Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kunjungi Weda Bay Industrial Park, Menperin Bidik Investasi 8 M Dolar AS
Jumat, 29 November 2024 17:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat kebijakan hilirisasi industri berbasis hasil tambang, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan nilai tambah dalam negeri melalui pengolahan sumber daya alam seperti nikel, tembaga, dan bauksit.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, hilirisasi tambang merupakan prioritas utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam menciptakan ekosistem kendaraan listrik (EV). “Kawasan industri berbasis nikel yang kami kunjungi hari ini ditargetkan beroperasi terintegrasi dari mulut tambang hingga menghasilkan produk baterai listrik,” ujar Agus saat mengunjungi Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (28/11/2024).
Dalam kunjungan tersebut, Agus memimpin persiapan groundbreaking tiga proyek besar di kawasan industri IWIP dengan total investasi mencapai 2 miliar dolar AS. Proyek tersebut meliputi; Pabrik Battery Cell PT REPT BATTERO, yang akan memiliki kapasitas produksi hingga 20 GWh per tahun dan total investasi 730 juta dolar AS.
Baca juga : Petani Swadaya Indonesia Raih Sertifikasi RSPO di Thailand
Selanjutnya, pabrik e-dump truck PT Qingtuo Automotive Manufacturing Indonesia, yang dirancang untuk mendukung pengurangan emisi karbon di area tambang dengan total investasi 693 juta dolar AS. Kemudian, Industri Electrolytic Aluminum PT Kemajuan Alumina Industry, dengan kapasitas produksi 1 juta ton per tahun dan nilai investasi sebesar 655 juta dolar AS.
Ketiga proyek ini ditargetkan selesai konstruksi antara tahun 2025 hingga 2027 dan akan mendukung hilirisasi industri berbasis energi baru serta penurunan emisi karbon.
Selain memimpin groundbreaking, Menperin juga meninjau pelepasan ekspor perdana precursor Nickel Cobalt Manganese Hydroxide dari PT Huaneng New Material. Produk ini memiliki kapasitas produksi 50.000 ton per tahun dan menjadi ekspor precursor pertama dari Indonesia, yang dijadwalkan diresmikan oleh Presiden Prabowo pada awal 2025.
IWIP merencanakan investasi tambahan sebesar 8 miliar dolar AS pada 2025. Sebesar 5 miliar dolar AS akan digunakan untuk pengembangan industri baterai dan pembangunan smelter HPAL. Sementara 2 miliar dolar AS dialokasikan untuk proyek energi hijau, termasuk pembangkit listrik tenaga surya (2 GW) dan tenaga bayu (800 MW) yang ditargetkan selesai pada 2026.
Presiden Direktur IWIP, Xiang Binghe memproyeksikan, tambahan investasi ini akan meningkatkan kontribusi terhadap PDB nasional hingga 1 persen. Saat ini, IWIP telah menyerap 81.000 tenaga kerja dari target 100.000 orang pada tahun depan, dan merealisasikan investasi sebesar 15 miliar dolar AS dari total komitmen 20 miliar dolar AS.
Kemenperin juga siap mendukung pengembangan SDM untuk kawasan IWIP melalui pembangunan politeknik yang bertujuan menjembatani kebutuhan tenaga kerja industri dengan masyarakat lokal. Kawasan IWIP juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti bandar udara seluas 2.200 meter persegi, power plant, dan pelabuhan khusus untuk mendukung efisiensi produksi.
Baca juga : 4 Dubes Arab Kunjungi Gorontalo Jajaki Investasi
“Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dengan IWIP dalam mempercepat pengembangan kapasitas SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri,” tutup Agus.
Hilirisasi tambang dan penguatan industri berbasis sumber daya alam diproyeksikan tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional tetapi juga memperkokoh posisi Indonesia sebagai pemain global dalam ekosistem kendaraan listrik dan energi hijau.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya