Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bos Baru BGN Benahi MBG Kualitas Layanan Ditingkatkan, Penerima Manfaat Ditata Ulang
Rabu, 10 Juni 2026 03:02 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang langsung bergerak membenahi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah dilantik. Fokus utamanya meningkatkan kualitas layanan, menata ulang penerima manfaat agar lebih tepat sasaran, serta memastikan keberlanjutan program tanpa membebani keuangan negara.
Nanik mengatakan, terdapat empat langkah strategis yang akan dijalankan dalam menata ulang pelaksanaan program MBG di seluruh Indonesia.
Langkah pertama, melakukan efisiensi anggaran melalui moratorium pembangunan dapur dan titik layanan baru. Kebijakan ini diambil untuk menata kembali distribusi dapur yang saat ini dinilai belum merata.
"Agar tidak membebani anggaran negara pada saat ini, dengan tidak mengubah target dari yang kita berikan gizi," kata Nanik usai dilantik di Istana Negara, Jakarta, Senin sore (8/6/2026).
Menurutnya, saat ini terdapat 27.877 dapur operasional yang tercatat berdasarkan virtual account di BGN.
Untuk itu, pihaknya menghentikan sementara pembangunan maupun pendaftaran dapur baru sambil melakukan evaluasi kebutuhan di setiap daerah.
"Kita akan tata. Apakah dapur ini sudah bisa melayani penerima manfaat yang ada atau sebetulnya malah kelebihan. Artinya, kita nggak buka yang baru dulu maupun pendaftarannya," ujarnya.
Baca juga : Pemerintah Kejar Satu Basis Data Nasional
Langkah kedua adalah melakukan refocusing atau penajaman sasaran penerima manfaat. BGN akan memastikan program benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan intervensi gizi.
Nanik menilai, tidak semua kelompok perlu menjadi penerima manfaat MBG, terutama sekolah-sekolah yang dinilai telah memiliki kondisi gizi yang baik.
"Rasanya tidak perlu ya kalau misalnya sekolah-sekolah kaya. Kan ini pasti di rumah gizinya juga lebih bagus. Jadi, kita lebih arahkan nanti benar-benar pada anak-anak atau penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi," jelasnya.
Saat ini, ungkap Nanik, jumlah penerima manfaat MBG mencapai sekitar 63 juta orang. BGN akan meninjau kembali data tersebut agar distribusi bantuan menjadi lebih tepat sasaran.
Langkah ketiga adalah memperkuat pengawasan kualitas layanan. Nanik menegaskan, fokus BGN ke depan bukan lagi mengejar kuantitas penerima manfaat semata, melainkan memastikan kualitas layanan yang diberikan sesuai standar.
"Kami juga sudah sampaikan ke Presiden, tahun 2026 kita bukan mengejar kuantitas, tapi kualitas. Sehingga, kami akan mengecek apakah dapur-dapur yang sekarang ada ini sesuai dengan juknis atau tidak. Nanti akan kita grading," tuturnya.
Kemudian, langkah keempat adalah menyusun skema pembiayaan alternatif bagi pelaksanaan MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca juga : DoctorSHARE Dan Bayan Peduli Bawa Layanan Kesehatan Ke Pulau Marabatuan
BGN berencana menggandeng investor, memanfaatkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga membuka peluang pendanaan melalui hibah.
"Kami coba kerja samakan, bisa dibiayai dengan CSR BUMN atau mungkin ada hibah dari luar negeri. Mungkin juga kalau di tempat itu ada perusahaan-perusahaan besar yang berinvestasi. Masa sih bikin dapur untuk masyarakat di situ nggak mau, kan nggak mahal juga," ucap Nanik.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, berbagai evaluasi yang dilakukan BGN merupakan bagian dari upaya mencari pola terbaik dalam pelaksanaan MBG, terutama di wilayah yang memiliki karakteristik berbeda.
"Tidak semua wilayah memungkinkan untuk dibuat seragam secara sistem," kata Prasetyo.
Menurutnya, sejumlah alternatif sedang dikaji oleh jajaran pimpinan baru BGN, termasuk kemungkinan melibatkan kantin sekolah dalam pelaksanaan program di daerah tertentu.
"Tapi semua sedang dikaji oleh teman-teman pimpinan BGN yang baru," ujarnya.
Prasetyo menegaskan, evaluasi yang dilakukan tidak berarti seluruh sistem yang telah berjalan akan dirombak total. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki kondisi berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula.
Baca juga : Jemput Bola! Samsat Balaraja Turun ke Lapangan Demi Dongkrak Pendapatan Daerah
"Semua direview, tapi bukan berarti akan diganti atau semua dirombak total. Kalau pun ada catatan-catatan, masalah, sesungguhnya itu tidak terjadi di semua dapur SPPG. Penanganan masing-masing tentu berbeda," tegasnya.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mendukung penuh empat langkah yang disiapkan pimpinan baru BGN.
"Saya sangat mendukung dan mengapresiasi langkah-langkah yang telah ditetapkan jajaran pimpinan baru BGN," kata Budi.
Budi mengatakan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) siap mendukung melalui penyediaan tenaga ahli kesehatan dan gizi anak untuk membantu BGN.
"Silakan siapa pun yang dipilih, kami menyiapkan yang terbaik, silakan Ibu yang memutuskan," ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya