Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bahlil: Dunia Kini Lirik Produk Hijau, Transisi Energi Jadi Kunci Daya Saing
Kamis, 15 Oktober 2026 17:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Produk ramah lingkungan berbasis energi bersih kian menjadi incaran pasar global dan berpeluang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk yang dihasilkan dari energi fosil.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menegaskan, transisi energi menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Hal tersebut disampaikan Bahlil saat mewakili Presiden Prabowo Subianto membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10/2026).
"Produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry. Itu nilainya pasti jauh lebih tinggi ketimbang produk-produk yang dihasilkan daripada energi fosil," ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, persaingan produk di pasar global kini tidak lagi hanya ditentukan oleh harga, mutu, dan kapasitas produksi.
Baca juga : Beniyanto Dukung Strategi Bahlil Dongkrak Produksi Minyak Nasional
Sumber energi yang digunakan dalam proses industri juga menjadi faktor penting yang memengaruhi daya saing dan nilai jual produk.
Karena itu, transisi energi harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi nasional untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi sekaligus memenuhi tuntutan pasar global terhadap industri yang lebih ramah lingkungan.
Arah kebijakan tersebut tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
Pemerintah merencanakan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan sekitar 42,6 GW atau 61 persen di antaranya berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT).
Rencana pengembangan tersebut membuka potensi investasi hingga Rp 2.967,4 triliun. Pemerintah juga mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 GW yang terintegrasi dengan jaringan dan sistem penyimpanan energi.
Baca juga : Bawa Pesan Bahlil, Misbakhun Ajak Kader Golkar Sukseskan Program Prabowo
Selain itu, pengembangan ekosistem baterai dan bioenergi melalui penerapan biodiesel B50 serta bioetanol E20 disiapkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Manfaat transisi energi, lanjut Bahlil, tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang besar.
Pengembangan energi surya diproyeksikan menghasilkan penghematan sekitar Rp 73,9 triliun per tahun dan membuka 5,5 juta lapangan kerja.
Sementara itu, pengembangan bioenergi berpotensi menghemat devisa hingga Rp 170 triliun dan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
"Kalau ini mampu kita lakukan, Bapak-Ibu semua, saya yakin Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan untuk ekspor yang berkualitas dan juga mampu memberikan daya saing yang baik di mata dunia," tutur Bahlil.
Baca juga : Ekspor Nikel Ditargetkan Tembus USD 45 M pada 2026, Bahlil Andalkan Hilirisasi
Sinergi antara hilirisasi dan pengembangan energi bersih diharapkan mendorong transformasi ekonomi Indonesia, dari pemasok bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi.
Dengan dukungan pasokan energi yang andal dan rendah emisi, produk industri nasional diharapkan semakin kompetitif di pasar internasional sekaligus mampu menangkap peluang dari meningkatnya minat global terhadap produk hijau.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya