalkan potensi seluruh entitas usaha Grup.
“Keberlanjutan pertumbuhan Garuda Indonesia memerlukan fondasi bisnis penerbangan yang semakin kuat, sekaligus kontribusi yang lebih besar dari seluruh ekosistem usaha Grup,” ujar Thomas.
Ia menambahkan, dukungan Danantara sebagai pemegang saham turut menjadi bagian dari strategi transformasi perusahaan, terutama untuk meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan nilai ekonomi aset, serta memperkuat sinergi antarentitas usaha.
Baca juga : Penerbangan Garuda Indonesia Terdampak Erupsi Anak Krakatau, Ini 5 Faktanya
Pemulihan Armada
Selain pertumbuhan pendapatan, Garuda Indonesia Group mencatatkan peningkatan jumlah pesawat siap operasi menjadi 106 unit hingga September 2026, bertambah 24 pesawat dibandingkan 82 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 64 pesawat dioperasikan Garuda Indonesia dan 42 pesawat oleh Citilink. Peningkatan ketersediaan armada tersebut didukung program reaktivasi pesawat dan optimalisasi kapasitas operasional.
Pemulihan armada turut mendorong peningkatan jumlah penumpang menjadi 16,7 juta orang, dibandingkan 15,6 juta orang pada Januari-September 2025. Garuda Indonesia melayani sekitar 7,7 juta penumpang, sedangkan Citilink mengangkut sekitar 8,9 juta penumpang.
Frekuensi penerbangan Grup juga meningkat 7,9 persen menjadi 117.868 penerbangan, dari 109.259 penerbangan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi kualitas layanan, tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance (OTP) mencapai 92,01 persen, meningkat 5,86 poin persentase dibandingkan 86,15 persen pada sembilan bulan pertama 2025.
Baca juga : Kesaksian Ari Lasso Jadi Penumpang Pesawat Garuda Indonesia Yang Alami Pecah Ban
Thomas mengatakan, pemulihan ketersediaan armada perlu diikuti peningkatan produktivitas pesawat dan optimalisasi jaringan penerbangan agar penambahan kapasitas memberikan manfaat berkelanjutan bagi perusahaan dan pelanggan.
Menurut dia, perusahaan akan melanjutkan transformasi dengan memprioritaskan peningkatan utilisasi armada, optimalisasi jaringan penerbangan, penguatan kontribusi bisnis non-penerbangan, serta pengelolaan biaya dan aset secara lebih efektif.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing dan ketahanan finansial Garuda Indonesia Group sekaligus mendukung pemulihan profitabilitas secara bertahap dan berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya