Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- 3 Debutan Tunggal Putra Indonesia Siap Tampil di Asian Games 2026
- Gempa Darat M2,7 Guncang Bandung, Kedalaman 4 Km
- Jadi Player of the Match, Teja Dedikasikan Kemenangan Persib Buat Bobotoh
- Dilarang Ikut Tes Pirelli, Quartararo Sempat Ogah Bantu Yamaha
- Barcelona-Atletico Menang Telak, Puncak Klasemen Makin Ketat
Pemerhati Budaya: PLTP Tak Pengaruhi Situs Budaya, Kelestariannya Tetap Terjaga
Kamis, 17 September 2026 12:02 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Keberadaan situs Waruga di sekitar kawasan Lahendong, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, disebut tetap terjaga meski Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong telah beroperasi lebih dari 25 tahun.
Ketua Lembaga Adat Kebudayaan Tombulu (LAKT) "Tawaang" Kota Tomohon, Ibrahim Ratulangi Tular, menegaskan operasional PLTP tidak memberikan dampak negatif terhadap keberadaan maupun kelestarian Waruga, yang merupakan bagian penting dari warisan budaya masyarakat Minahasa.
Waruga merupakan peninggalan budaya masyarakat Minahasa berupa peti kubur batu yang menjadi bagian dari sejarah dan tradisi masyarakat pada masa lalu.
Hingga kini, keberadaannya tetap dijaga sebagai warisan budaya, dengan sekitar 100 Waruga tersebar di wilayah Tomohon.
Baca juga : UGM: PLTP Ungaran Berpotensi Perkuat Listrik dan Ekonomi Jateng
“Sebagai warisan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Minahasa tentu kelestariannya harus terus dijaga. Namun, kita juga perlu melihat persoalan ini secara objektif berdasarkan kondisi di lapangan. Kehadiran dan operasional PLTP tidak memberikan pengaruh negatif terhadap keberadaan maupun kelestarian situs Waruga,” ujar Ibrahim.
Menurut Ibrahim, kelestarian lingkungan dan alam juga menjadi bagian penting dalam operasional pembangkit panas bumi.
Aktivitas PLTP Lahendong dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar serta ketentuan yang berlaku.
“Tidak tepat apabila keberadaan PLTP kemudian dikaitkan dengan ancaman terhadap situs budaya. Selama operasional dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan lingkungan, alam, dan warisan budaya, keduanya dapat berjalan beriringan,” tegas Ibrahim.
Baca juga : Pengamat: Energi Bersih Harus Didukung, Bukan Dihadang
Ibrahim menyebut, kondisi Waruga di sekitar kawasan Lahendong menjadi gambaran bahwa aktivitas pembangkitan listrik dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga warisan budaya.
“Kalau kita melihat kondisi Waruga yang ada di sekitar kawasan ini, keberadaannya tetap terjaga dan nilai sejarah serta budayanya tetap lestari. Ini menunjukkan bahwa keberadaan PLTP tidak menghilangkan ataupun mengurangi nilai Waruga sebagai warisan budaya,” jelas Ibrahim.
Selain situs budaya, Ibrahim mengatakan keberadaan dan operasional PLTP Lahendong juga tidak memengaruhi kebutuhan air tanah masyarakat Tomohon, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas perkebunan.
Menurutnya, hal tersebut terlihat dari terus berkembangnya sektor perkebunan dan budidaya bunga yang menjadi salah satu identitas Kota Tomohon.
Baca juga : Top, PLTP Kamojang Pasok Listrik Ke 260 Ribu Keluarga
“Selama ini tidak ada masalah dengan air tanah. Masyarakat tetap bisa menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari maupun berkebun. Bahkan Tomohon sekarang semakin dikenal sampai ke mancanegara sebagai kota penghasil bunga. Jadi, keberadaan PLTP tidak mengganggu kehidupan masyarakat maupun aktivitas perkebunan,” pungkas Ibrahim.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya