Dark/Light Mode

Prasasti Proyeksi Ekonomi Kuartal III 2026 Tumbuh 5,2 Persen

Rabu, 4 November 2026 15:39 WIB
Ilustrasi. Gedung pencakar langit di kawasan SCBD Jakarta. Dok. Bambang/RM
Ilustrasi. Gedung pencakar langit di kawasan SCBD Jakarta. Dok. Bambang/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2026 diperkirakan mencapai 5,2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pemulihan ekspor industri manufaktur menjadi salah satu penopang utama di tengah konsumsi rumah tangga yang mulai kehilangan momentum.

Proyeksi tersebut disampaikan Prasasti Center for Policy Studies menjelang pengumuman data produk domestik bruto (PDB) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pekan ini. Sepanjang 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,2–5,4 persen, dengan batas atas sesuai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Research Director Prasasti Adhi N. Saputro mengatakan, pertumbuhan di atas 5 persen masih ditopang konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar PDB. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan daya beli dan aktivitas konsumsi mulai kehilangan tenaga.

Penjualan eceran riil kembali tumbuh 1,3 persen setelah mengalami kontraksi pada kuartal II/2026. Namun, pertumbuhan transaksi kartu dan uang elektronik melambat. Keyakinan konsumen juga mengalami penurunan, meski masih berada di zona optimistis.

Di tengah kondisi tersebut, ekspor manufaktur menjadi pembeda pada kuartal III karena mulai menunjukkan pemulihan dan menahan perlambatan ekonomi.

“Pelemahan rupiah membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global, meski sekaligus menaikkan biaya bahan baku dan impor energi,” ujar Adhi dalam keterangan tertulis, Rabu (4/11/2026).

Menurutnya, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P Global meningkat dari 52,4 pada September menjadi 54,0 pada Oktober 2026. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Maret 2024.

Pesanan ekspor baru juga tumbuh paling cepat sejak survei tersebut dimulai pada 2011. Sementara itu, ekspor industri pengolahan pada September 2026 meningkat 16,78 persen secara tahunan. Sepanjang kuartal III, kenaikan ekspor manufaktur terutama berasal dari produk turunan kelapa sawit dan elektronik.

Meski demikian, pemulihan manufaktur belum sepenuhnya kokoh. Investor asing mulai masuk ke sektor tersebut, tetapi investor domestik masih menahan ekspansi. Hal ini tercermin dari realisasi investasi dalam negeri yang turun 7,5 persen.

Baca juga : Piter Abdullah Prediksi Ekonomi RI Tumbuh Di Atas 5%, Ini Penopangnya

Prasasti menilai, ketergantungan terhadap permintaan ekspor membuat pemulihan manufaktur masih rentan terhadap perlambatan ekonomi global.

Adhi mengingatkan, angka pertumbuhan kuartal III yang solid belum sepenuhnya menggambarkan tekanan ekonomi yang akan datang. Dampak kenaikan harga minyak, penurunan produksi pangan akibat El Nino, serta kebakaran hutan dan lahan diperkirakan baru terasa lebih besar pada kuartal IV/2026.

“Angka kuartal III terlihat solid karena sebagian tekanan belum sepenuhnya merambat ke perekonomian. Ada jeda dari fluktuasi harga minyak, penurunan panen, dan karhutla. Dampaknya baru akan terasa penuh pada kuartal IV, tepat ketika ekonomi justru dituntut tumbuh lebih cepat,” katanya.

Tekanan eksternal menjadi salah satu tantangan utama. Konflik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi dunia mendorong kenaikan harga minyak, yang berdampak terhadap Indonesia sebagai negara pengimpor energi.

Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) rata-rata hampir 92 dolar AS per barel selama Januari–September 2026. Angka tersebut jauh di atas asumsi APBN yang sebesar 70 dolar AS per barel.

Dampaknya mulai terlihat pada inflasi Oktober 2026. Kelompok transportasi, terutama bensin, menyumbang 0,59 poin persentase terhadap inflasi tahunan. Tekanan juga merambat ke neraca eksternal. Defisit transaksi berjalan yang melebar pada kuartal II dan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS membuat stabilitas makroekonomi menjadi prioritas.

Bank Indonesia (BI) bahkan telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen sepanjang tahun ini.

Anggota Board of Advisors Prasasti sekaligus Gubernur Bank Indonesia periode 2003–2008, Burhanuddin Abdullah, menilai fungsi suku bunga kini semakin penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas nilai tukar.

