Dark/Light Mode

KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga Meski Tekanan Global Meningkat

Rabu, 4 November 2026 09:28 WIB
Foto: KSSK
Foto: KSSK

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang juga Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga pada triwulan III-2026 di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan domestik.

Hasil asesmen KSSK menunjukkan stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan tetap terjaga berkat koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat ant otoritas. Ketahanan tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang solid dan intermediasi keuangan yang masih terjaga.

"Di tengah tekanan tersebut, fundamental ekonomi nasional dan respons kebijakan yang adaptif mampu menjaga stabilitas sistem keuangan," kata Suahasil dalam keterangan hasil rapat berkala KSSK IV Tahun 2026 di Jakarta, dalam keterangannya, dikutip Rabu (4/11/2026).

Rapat tersebut dilaksanakan pada Rabu (28/10) dan melibatkan empat otoritas, yakni Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Suahasil menjelaskan tekanan terhadap perekonomian kembali meningkat memasuki Oktober 2026 seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi global serta kebijakan moneter negara-negara utama yang cenderung ketat.

Dari sisi domestik, tekanan juga dipengaruhi oleh pengetatan likuiditas, pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham Indonesia, serta meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah sejalan dengan arus modal keluar dari pasar saham.

Meski demikian, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan. KSSK menilai fundamental ekonomi nasional dan respons kebijakan yang adaptif menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.

KSSK juga mencermati prospek ekonomi global yang masih dibayangi eskalasi konflik geopolitik, terutama di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong harga minyak dan berbagai komoditas dunia tetap tinggi.

Baca juga : LPS Jaga Kepercayaan Konsumen, Tingkat Bunga Penjaminan Dipertahankan

Selain itu, sejumlah bank sentral utama, seperti The Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ), telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada September 2026.

Kebijakan suku bunga tinggi diperkirakan bertahan lebih lama atau higher for longer. Kondisi tersebut diperkuat oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) seiring ekspektasi kebijakan moneter dan besarnya defisit anggaran negara tersebut.

Dana investor global ke negara berkembang juga masih terbatas. Kondisi ini berpotensi menahan aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di tengah tekanan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 diprakirakan tetap kuat, ditopang permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif.

Konsumsi rumah tangga didukung berbagai stimulus fiskal pemerintah, sedangkan investasi diperkirakan tumbuh kuat seiring proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.

Dari sisi eksternal, ekspor nonmigas menunjukkan peningkatan. Pemerintah juga menjaga ketahanan eksternal melalui kebijakan devisa hasil ekspor (DHE).

Sejumlah indikator ekonomi turut menunjukkan perkembangan positif. Penjualan mobil dan sepeda motor pada September 2026 masing-masing tumbuh 28,1 persen dan 15,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia melanjutkan ekspansi ke level 54,0 pada Oktober 2026. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diprakirakan mencapai lebih dari 5,4 persen.

Baca juga : LPS Jaga Kepercayaan Masyarakat, Tingkat Bunga Penjaminan Dipertahankan

Dari sisi ketahanan eksternal, neraca perdagangan Indonesia selama Januari-September 2026 mencatat surplus 10,61 miliar dolar AS. Khusus September 2026, surplus perdagangan mencapai 3,36 miliar dolar AS.

Namun, nilai tukar rupiah pada 2 November 2026 melemah 0,11 persen menjadi Rp 18.145 per dolar AS dibandingkan posisi akhir Oktober 2026. Tekanan tersebut dipengaruhi konflik geopolitik Timur Tengah, kebijakan moneter AS, dan sentimen investor terhadap aset negara berkembang.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor. Posisi tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Dari sisi fiskal, realisasi pendapatan negara dan hibah hingga akhir triwulan III-2026 mencapai Rp 2.341,5 triliun atau tumbuh 25,5 persen secara tahunan. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp 2.660,5 triliun atau tumbuh 19 persen.

Realisasi penerimaan perpajakan mencapai Rp 1.847,7 triliun atau tumbuh 21,8 persen. Adapun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 492,3 triliun atau tumbuh 41,7 persen.

Belanja pemerintah pusat mencapai Rp 2.061,3 triliun, sedangkan transfer ke daerah tercatat Rp 599,2 triliun. Belanja tersebut antara lain digunakan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, pendidikan, subsidi, dan kompensasi energi.

Suahasil mengatakan APBN terus dioptimalkan untuk melindungi daya beli masyarakat, mendorong pertumbuhan, serta menjaga stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok.

Realisasi subsidi dan kompensasi masing-masing mencapai Rp 222,5 triliun dan Rp 154,5 triliun. Sementara itu, program MBG telah terealisasi Rp 153,2 triliun dengan menjangkau 57 juta penerima manfaat.

Baca juga : Danamon: Indonesia Miliki Fondasi Kuat untuk Pertahankan Pertumbuhan Ekonomi

Di sektor keuangan, kinerja intermediasi perbankan tetap positif. Kredit perbankan pada September 2026 tumbuh 13,26 persen secara tahunan menjadi Rp9.245,1 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,22 persen menjadi Rp 10.492,2 triliun.

Ketahanan perbankan juga terjaga dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 24,30 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) bruto tercatat 2,07 persen.

KSSK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dan respons kebijakan bersama untuk mengantisipasi risiko rambatan global serta menjaga stabilitas sistem keuangan.

"KSSK berkomitmen untuk terus meningkatkan sinergi dan memperkuat coordinated policy responseserta kewaspadaan untuk memitigasi berbagai risiko yang dapat berdampak terhadap stabilitas sistem keuangan dan perekonomian," ujar Suahasil.

KSSK juga berkomitmen mendukung sektor riil, program Asta Cita, dan berbagai program prioritas pemerintah guna mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Rapat berkala KSSK berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Januari 2027.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.