Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Piter Abdullah Prediksi Ekonomi RI Tumbuh Di Atas 5%, Ini Penopangnya
Senin, 2 November 2026 11:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia diperkirakan tetap mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen pada Triwulan III-2026. Konsumsi masyarakat, ekspor, investasi, serta belanja pemerintah dinilai masih menjadi komponen penopang pertumbuhan ekonomi nasional menjelang pengumuman resmi Badan Pusat Statistik (BPS).
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut masih berada di atas 5 persen. Menurutnya, sejumlah komponen utama pembentuk produk domestik bruto (PDB) masih menunjukkan aktivitas yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Kalau hitungan saya sih masih di atas 5%,” ujar Piter saat dimintai pandangan mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2026, Senin (2/11/2026).
Ia menjelaskan, konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional, selain ekspor, investasi, dan belanja pemerintah. Terlebih, konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi lebih dari separuh terhadap PDB sehingga menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Baca juga : Ekonomi 2026 Lebih Baik dari Era Covid & Krisis 1998
“Kita kan masih ada konsumsi ya, masih ada ekspor, masih ada investasi dan belanja pemerintah,” jelasnya.
Meski demikian, Piter menyoroti, adanya perbedaan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi secara agregat tidak selalu mencerminkan kondisi yang sama pada setiap kelompok masyarakat karena tingkat pendapatan dan kemampuan konsumsi mereka berbeda.
Ia menilai, kelompok menengah atas masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan konsumsi, sementara sebagian masyarakat kelompok bawah menghadapi tekanan pengeluaran rumah tangga. Namun, aktivitas konsumsi tetap berlangsung meskipun dengan kemampuan yang berbeda-beda.
“Jadi mungkin sekarang ini ekonomi kita lebih digerakkan oleh kelompok menengah atas yang masih berkonsumsi. Di kelompok bawah mungkin konsumsinya turun, tapi kan mereka masih berkonsumsi juga baik itu dengan bantuan, bansos atau mereka makan tabungan, mereka masih berkonsumsi juga,” ungkap Piter.
Baca juga : Besok Jangan Digadai
Lebih lanjut, ia mengingatkan, aktivitas konsumsi masyarakat perlu dilihat secara menyeluruh. Sebab, masih berlangsungnya konsumsi tidak serta-merta menunjukkan seluruh kelompok masyarakat memiliki daya beli yang sama.
Sebagian masyarakat masih mampu mempertahankan pola konsumsinya, sedangkan sebagian lainnya harus menyesuaikan pengeluaran, bahkan menggunakan tabungan atau berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bedanya adalah, yang harus kita akui, ada yang konsumsinya masih banyak, ada yang konsumsinya itu kurang, ada yang konsumsinya itu masih foya-foya, ada yang sudah makan tabungan, ada yang sudah makan hutang, tapi mereka semuanya itu masih konsumsi,” kata Piter.
Dalam konteks tersebut, Piter menilai, komunikasi mengenai kondisi perekonomian perlu disampaikan berdasarkan data yang lebih komprehensif agar masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai perkembangan ekonomi nasional.
Baca juga : Airlangga: AS Investor Terbesar Ke-4 Indonesia
Menurutnya, indikator pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama kondisi konsumsi dan aktivitas ekonomi yang berlangsung di tengah masyarakat.
Ia juga menilai perbedaan proyeksi di kalangan ekonom lebih berkaitan dengan besaran angka pertumbuhan, bukan mengenai apakah perekonomian Indonesia masih tumbuh positif atau tidak.
“Sebenarnya para ekonom sepakat kalau kita tumbuh positif cuma bedanya adalah angkanya berapa, ada yang mengatakan di bawah 5 persen, ada yang mengatakan di atas 5 persen tapi ada di kisaran 5 persen,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya