Dark/Light Mode

Satupena Rayakan Warisan Sastra Di Setiap Provinsi

Kamis, 13 Maret 2025 19:18 WIB
Denny JA. (Foto: Ist)
Denny JA. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Denny JA mengumumkan gerakan terbaru Satupena yang bertujuan merayakan para penulis besar dari setiap provinsi di Indonesia.

“Provinsi yang besar, juga melahirkan penulis besar,” ujar Denny JA dalam keterangannya, Kamis (13/3/2025).

Menurut dia, Satupena kini hadir sebagai penjaga jejak untuk menghidupkan kembali nama-nama yang pernah menerangi peradaban dengan tulisan mereka.

“Setiap tanah ada kata-kata yang pernah ditanam. Di setiap provinsi, ada suara yang tak hanya menggema di zamannya, tetapi terus beresonansi dalam lembaran sejarah,” ujarnya.

Melalui inisiatif ini, kata dia, setiap koordinator Satupena provinsi memilih satu penulis besar atau inspiratif yang telah wafat, yang berasal dari atau memiliki keterikatan mendalam dengan daerah mereka.

Menurut dia, gerakan ini adalah penghormatan, perayaan, sekaligus sebuah janji bahwa kata-kata mereka tak akan hilang dalam kabut waktu. “Mengenang seorang penulis adalah menghidupkan kembali pemikirannya. Mengenang seorang penulis adalah menolak lupa,” katanya.

Baca juga : Krakatau Steel dan Pindad Kolaborasi Wujudkan Kemandirian Industri Pertahanan

Melalui program ini, Satupena mengukuhkan bahwa karya sastra bukan sekadar rangkaian aksara, tetapi juga warisan peradaban yang harus dirawat. Respons dari pengurus Satupena di berbagai provinsi pun mengalir dengan cepat.

Hingga saat ini, sudah ada belasan nama penulis yang telah diajukan, sementara provinsi lain tengah berdiskusi untuk memilih sosok terbaik dari tanah mereka.

Di antara nama-nama yang telah terpilih, pihaknya menemukan tokoh-tokoh besar yang telah meninggalkan jejak mendalam di dunia sastra, musik, dan pemikiran: Jawa Tengah (Ketua: Gunoto Saparie) NH Dini, Sumatera Barat (Ketua: Sastri Bakry) Buya Hamka, Jawa Timur (Ketua: Akaha Taufan Aminudin) Dwianto Setyawan, Lampung (Ketua: Yusrizal Karana) Montinggo Busye, Bali (Ketua: Drs. I. Wayan Suyadna) Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, DKI Jakarta (Ketua: Nia Samsihono) Ismail Marzuki.

Sumatera Selatan (Ketua: Anwar Putra Bayu) Bur Rasuanto, Sumatera Utara (Ketua: Dr. Shafwan Hadi Umri) BY Tand (Burhanuddin Yusuf Tanjung, Byung Tanjung), Riau (Ketua: M. Husnu Abadi, S.H., Ph.D.) Suman HS, Papua (Ketua: Vicktor) Mas Ipong (FX Purnomo), Jawa Barat (Ketua: Antonius Wagiyo Topo Aji) Joko Pinurbo, dan Sulawesi Selatan (Ketua: Rusdin Tompo) Rahman Arge.

Sebagai panduan dalam pemilihan, terdapat tiga kriteria utama yang ditetapkan: penulis tersebut lahir, berkarya, atau menghabiskan masa tuanya di provinsi yang memilihnya; telah wafat, tetapi meninggalkan warisan sastra yang tak lekang oleh waktu; dikenal luas dan diakui kualitasnya, baik di tingkat provinsi, nasional, maupun internasional.

Namun, kata dia, pemilihan ini bukan sekadar memilih nama. Ini adalah pencarian sosok yang telah membentuk wajah budaya di daerahnya. Satupena mengajak seluruh provinsi untuk tidak hanya menetapkan nama, tetapi juga menggelar perayaan bagi para penulis tersebut.

Baca juga : Jaringan Konektivitas Jalan Tol Trans Sumatera Dan Kesiapan Tol Fungsional

Bentuk kegiatan penghormatan bisa berupa: seminar tentang kehidupan dan karya penulis yang dipilih; pameran, peluncuran ulang, atau diskusi mendalam atas karyanya; konferensi pers untuk mengenalkan kembali sosok penulis tersebut kepada publik; pembacaan puisi atau cerpen, serta testimoni dari rekan sejawat dan pembaca setia; webinar via Zoom, agar diskusi tentang warisannya bisa menjangkau audiens lebih luas; kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas sastra, atau pengusaha lokal guna memperkuat dukungan bagi perayaan ini.

Dengan berbagai cara ini, Satupena ingin memastikan bahwa nama-nama tersebut kembali hidup, tak hanya dalam buku-buku lama, tetapi juga dalam ingatan generasi sekarang dan yang akan datang.

Program ini bukanlah yang pertama kali digagas oleh Satupena dalam menjaga warisan intelektual bangsa. Sebelumnya, Satupena telah meluncurkan program 100 buku yang membentuk Indonesia, yang mencakup karya-karya dari masa pra-kemerdekaan hingga era modern.

Melalui kurasi ketat dan survei akademik, dipilihlah 100 buku yang telah membentuk pemikiran bangsa, mulai dari Habis Gelap Terbitlah Terang (RA Kartini), Di Bawah Bendera Revolusi (Bung Karno), hingga Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer).

Tidak berhenti di situ, setiap tahunnya Satupena juga memberikan penghargaan tahunan kepada para penulis, serta menggelar talk show yang mendokumentasikan proses kreatif lebih dari 100 penulis.

Namun, tantangan sastra kini memasuki babak baru. Menurut Denny JA, kita kini memasuki era yang menempatkan sastra di persimpangan jalan baru: era Artificial Intelligence (AI). Jika dahulu penulis hanya bersaing dengan sesama manusia, kini kata-kata juga lahir dari mesin yang sangat cerdas.

Baca juga : Menguji Kesaktian Danantara Dan Danapati

“Tapi sastra adalah napas, bukan sekadar susunan algoritma. Ia adalah kesaksian batin, pergulatan jiwa,” katanya.

Menurut dia, sastra lahir dari pengalaman manusia, dari perasaan yang tak bisa sepenuhnya direplikasi oleh kecerdasan buatan. Melalui tangan-tangan para pengurus, program ini dikelola oleh Jonminofri sebagai Ketua Harian, Satrio Arismunandar sebagai Sekjen, dan Aji Sulaeman sebagai Bendahara.

Mereka memastikan bahwa Satupena tetap menjadi cahaya yang menerangi dunia kepenulisan Indonesia, dari Aceh hingga Papua. “Seorang penulis boleh tiada, tetapi kata-katanya akan terus mengembara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.