Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kementan Terus Perkuat Hilirisasi Ekspor Hortikultura Indonesia Ke Mancanegara
Minggu, 14 Juni 2026 17:39 WIB
Sebelumnya
Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia, Effendy Ghazali, menilai potensi ekonomi ekspor hortikultura Indonesia, khususnya durian, masih sangat besar dan belum tergarap maksimal.
Menurut Effendy, pasar global durian bernilai ratusan triliun rupiah dan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil bagian lebih besar dari pasar tersebut.
"Kalau bicara pasar, 10 persen saja nilainya bisa mencapai Rp12,8 triliun. Artinya ada potensi pasar sekitar Rp128 triliun yang bisa dimanfaatkan. Ini peluang ekonomi yang luar biasa," katanya.
Namun demikian, Effendy menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membangun citra durian nasional di pasar internasional. Selama ini, banyak konsumen dunia lebih mengenal durian dari negara lain meskipun Indonesia memiliki keragaman genetik dan sumber daya yang jauh lebih besar.
Baca juga : Jalankan Peran Penggerak Hilirisasi, MIND ID Optimalkan Kontribusi Bagi Negara
"Durian sebenarnya merupakan komoditas yang sangat dicintai pasar. Tantangannya sekarang bagaimana Indonesia membangun narasi, edukasi dan branding sehingga durian Indonesia menjadi identitas yang dikenal dunia," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura Kementan, Fauziah T. Ladja, mengungkapkan Indonesia saat ini merupakan produsen durian terbesar kedua di Asia setelah Thailand dengan produksi mencapai 1,41 juta ton per tahun. Meski demikian, produktivitas kebun durian Indonesia masih tertinggal dibanding negara pesaing.
"Thailand memproduksi sekitar 1,7 juta ton per tahun dengan produktivitas mencapai 12,1 ton per hektare. Indonesia memang memiliki lahan yang lebih luas, tetapi produktivitas kita masih sekitar 7,8 ton per hektare," kata Fauziah.
Menurutnya, salah satu penyebab rendahnya produktivitas adalah sekitar 90 persen tanaman durian Indonesia masih tumbuh secara alami di kawasan hutan dan belum dikelola secara intensif dalam kawasan budidaya modern.
Baca juga : Kemenhut Luncurkan Leverage, Perkuat Pelaporan Hukum Kehutanan
Padahal Indonesia memiliki keunggulan berupa lahan yang luas dan kekayaan sumber daya genetik yang sangat besar.
"Potensi kita luar biasa. Kita memiliki lahan yang luas dan keragaman varietas yang sangat kaya. Yang perlu dilakukan sekarang adalah meningkatkan produktivitas dan pengelolaan agar mampu memenuhi pasar ekspor," ujarnya.
Dari sisi ekspor, Indonesia saat ini berada di posisi keempat dunia setelah Thailand, Vietnam dan Malaysia. Volume ekspor durian Indonesia masih sekitar 9.500 ton per tahun, jauh di bawah total produksi nasional yang mencapai 1,41 juta ton.
"Artinya ada kesenjangan yang sangat besar antara produksi dan ekspor. Ini sekaligus menunjukkan peluang yang masih terbuka lebar untuk meningkatkan ekspor ke depan," kata Fauziah.
Baca juga : Kemenhut-YKAN Perkuat Transformasi Kehutanan Berkelanjutan
Ia menjelaskan, setelah penandatanganan protokol ekspor buah segar ke China pada Januari 2023, kinerja ekspor durian Indonesia mengalami lonjakan drastis.
"Pertumbuhan ekspor durian Indonesia setelah dibukanya akses ekspor buah segar ke China mencapai sekitar 2.900 persen. Dengan usia ekspor yang baru sekitar dua tahun, capaian ini sangat luar biasa," ujarnya.
Fauziah optimistis Indonesia dapat menjadi pemain utama pasar durian dunia apabila mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat hilirisasi dan menjaga kualitas produk secara berkelanjutan.
"Kita memang pemain baru di pasar ekspor durian global, tetapi pertumbuhan kita sangat cepat. Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia bisa menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan di pasar dunia," katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya