Dark/Light Mode

Industri Mulai Pulih, PMI Manufaktur Indonesia Salip Jepang Dan Korea

Sabtu, 2 Agustus 2025 09:32 WIB
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: Kemenperin)
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sektor industri manufaktur Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan di awal semester kedua 2025. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juli tercatat sebesar 49,2, naik 2,3 poin dibandingkan Juni yang hanya 46,9.

Kenaikan ini merupakan yang pertama dalam empat bulan terakhir dan menandai membaiknya kondisi industri dalam negeri. Capaian ini bahkan melampaui PMI sejumlah negara seperti Jepang (48,8), Prancis (48,4), Inggris (48,2), Korea Selatan (48,0), dan Taiwan (46,2).

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, kenaikan PMI merupakan cerminan dari mulai pulihnya sentimen pelaku industri nasional. “PMI naik karena beberapa minggu terakhir terdapat dinamika kebijakan yang membuat pelaku industri lebih optimistis,” ujarnya, Jumat (1/8/2025).

Ia menyebut, salah satu pendorong optimisme adalah keberhasilan negosiasi tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat yang dinilai memberi keuntungan bagi produk industri dalam negeri. “Berkat kepiawaian Bapak Presiden Prabowo dalam bernegosiasi, Indonesia berhasil memperoleh tarif yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan negara-negara pesaing,” tuturnya.

Baca juga : Info BMKG Rilis Peringatan Tsunami Di Timur Indonesia Usai Gempa Magnitudo 8,6

Selain itu, kemajuan perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) juga turut meningkatkan harapan pelaku industri, karena akan membuka akses ekspor ke pasar Eropa secara lebih luas.

Febri juga menyoroti pentingnya revisi Permendag No. 8 Tahun 2024 yang memberikan perlindungan terhadap sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), serta perlunya kebijakan serupa untuk sektor industri lainnya. “Pelaku usaha di sektor lain juga menanti kebijakan yang adil dan memberikan kepastian,” ucapnya.

Meski begitu, dunia usaha masih menunggu kepastian teknis dari kesepakatan dagang dengan AS, terutama menyangkut non-tariff barriers (NTB) dan non-tariff measures (NTM). Febri menegaskan bahwa bea masuk nol persen hanya seharusnya berlaku untuk barang yang benar-benar diproduksi di AS, bukan yang sekadar bermerek Amerika.

Kemenperin juga terus menyoroti keberlanjutan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), khususnya untuk produk Handphone, Komputer Genggam, dan Tablet (HKT). Menurutnya, kebijakan ini menjadi pemicu penting untuk menarik investasi industri ke Indonesia.

Baca juga : Babak Pertama, Indonesia Vs Thailand Masih 0-0

Di sisi lain, meskipun PMI mengalami kenaikan, tantangan masih membayangi sektor manufaktur. Survei mencatat penurunan permintaan ekspor, berkurangnya tenaga kerja, serta meningkatnya harga input akibat konflik geopolitik dan pelemahan rupiah. Banyak perusahaan juga mengandalkan stok lama untuk memenuhi pesanan alih-alih melakukan pembelian baru.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menyatakan tekanan biaya semakin intensif sejak awal semester kedua 2025. “Inflasi biaya tertinggi dalam empat bulan terakhir, dipicu kenaikan harga bahan baku dan fluktuasi nilai tukar,” ungkapnya.

Terkait penggunaan indikator, Kemenperin menegaskan bahwa tidak menggunakan PMI sebagai dasar kebijakan. “Kami menggunakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), yang jauh lebih komprehensif karena melibatkan lebih dari 3.000 perusahaan dari 23 subsektor,” jelas Febri.

IKI dinilai lebih mencerminkan kondisi industri secara nasional dibanding PMI yang berbasis pada survei terhadap sekitar 500 perusahaan. IKI menghimpun data primer langsung dari pelaku industri, mencakup produksi, permintaan, tenaga kerja, dan ekspektasi bisnis.

Baca juga : John Tabo Minta Papua Pegunungan Diharumkan

“Kami optimis bahwa melalui kebijakan yang konsisten dan berpihak pada industri dalam negeri, serta menjaga keseimbangan dalam perjanjian dagang internasional, sektor manufaktur Indonesia akan kembali ekspansif,” pungkas Febri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.