"Suku bunga bukan lagi sekadar alat pendorong pertumbuhan, melainkan jangkar kepercayaan. Pelonggaran yang terlalu dini bisa memicu tekanan pada rupiah, dan ongkosnya bagi pertumbuhan justru lebih mahal," ujarnya.

Tekanan Kuartal IV

Baca juga : Ekonomi 2026 Lebih Baik dari Era Covid & Krisis 1998

Prasasti menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dalam APBN masih mungkin dicapai, tetapi semakin sulit. Untuk merealisasikannya, ekonomi harus tumbuh sekitar 5,5 persen secara tahunan pada kuartal IV/2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada kuartal IV/2025 yang mencapai 5,39 persen.

Tantangan semakin berat karena tiga tekanan diperkirakan terjadi bersamaan. Pertama, harga minyak yang tinggi akan meningkatkan biaya produksi dan transportasi, menekan margin dunia usaha, serta memperbesar tagihan impor energi.

Kedua, fenomena El Niño berpotensi menekan produksi pangan, terutama padi. Produksi padi tercatat turun 18,3 persen pada September dan diperkirakan kembali turun 16,3 persen selama Oktober–Desember 2026.

Penurunan produksi tersebut berisiko meningkatkan harga bahan pokok di tengah inflasi yang masih bertahan di atas 3 persen. Kelompok masyarakat berpendapatan rendah menjadi yang paling rentan karena sebagian besar pengeluaran mereka dialokasikan untuk kebutuhan pangan.

Ketiga, kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung hingga Oktober di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi serta menimbulkan kerugian besar.

Prasasti menilai, kemampuan pemerintah meredam tekanan tersebut juga terbatas. Dari sisi moneter, BI harus menjaga stabilitas rupiah sehingga ruang untuk menurunkan suku bunga belum terbuka lebar.

Sementara dari sisi fiskal, kenaikan harga minyak berisiko memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi pada kuartal IV. Kondisi ini perlu diwaspadai karena proyeksi defisit APBN sudah mendekati batas 3 persen terhadap PDB.

Karena itu, memaksakan pertumbuhan melalui peningkatan belanja, ekspansi kredit, maupun kegiatan kuasi-fiskal berisiko mengurangi bantalan fiskal dan mengganggu stabilitas eksternal.

Perkuat Kepastian Regulasi

Senior Economist Prasasti Piter Abdullah mengatakan, pemerintah perlu membangun pertumbuhan ekonomi di atas fondasi yang lebih kuat. Di tengah keterbatasan ruang fiskal dan moneter, kebijakan nonfiskal dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjaga momentum ekonomi.

Baca juga : Besok Jangan Digadai

Pemerintah, menurutnya, dapat memprioritaskan relaksasi hambatan perdagangan non-tarif serta memberikan kepastian regulasi bagi dunia usaha.

Dalam jangka pendek, percepatan penetapan Neraca Komoditas 2027, termasuk kuota impor bahan baku, menjadi hal mendesak.

Kepastian tersebut diperlukan agar pelaku usaha dapat menyusun rencana produksi dan operasional secara terukur, terutama menjelang momentum Natal dan Tahun Baru yang segera disusul Ramadan serta Idul Fitri.

“Pemerintah dapat memprioritaskan kebijakan non-fiskal, seperti relaksasi hambatan dagang non-tarif dan kepastian regulasi. Dalam jangka pendek, percepatan penetapan Neraca Komoditas 2027, termasuk kuota impor bahan baku, menjadi mendesak,” ujar Piter.

Ia menambahkan, besarnya sisa anggaran pemerintah tidak serta-merta mencerminkan luasnya ruang untuk menambah stimulus. Sebab, anggaran tersebut masih harus memperhitungkan beban subsidi energi dan pembayaran bunga utang.

“Sisa anggaran terlihat besar, tetapi ruang geraknya tersandera beban subsidi energi dan bunga utang. Ketika ruang fiskal dan moneter sama-sama terbatas, dorongan pertumbuhan datang dari kepastian aturan main, bukan dari besarnya belanja,” pungkasnya.

Prasasti menilai, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara upaya mempertahankan pertumbuhan dan stabilitas makroekonomi. Pemulihan ekspor manufaktur menjadi modal positif pada kuartal III, tetapi tantangan pada akhir tahun membutuhkan kebijakan yang tepat agar tekanan eksternal tidak semakin membebani perekonomian.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.