Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tina Talisa Soroti Keamanan Dan Keberlanjutan Energi Panas Bumi
Kamis, 15 Oktober 2026 15:18 WIB
Sebelumnya
Manager Laboratory Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Teza Permana, menjelaskan, Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar karena berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yang memiliki aktivitas vulkanik tinggi.
Panas dari magma memanaskan batuan di kerak bumi. Panas tersebut kemudian memanaskan fluida yang berada di celah dan pori-pori batuan hingga membentuk sistem reservoir panas bumi.
Menurut Teza, pengeboran panas bumi umumnya dilakukan hingga kedalaman sekitar 2.000 meter atau dua kilometer di bawah permukaan tanah. Kedalaman tersebut masih berada di lapisan kerak bumi, jauh dari inti bumi yang terletak ribuan kilometer di bawah permukaan.
Baca juga : Pengembangan PLTP Gunung Ungaran: Menjaga Energi, Air, Alam, dan Warisan Budaya
“Itulah yang menjadi target pengeboran kita di reservoir panas bumi. Sebetulnya yang kita bicarakan adalah bagian kulit luarnya saja,” ujar Teza.
Ia menjelaskan, air yang digunakan masyarakat umumnya berasal dari akuifer dangkal yang mendapat pasokan dari air permukaan. Sementara itu, fluida panas bumi berada dalam sistem reservoir yang lebih dalam, dengan karakteristik temperatur dan tekanan berbeda. Perbedaan karakteristik tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan sumber daya air pada kegiatan panas bumi.
Teza juga memaparkan mekanisme pemanfaatan dan pengembalian fluida dalam operasional PLTP. Uap panas dari reservoir digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik, sedangkan air hasil proses produksi dikembalikan ke bawah permukaan melalui sumur injeksi.
Baca juga : Pemerhati Budaya: PLTP Tak Pengaruhi Situs Budaya, Kelestariannya Tetap Terjaga
“Yang kita manfaatkan itu adalah steam-nya. Steam-nya itu akan kita gunakan untuk memutar turbin. Turbin berputar akan menghasilkan listrik yang kita distribusikan kepada masyarakat,” jelas Teza.
Menurutnya, sumur produksi dan sumur injeksi ditempatkan di titik berbeda untuk menjaga kondisi reservoir. Pengaturan ini diperlukan karena fluida yang diinjeksikan kembali memiliki temperatur lebih rendah dibandingkan fluida dari sumur produksi.
Jika tidak dikelola dengan tepat, fluida yang lebih dingin dapat mencapai sumur produksi terlalu cepat dan memengaruhi entalpi atau kandungan energi fluida panas bumi. “Karena temperatur di sumur injeksi itu sedikit lebih rendah dibandingkan sumur produksi,” katanya.
Baca juga : UGM: PLTP Ungaran Berpotensi Perkuat Listrik dan Ekonomi Jateng
Entalpi merupakan besaran termodinamika yang menggambarkan kandungan energi suatu fluida. Dalam sistem panas bumi, perubahan entalpi fluida produksi dapat memengaruhi energi panas yang tersedia untuk menghasilkan listrik.
Karena itu, pengaturan lokasi dan laju injeksi menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas reservoir serta keberlanjutan pasokan energi panas bumi. Mekanisme reinjeksi juga menjadi bagian dari upaya mengelola fluida dalam sistem produksi panas bumi. Air hasil proses produksi dikembalikan ke reservoir melalui sumur injeksi.
Dengan demikian, pengelolaan PLTP tidak semata-mata bergantung pada pengambilan air dari akuifer dangkal yang digunakan masyarakat. Meski demikian, perlindungan sumber air tetap membutuhkan pengelolaan sumur yang baik serta pemantauan lingkungan secara berkala.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya