Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
BI Siapkan 7 Jurus Jaga Rupiah, Perry Optimis Nilai Tukar Kembali Menguat
Rabu, 6 Mei 2026 10:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global dan keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan musiman. Bukan karena lemahnya fundamental ekonomi Indonesia.
“Nilai tukar sekarang itu undervalue. Ke depan kami yakini akan stabil dan menguat,” ujar Perry usai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Menurut Perry, tekanan global dipicu tingginya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, dan menguatnya dolar AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun juga masih tinggi di level 4,47 persen sehingga memicu capital outflow dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, pada April hingga Juni permintaan dolar AS meningkat untuk kebutuhan pembayaran dividen, utang luar negeri, dan biaya haji.
Meski begitu, Perry memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap sangat kuat. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, inflasi rendah, kredit tumbuh positif, dan cadangan devisa masih solid.
Baca juga : Bayern Munchen Optimistis Balikkan Keadaan di Leg Kedua
Karena itu, BI optimistis rupiah akan kembali stabil. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menyiapkan tujuh langkah utama.
Pertama, BI akan terus melakukan intervensi di pasar valas domestik melalui transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF), serta intervensi offshore melalui non-deliverable forward (NDF) di Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
“Kami terus melakukan intervensi baik di dalam negeri maupun luar negeri,” kata Perry.
Kedua, BI bersama Kementerian Keuangan memperkuat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga arus modal asing tetap masuk dan menutup tekanan outflow dari pasar saham serta surat berharga negara (SBN).
Ketiga, BI terus membeli SBN di pasar sekunder. Hingga saat ini, pembelian SBN tercatat mencapai Rp 13,1 triliun.
Baca juga : Kasus BJB, KPK Dalami Nilai Riil Pembayaran Iklan Agensi ke Media
“Koordinasi fiskal dan moneter sangat erat,” ujarnya.
Keempat, BI bersama pemerintah menjaga likuiditas perbankan dan pasar tetap memadai. Pertumbuhan uang primer terakhir tercatat mencapai 14,1 persen.
Kelima, BI memperketat pembelian dolar tanpa underlying. Batas pembelian yang sebelumnya 100 ribu dolar AS diturunkan menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan dan akan kembali dipangkas menjadi 25 ribu dolar AS.
Selain itu, BI memperkuat transaksi yuan-rupiah di pasar domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Keenam, BI memperkuat pasar offshore NDF dengan mengizinkan bank domestik ikut bertransaksi di pasar luar negeri agar pasokan valas semakin besar.
Baca juga : Israel Peringatkan Warga Iran: Jangan Bepergian Naik Kereta Api
Ketujuh, BI meningkatkan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar tinggi. Pengawasan dilakukan bersama OJK guna menjaga stabilitas sistem keuangan.
Perry menegaskan seluruh langkah tersebut dilakukan untuk memastikan rupiah tetap stabil di tengah gejolak global.
“Fundamental kita kuat. Karena itu rupiah ke depan akan stabil dan cenderung menguat,” tegasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya