Dark/Light Mode

Perkuat Pasar Ekspor, Perkuat Jiwa Kewirausahaan

Selasa, 3 Desember 2024 22:57 WIB
Hendy Setiono, Founder & Group CEO Baba Rafi Enterprise sekaligus Ketua Komite Tetap Transformasi Supply Chain KADIN Indonesia. Foto: Istimewa
Hendy Setiono, Founder & Group CEO Baba Rafi Enterprise sekaligus Ketua Komite Tetap Transformasi Supply Chain KADIN Indonesia. Foto: Istimewa

 Sebelumnya 
Selain perluasan pangsa pasar dan meningkatkan pendapatan UMKM, diversifikasi risiko menjadi benefit penting bagi UMKM. UMKM menjadi tidak terlalu bergantung terhadap suatu pasar domestik tertentu untuk menghasilkan penjualan karena produknya telah tersebar di berbagai wilayah ekspor.

Ketika memasuki pasar ekspor pun, UMKM akan dipaksa untuk terus meningkatkan daya saing mereka karena kompetitor yang dihadapi pun semakin beragam. Hal ini tentunya dapat menjadi cambuk positif untuk perkembangan UMKM itu sendiri.

Multiplier effect-nya ketika UMKM ini memasuki pasar ekspor dan berhasil, penyerapan tenaga kerja di Indonesia pun akan semakin tinggi. Memupuk Jiwa Kewirausahaan Pelaku UMKM untuk Menembus Pasar Ekspor Terdapat beberapa mindset yang perlu dirubah dan dipahami oleh UMKM agar dapat memasuki pasar ekspor. Mindset yang pertama yaitu adaptif.

Pelaku UMKM harus sadar bahwa ketika mereka menargetkan sebuah negara tertentu untuk dimasuki, tentunya terdapat perbedaan preferensi dari konsumen. Adaptif yang dimaksud disini adalah, pelaku UMKM harus sadar akan kebutuhan konsumen di negara tersebut terhadap produk yang dijual.

Baca juga : Teken MoU, RI-Kanada Perkuat Kemitraan Ekonomi

Tentunya setelah mengetahui needs & wants konsumen, akan dilakukan modifikasi produk sehingga produk yang diekspor pun mampu menyelesaikan permasalahan konsumen (desireable), dapat diterima pasar (feasible), dan memberikan nilai baik jangka pendek maupun jangka panjang bagi UMKM (visible).

Mindset adaptif ini pun harus dibarengi dengan kemampuan UMKM dalam optimalisasi fungi teknologi yang berkembang sebagai salah satu tools dalam pengambilan keputusan berbasis data.

Mindset kedua yaitu kemampuan untuk membaca peluang. Saat hendak memasuki pasar global, pelaku UMKM dituntut untuk dapat memetakan kompetisi produk dengan baik. Jangan sampai pelaku UMKM turut berkompetisi dalam sebuah pasar yang sudah memiliki banyak kompetitor (red ocean).

UMKM harus pintar-pintar mencari segmen yang berpotensi secara market size & market growth, namun belum disentuh oleh kompetitor. Salah satu contoh perusahaan yang mampu membaca peluang di blue ocean, yaitu langkah yang dilakukan oleh Sido Muncul.

Baca juga : Kapolri: Jaga Persatuan & Kesatuan

Kasus ini terjadi pada saat Covid-19 sedang melanda dunia, perusahaan ini menemukan segmen pasar baru di negara Arab Saudi yang mampu mempromosikan keunikan dan keunggulan dari Tolak Angin Cair sebagai obat herbal tradisional yang efektif dan aman.

Pada masa itu, di Arab Saudi, untuk masuk dan keluar negara, diperlukan beberapa vaksin seperti vaksin meningitis, vaksin polio, vaksin Hepatitis A dan B, dan vaksin Difteri, Tetanus, Pertussis (DTP). Tolak Angin Cair muncul di Arab Saudi sebagai obat komplementer yang kuat, berbeda dengan vaksin seperti vaksin Oxford yang meningkatkan antibodi, limfosit T, dan proteksi terhadap virus tertentu.

Sebagai stimulan, Tolak Angin Cair juga mampu meningkatkan daya tahan tubuh konsumen secara umum -nilai yang penting dalam masa tersebut- , tidak hanya spesifik terhadap Covid-19. Ekspor perdana Tolak Angin ke Arab Saudi merupakan bukti bahwa obat herbal asli Indonesia dapat diterima oleh negara lain.

Mindset ketiga yaitu kemauan untuk selalu berjejaring dan berkolaborasi. Tidak selamanya UMKM dapat berdiri sendiri dalam menghadapi semua risiko yang menghadang di depan mata. UMKM dituntut untuk mencari berbagai mitra berkompeten dalam menghadapi risiko tersebut. Contoh nyata dalam kasus ini terjadi pada sentra produksi kupang di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka menjalin kerjasama dengan PLN UP3 Sidoarjo untuk mengadopsi alat produksi yang berbasis listrik yang lebih hemat dan efisien.

Baca juga : Jokowi Ajak Pujakesuma Jakarta Jaga Persatuan dan Kerukunan

Sebelumnya, dalam proses produksinya, mereka hanya mengandalkan tenaga manusia secara tradisional. Berkat mesin produksi baru ini, mereka dapat memperbesar kapasitas produksi dan mengurangi biaya pekerjaan, yang memungkinkan mereka untuk memasuki pasar ekspor dan memenuhi kuota permintaan yang ada.

Sekali lagi, dengan peran penting UMKM dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia, membuat para pelaku UMKM harus mampu bersikap agile agar UMKM dapat terus sustain, berkembang, dan memberikan multiplier effect berupa penyediaan lapangan kerja yang semakin luas. UMKM yang masih bermain di pasar domestik pun, diharapkan berani mengambil risiko untuk mulai memasarkan produk mereka di pasar ekspor.

Kewirausahaan yang kuat akan memperkuat pasar ekspor dengan memperkenalkan produk-produk inovatif dan berkualitas tinggi dari UMKM Indonesia ke pasar global, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, PR ini perlu mendapatkan perhatian dari Pemerintah dan keterlibatan berbagai stakeholder.

Penulis adalah Hendy Setiono, Founder & Group CEO Baba Rafi Enterprise, Ketua Komite Tetap Transformasi Supply Chain KADIN Indonesia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.