Dark/Light Mode

RI–Kongo Perkuat Kerja Sama Bangun Pasar Karbon Berintegritas Tinggi

Kamis, 13 November 2025 13:53 WIB
Wamenhut Rohmat Marzuki bertemu Menteri Lingkungan Hidup Kongo Marie Nyange Ndambo di COP-30, membahas kerja sama pasar karbon dan perlindungan hutan tropis. (Dok. Kemenhut)
Wamenhut Rohmat Marzuki bertemu Menteri Lingkungan Hidup Kongo Marie Nyange Ndambo di COP-30, membahas kerja sama pasar karbon dan perlindungan hutan tropis. (Dok. Kemenhut)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia dan Republik Demokratik Kongo sepakat memperkuat kolaborasi dalam membangun pasar karbon berintegritas tinggi berbasis pengelolaan hutan tropis. Kesepakatan itu terjalin dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, dan Menteri Lingkungan Hidup Pembangunan Berkelanjutan dan Ekonomi Iklim Baru Republik Demokratik Kongo, Marie Nyange Ndambo, di sela KTT Iklim COP 30, Belem, Brasil, Selasa (10/11/2025).

Dalam pertemuan itu, Indonesia memuji langkah Kongo dalam membangun tata kelola pasar karbon nasional melalui pembentukan Autorité de Régulation des Marchés du Carbone (ARMCA).

“Ini langkah maju yang luar biasa. Indonesia menghargai kepemimpinan DRC di kawasan Basin Kongo,” ujar Wamenhut Rohmat.

Baca juga : Perkuat Kerja Sama Kehutanan Global, Wamenhut Temui UNEP Di COP-30

Rohmat menjelaskan Indonesia juga tengah memperkuat kebijakan pasar karbon melalui Perpres 110/2025, yang menempatkan perdagangan karbon sebagai instrumen utama pertumbuhan hijau. Unit karbon dari reboisasi, restorasi mangrove, dan agroforestri dapat diperdagangkan di dalam dan luar negeri. Untuk itu, berbagai regulasi sektoral kini diperbarui, mulai dari perdagangan karbon kehutanan, zonasi hutan, hingga peraturan baru pemanfaatan jasa lingkungan.

Langkah ini, kata Rohmat, sejalan dengan agenda besar FOLU Net Sink 2030. Indonesia menargetkan sektor kehutanan menjadi penyerap bersih emisi pada 2030, termasuk melalui rehabilitasi 10 juta hektare lahan terdegradasi dan pengembangan bioenergi sawit yang dapat menghasilkan 24 juta kiloliter bioethanol.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia juga memaparkan pencapaian program perhutanan sosial yang telah membuka akses kelola 8,4 juta hektare hutan dan menciptakan 5,6 juta lapangan kerja hijau. Pengakuan hutan adat turut diperkuat dengan pembentukan Satgas Percepatan Penetapan Hutan Adat.

Baca juga : Lintasarta Perkuat Peran Sentral dalam Konektivitas AI di Indonesia

Rohmat menegaskan Indonesia ingin menjadi pusat global pasar karbon berkelanjutan. Kerja sama dengan International Emissions Trading Association (IETA) dan Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) menjadi bagian dari upaya membangun pasar karbon yang kredibel dan terhubung secara global.

Dalam konteks kerja sama Selatan-Selatan, Indonesia dan Kongo sepakat memperkuat kolaborasi melalui International Tropical Peatlands Center (ITPC) dan melanjutkan koalisi yang dibangun sejak COP Glasgow bersama Brasil. Koordinasi intensif akan dilakukan untuk memperkuat kerja sama tersebut.

“Indonesia siap berkolaborasi dengan Republik Demokratik Kongo dalam memperkuat pasar karbon di sektor kehutanan. Kita berbagi komitmen yang sama: melindungi hutan tropis sambil mendorong kemakmuran ekonomi dan sosial,” tegas Rohmat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.