Dark/Light Mode

Perkuat Pasar Ekspor, Perkuat Jiwa Kewirausahaan

Selasa, 3 Desember 2024 22:57 WIB
Hendy Setiono, Founder & Group CEO Baba Rafi Enterprise sekaligus Ketua Komite Tetap Transformasi Supply Chain KADIN Indonesia. Foto: Istimewa
Hendy Setiono, Founder & Group CEO Baba Rafi Enterprise sekaligus Ketua Komite Tetap Transformasi Supply Chain KADIN Indonesia. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia masih menghadapi tantangan ketenagakerjaan yang kompleks dimana jumlah pengangguran dalam negeri masih terkategorisasi tinggi namun tidak diikuti dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih terdapat 7,2 juta pengangguran di Indonesia hingga Februari 2024.

Di satu sisi, permasalahan dalam ketersediaan lapangan pekerjaan pun semakin kompleks akibat adanya perkembangan teknologi serta perubahan gaya hidup masyarakat.

Baca juga : Teken MoU, RI-Kanada Perkuat Kemitraan Ekonomi

Sebut saja salah satu contohnya yaitu profesi tenaga admin pintu tol. Sejak diberlakukannya sistem pintu tol berbasis elektronik, atau e-toll yang dapat mempermudah para pengendara untuk memasuki gerbang tol, maka tenaga admin pintu tol lambat laun telah tergantikan.

Di satu sisi, gaya hidup masyarakat juga terus mengalami perubahan. Dahulunya, masyarakat gemar berbelanja kebutuhan dengan mendatangi pusat perbelanjaan secara offline, namun semenjak munculnya e-commerce, pusat perbelanjaan dipaksa untuk shifting. Tidak jarang, banyak pusat perbelanjaan pun yang gulung tikar. Berbagai situasi ini pun didaulat berkontribusi terhadap semakin menipisnya ketersediaan lapangan pekerjaan di masyarakat kita.

Salah satu sektor yang paling berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia adalah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, & Menengah). Hal ini selaras dengan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa keberadaan sektor UMKM mampu menyerap 97 persen tenaga kerja Indonesia.

Baca juga : Kapolri: Jaga Persatuan & Kesatuan

Tentunya, mengingat peran UMKM yang sangat krusial dalam penyerapan tenaga kerja, terselipkan sebuah ekspektasi yang sangat tinggi agar pelaku UMKM mampu bersikap agile dalam menghadapi situasi dinamis ini.

Agile yang dimaksud adalah para pelaku UMKM dituntut memiliki pemahaman menyeluruh mengenai pasar yang sedang mereka tuju, tidak mudah berpuas diri dengan pencapaian yang telah diperoleh, serta senantiasa berani untuk mengambil risiko yang terukur.

Sikap tidak mudah berpuas diri dengan pencapaian yang telah diperoleh inilah yang seringkali menjadi permasalahan utama para UMKM. Mindset “menjadi biasa-biasa saja”, juga seringkali menjadi penghambat UMKM di Indonesia berkembang di pasar ekspor. Padahal ada banyak sekali benefit yang dapat diperoleh ketika UMKM masuk di pasar ekspor.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.