Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - 5,32 persen pada triwulan II-2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Sektor ini juga menyumbang hampir seperlima terhadap perekonomian nasional, ditopang peningkatan investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri manufaktur tumbuh 5,15 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Capaian tersebut menjadi yang pertama dalam 13 tahun, sekaligus menegaskan penguatan peran manufaktur dalam perekonomian nasional.
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) industri manufaktur meningkat dari Rp 2.761 triliun pada 2020 menjadi Rp 4.117 triliun pada 2025. Kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 20,94 persen pada 2025.
Menteri Perindustrian pada periode tersebut, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan pentingnya menjadikan manufaktur sebagai penggerak ekonomi. “Bukan ekonomi yang menarik manufaktur, tapi manufaktur yang harus menarik ekonomi,” ujarnya dalam paparan kinerja akhir tahun 2025.
Dari sisi perdagangan, industri manufaktur menyumbang 80,27 persen dari total ekspor nasional pada 2025. Ekspor tersebut terutama berasal dari produk turunan minyak kelapa sawit mentah (CPO), besi dan baja, serta mesin dan perlengkapan elektrik.
Baca juga : Investasi Meningkat, Ekspor Digenjot, Daya Beli Diperkuat
Investasi juga menunjukkan peningkatan. Kementerian Perindustrian mencatat realisasi investasi baru sektor manufaktur pada periode 2024–2026 mencapai Rp 1.002 triliun, didukung hampir 3.500 fasilitas produksi baru.
Sementara itu, nilai tambah manufaktur Indonesia meningkat dari 210,4 miliar dolar AS pada 2020 menjadi 265,07 miliar dolar AS pada 2025. Berdasarkan data Bank Dunia yang dikutip dalam laporan tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dan posisi teratas di ASEAN, melampaui Thailand dan Vietnam.
Serap 20,26 Juta Tenaga Kerja
Pertumbuhan manufaktur turut memperluas kesempatan kerja. Jumlah pekerja di sektor ini meningkat dari 17,44 juta orang pada 2020 menjadi 20,26 juta orang pada 2025, bertambah sekitar 2,82 juta orang.
Pada Februari 2026, industri manufaktur menyerap 13,57 persen dari total 147,67 juta penduduk bekerja. Agus Gumiwang menyebut peningkatan tenaga kerja tersebut berkaitan dengan kenaikan utilisasi dan investasi industri.
Baca juga : Pembukaan BSI International Expo 2026
Pemulihan sektor ini juga ditopang kebijakan pemerintah selama pandemi Covid-19, antara lain Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI), insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP), serta penguatan industri dalam negeri melalui kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Hingga pertengahan Juni 2020, sebanyak 17.466 IOMKI telah diterbitkan. Menurut Kementerian Perindustrian, kebijakan tersebut membantu melindungi sekitar 4,9 juta pekerja dari risiko pemutusan hubungan kerja.
Sementara itu, insentif PPnBM DTP mendorong pemulihan permintaan otomotif. Penjualan mobil nasional meningkat 88 persen dalam sebulan setelah insentif diberlakukan, sedangkan penjualan sepanjang Maret–November 2021 mencapai 487 ribu unit atau tumbuh 71,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja manufaktur pada 2026 juga tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada di level 51,93 pada September. Indeks yang dikembangkan Kementerian Perindustrian tersebut konsisten berada di zona ekspansi sejak November 2022 dan mencapai rekor 54,12 pada Januari 2026.
Penguatan serupa terlihat pada Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang naik dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026. Kenaikan tersebut didukung pertumbuhan pesanan baru, produksi domestik, dan pesanan ekspor.
Baca juga : Ayo Genjot Lagi Ekonomi Rakyat.
Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence Trevor Balchin menyebut kenaikan ekspor turut menopang kinerja manufaktur pada September.
Sementara itu, ekonom INDEF Esther Sri Astuti menilai, kinerja manufaktur Indonesia berhasil dijaga selama pemulihan, meskipun belum sepenuhnya pulih.
Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani juga menegaskan peran manufaktur dalam perdagangan luar negeri. “Manufaktur memang merupakan tulang punggung ekspor nasional,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya