Dark/Light Mode

Di Retret Magelang, Menag Ajak Kepala Daerah Jaga Kerukunan Umat Beragama

Kamis, 27 Februari 2025 09:37 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan materi di Retreat kepala daerah di Magelang, Rabu (26/02).
Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan materi di Retreat kepala daerah di Magelang, Rabu (26/02).

RM.id  Rakyat Merdeka - Nasaruddin Umar mengajak seluruh kepala daerah yang mengikuti giat Retreat di Magelang, untuk bersama menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. 

Menurutnya, itu menjadi salah satu kekuatan Indonesia di mata dunia di tengah kemajemukannya.

“Saya sudah meneliti, tidak ada negara yang paling plural seplural Indonesia. Ada 17 ribu pulau, 1.300 suku, 718 bahasa lokal, tidak ada negara yang paling plural seplural Indonesia. Kita bisa mengatakan, kontributor tertinggi terhadap kedamaian Indonesia itu adalah kerukunan umat beragama,” ujar Menteri Agama Nasaruddin saat memberikan materi di retreat kepala daerah di Magelang, Rabu (26/02).

Menag menceritakan, bahwa Indonesia sudah empat kali diprediksi akan bubar, seperti Uni Soviet dan Balkan. Tapi tahun-tahun yang dimaksudkan terlewat tanpa adanya konflik. Dan temuan mereka yang memprediksi tersebut, menjelaskan bahwa kekuatan kerukunan antarumat beragama lah yang menjadi kunci Indonesia bisa tetap eksis hingga saat ini.

Baca juga : Menko Polkam Ajak Kepala Daerah Jaga Stabilitas, Peran Forkopimda Harus Optimal

“Jadi kalau umat beragama itu rukun, tidak ada kekuatan manapun yang bisa mengacak-acak Indonesia ini,” kata Menag dikutip dari laman kemenag .

Menag pun menjelaskan, pentingnya peran Kementerian Agama dalam mewujudkan kerukunan di setiap daerah. Karena itu, Ia meminta seluruh kepala daerah untuk bersinergi dalam mewujudkan hal tersebut.

“Sebagai pemimpin lokal, jangan sampai nanti tidak mau membantu Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kepentingan-kepentingan institusi keagaman di daerah itu sangat penting loh Bapak,” ujarnya.

Menurut Menag, jika kerukunan umat beragama tidak terjaga, kekuatan ekonomi pun sudah tak berarti. Nilai ekspor yang tinggi, kurva-kurva ekonomi yang terus meningkat, tidak akan berarti jika negara berada dalam kondisi kacau dan berada di tengah-tengah kerusuhan.

Baca juga : Wapres: Kepala Daerah Harus Satu Visi Dengan Presiden

Menag meminta pemerintah daerah juga harus memberikan perhatian khusus terhadap fenomena konflik yang berbasis keagamaan. 

“Jangan terlambat Bapak Ibu, Kalau terlambat sedikit, itu dahsyat (akibatnya), kita pernah punya pengalaman di Poso, di Kalimantan dan beberapa tempat. Makanya itu kita harus turun ke lapangan untuk mendeteksinya sejak dini,” ucapnya.

“Makanya jangan coba-coba ada yang memperatasnamakan agama untuk kepentingan lokal, kepentingan jangka pendek. Sebab dahsyat agama itu seperti nuklir. Nuklir itu bisa menjadi sumber energi yang paling murah tapi bisa menjadi senjata yang paling mematikan,” ungkapnya.

Oleh karenanya, Menag juga mengajak seluruh Kepala Daerah untuk menjadikan agama sebagai kekuatan untuk membangun dan meraih kepentingan bangsa. 

Baca juga : Jaksa Agung Ingatkan Tak Ada Tempat Aman bagi Koruptor

“Jadi kalau kita menekankan aspek sentripetalnya agama, agama itu akan menjadi faktor pemicu yang amat dahsyat untuk meraih pembangunan itu. Tapi kalau agama tampil sebagai sentripetal faktor pemecah belah, itu dahsyat akibatnya,” tegasnya

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.