Dark/Light Mode

Seskab Teddy Luruskan Isu Miring Pemerintah Lambat Tangani Bencana Sumatera

Jumat, 19 Desember 2025 13:48 WIB
Seskab Teddy Indra Wijaya (tengah) diapit Mensesneg Prasetyo Hadi (kiri) dan Menteri PU Dody Hanggodo dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Bencana Sumatera di Jakarta, Jumat (19/12/2025). (Foto: YouTube)
Seskab Teddy Indra Wijaya (tengah) diapit Mensesneg Prasetyo Hadi (kiri) dan Menteri PU Dody Hanggodo dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Bencana Sumatera di Jakarta, Jumat (19/12/2025). (Foto: YouTube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya blak-blakan menanggapi isu miring yang menyebut pemerintah lambat dalam menangani bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).

"Saya mau cerita begini, jadi sejak tanggal 24, 25, 26 November itu hujan di tiga lokasi. Kemudian, puncaknya itu di tanggal 25 dan 26. Tanggal 26, Pak Kepala BNPB langsung ke Sumatera Utara. Saat itu, beliau posisinya di Lumajang karena kita masih ada bencana juga. Erupsi Semeru di Lumajang," papar Seskab Teddy dalam Konferensi Pers Penanggulangan Bencana Sumatera di Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Di lapangan, seluruh petugas TNI, Polri, Basarnas sebagaimana disampaikan Panglima TNI Agus Subiyanto dan KSAD Maruli Simanjuntak, juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), langsung bekerja di detik pertama, hari pertama kejadian. "Tanpa kamera," cetus Seskab Teddy.

Hari itu juga, lanjutnya, Presiden Prabowo menghubungi Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution, yang saat itu berada di Bandara, mau ke Silangit. Setelahnya, Prabowo menelepon Bupati  Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu. Dengan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu, tidak tersambung. Tapi, tersambung dengan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi via WhatsApp. Kepala Daerah lainnya, juga dihubungi Presiden.

Di hari itu juga, Presiden meminta Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno untuk mengkoordinir dan memobilisasi segala kekuatan yang dimiliki pemerintah.

"Tanggal 27, seluruh helikopter yang ada di Pulau Sumatera, langsung bergerak ke Padang, Medan, dan Banda Aceh. Seluruh helikopter dan pesawat yang ada di Jawa, juga digerakkan ke Sumatera," beber Seskab Teddy.

Baca juga : Asetnya Tembus Rp 1.028 Triliun, Pengembangan Bank Syariah On The Track

"Dari Jawa ke Sumatera, helikopter butuh 13 sampai 15 jam terbangnya. Di tanggal 27 itu juga, beberapa heli tiba ke Banda Aceh. Angkat genset PLN, angkat logistik. Tidak ada media di situ, tidak ada kamera di situ," imbuhnya.

Di tanggal yang sama, seluruh kekuatan TNI-Polri, mungkin ada sekitar 20 ribu pasukan bergerak mengevakuasi warga dan melakukan penanganan bencana.

Baru di tanggal 28, ada pelepasan pesawat. Empat pesawat dan 15 helikopter tiba di lokasi bencana. 

"Baru kita undang rekan-rekan media. Jadi semuanya itu, sejak hari pertama, saya pastikan sudah berjuang keras, secepat mungkin di sana. Dan sampai sekarang, totalnya mungkin ada lebih dari 80 helikopter, pesawat TNI, Polri, Basanas, Polisi, Gabungan Swasta, dibantu Susi Air, dibantu rekan-rekan semuanya. Sampai sekarang, setiap harinya," jelas Seskab Teddy.

Di hari ke-5 dan 6, Presiden Prabowo turun langsung ke lokasi bencana. Diikuti Wapres Gibran Rakabuming Raka dan menteri-menteri lainnya. Juga Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Diperoleh informasi, jalur lintas di 52 kabupaten terputus. Sejak awal, listriknya hampir mati. Sedikit demi sedikit tapi pasti, tersambunglah jalan di 52 kabupaten itu di tanggal 30 November. Nyala lah listrik. 

Baca juga : Cegah Banjir Susulan, Pemerintah Lakukan Modifikasi Cuaca di Sumatera

"Gimana bisa nyambung? Gimana bisa nyala? 
Semuanya kita ini, termasuk warga setempat, itu sama-sama sambungkan jalan. Petugas PLN ngangkut di tengah hujan, di atas gunung, segala macam, tanpa kamera. Jadi, yang saya mau tekankan di sini, ayo sama-sama bantu semuanya, saling dukung," ujar Seskab Teddy.

Hingga saat ini, Presiden sudah tiga kali datang ke Aceh, mengunjungi enam kabupaten terdampak bencana. Selain itu, Presiden juga sudah dua kali datang ke Sumatera Utara, dan dua kali ke Sumatera Barat, masing-masing empat kabupaten. Wapres Gibran juga demikian, sudah dua kali datang ke lokasi bencana.

"Bapak Presiden pertama ke Kutacane, Aceh Tenggara. Langsung meninjau jembatan yang putus, datang ke pengungsian. Orang bilang, jangan ke sana Pak, jangan ke pengungsian aja, bikin jembatan Pak. Bapak Presiden lalu ke Bireuen, bikin jembatan di sana. Dalam seminggu, tersambung," urai Seskab Teddy.

Setelah jembatan jadi, Presiden diminta rapat di Aceh. Presiden pun menggelar rapat di Banda Aceh, dengan membawa 15 menteri dan perangkatnya. Kemudian, ada lagi permintaan dari pihak tertentu, agar Presiden datang ke daerah yang terparah, yang baru terbuka jalur daratnya.

Presiden lalu mengunjungi Aceh Tamiang. Tapi kemudian dibilang lagi, datangnya jangan ke Aceh Tamiang. Coba datang ke daerah yang di tengah, yang nggak tembus jalur darat.

Kemudian setelah itu, Presiden datang lagi ke Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, ke Takengon.

Baca juga : BNPB Pastikan Lokasi Hunian Sementara Aman Dari Potensi Bencana

"Jadi yang saya mau sampaikan di sini, sejak hari pertama, detik pertama, pemerintah beserta warga sudah sama-sama berjuang keras, mengevakuasi warga, dan bagaimana caranya ini segera pulih," pungkas Seskab Teddy. 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.