Dark/Light Mode

Hari Desa Ke-11, Mendagri Serukan Hidupkan Desa & Tekan Urbanisasi

Rabu, 15 Januari 2025 15:15 WIB
Mendagri Tito Karnavian peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2025 yang  berlangsung di Lapangan Sepak Bola Cibeureum Kulon Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat  Rabu (15/1).
Mendagri Tito Karnavian peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2025 yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola Cibeureum Kulon Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat Rabu (15/1).

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam rangka memperingati Hari Desa Nasional yang ke-11, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menghidupkan kembali potensi desa sebagai pusat pembangunan dan mengurangi laju urbanisasi yang semakin meningkat.

Hal tersebut disampaikan Menteri Tito pada Musyawarah Desa Nasional (Musdesnas) dalam Rangka Peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2025 yang  berlangsung di Lapangan Sepak Bola Cibeureum Kulon Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat  Rabu (15/1).

Menurutnya, urbanisasi merupakan persoalan yang kerap dihadapi oleh sejumlah negara, terutama negara yang pembangunannya berorientasi pada perkotaan. 
Ia mengambil contoh permasalahan urbanisasi yang dihadapi negara maju, seperti Jepang dan Korea Selatan. Masyarakat di kedua negara tersebut terutama yang berusia produktif banyak yang meninggalkan desa. Akibatnya, berbagai potensi yang dimiliki desa kurang dimanfaatkan.

Baca juga : 48 Tahun Haji Isam, Terus Menebar Manfaat Terbaik

"Maka problem yang terbesar di sana adalah bagaimana mengembalikan mereka yang di kota untuk ke desa," katanya.

Selain itu, kata Mendagri, kehidupan kota di kedua negara tersebut sangat kompetitif. Ini membuat masyarakat berlomba-lomba untuk mengenyam pendidikan sampai jenjang tertinggi. Dengan harapan, setelahnya, mereka akan mendapatkan pekerjaan untuk membiayai kehidupan di kota.

Hal ini kemudian berdampak terhadap rendahnya keinginan untuk menikah di kalangan penduduk usia produktif. Akibatnya populasi penduduk di negara tersebut menurun. "Nah akibatnya apa yang terjadi? Penduduk mereka usia muda makin lama makin berkurang. Itu disebut dengan populasi yang makin menciut," ujarnya.

Baca juga : Top, Indonesia Kembali Serahkan Bantuan Kemanusiaan Ke Vanuatu

Dirinya berharap, Indonesia tidak mengalami kondisi seperti di dua negara tersebut. Indonesia, kata dia, belum terlambat untuk mencegah laju urbanisasi yang tak terkendali. Hal ini mengingat persentase jumlah masyarakat yang tinggal di kota dan desa terbilang merata, yakni 56 persen di kota dan 44 persen di desa. Angka kelahiran di Indonesia pun terbilang cukup tinggi.

“Sehingga anak mudanya jauh lebih banyak daripada yang orang tuanya. Itu yang kita sebut dengan bonus demografi,” jelasnya.

Karena itu, lanjut Mendagri, Pemerintah terus berupaya membangun desa agar lebih hidup dan mandiri. Hal ini seperti memperkuat sistem pemerintahan desa dan memastikan anggaran desa yang disalurkan kepada masyarakat tepat sasaran. Indonesia juga memiliki kementerian khusus yang mengurusi desa, yakni Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.