Dark/Light Mode

Kedaulatan Pangan Di Tengah Ketidakpastian Global

Jumat, 15 Agustus 2025 11:14 WIB
Rizal Djalil. (Foto: dok pribadi)
Rizal Djalil. (Foto: dok pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kedaulatan pangan (food sovereignty) secara sederhana dapat diartikan sebagai hak setiap bangsa, negara dan masyarakat untuk menentukan sistem pangannya sendiri. Dengan demikian, maka kekuasaan penuh untuk menata segala sesuatu yang terkait dengan semua kebijakan di bidang pangan suatu negara, berada di tangan Pemerintah yang sah berdasarkan konstitusi dan peraturan-perundangan yang berlaku. Dalam konteks operasional, biasanya digunakan istilah ketahanan pangan (food security).

Secara teknis, yang dimaksudkan dengan ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, dan merata serta terjangkau. Ketersediaan pangan bagi suatu negara sangatlah penting dan strategis, karena terkait dengan situasi: politik, keamanan, ekonomi, sosial dan kemanusiaan.

Berikut ini diangkat beberapa peristiwa yang terkait dengan ketersediaan pangan dan kecukupan pangan serta  prakondisi yang dapat menimbulkan instabilitas sosial politik dan keamanan serta tragedi  kemanusiaan yang mengerikan.

Roti dan "Arab Spring"

Baca juga : Stop Kekerasan Pada Dokter Dan Tenaga Kesehatan

Pertama, meledaknya revolusi "Arab Spring" yang dimulai dari Tunisia pada tahun 2010 dan meluas ke negara-negara Arab lainnya, seperti: Mesir, Libya, Yaman, Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, Oman dan Bahrain dalam bentuk protes dan unjuk rasa besar-besaran di lapangan terbuka. Seperti El-Tahrir Square di Kairo yang sangat populer dan terkenal: berakhir dengan tumbangnya beberapa rezim otoriter di beberapa negara seperti di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. Revolusi Arab Spring dipicu oleh: tingginya jumlah pengangguran dan kemiskinan serta mahal dan susahnya mendapatkan pangan (roti).

Perang Rusia-Ukraina

Kedua, perang dan konflik di berbagai tempat di dunia berimbas terhadap ketersediaan pangan. Invasi dan perang Rusia-Ukraina yang dimulai tahun 2022 telah menelan korban hampir 1.000.000 orang: juga mengganggu dan menghambat pengiriman gandum Ukraina melalui Laut Hitam ke beberapa negara di Asia dan Afrika. Kondisi ini menyebabkan kelangkaan dan ketersediaan pangan (gandum) menjadi terganggu. Bahkan harga gandum di pasar global sempat melonjak 28 persen dibandingkan sebelum perang Rusia-Ukraina. Walaupun akhirnya ada "Perjanjian Gandum Laut Hitam" yang ditandatangi oleh Rusia, Ukraina, Turki  dan PBB yang memungkinkan ekspor gandum Ukraina melalui koridor Laut Hitam: namun bukan berarti gandum Ukraina bisa bebas dan aman melalui Laut Hitam (karena situasi perang belum usai).

Tragedi kelaparan di Gaza

Baca juga : OTT di Jakarta, KPK Amankan Direksi Inhutani V

Ketiga, tragedi Gaza. Saat  ini, hampir setiap malam kita menyaksikan "bergelimpangannya korban meninggal dan kelaparan di Gaza, Palestina; Kawasan atau "negara" yang tidak punya kedaulatan karena dijajah dan sekaligus sedang diperangi secara habis-habisan dan membabi buta oleh Rezim Zionis Israel, tanpa mengindahkan konvensi Jenewa 1949. Berdasarkan data yang sudah terverifikasi per Maret 2025  jumlah korban perang di Gaza: Tewas: 61.599, termasuk hampir 18.430 anak-anak dan 154.088 luka-luka. Korban berjatuhan tersebut disebabkan oleh perang dan blokade tak berkesudahan oleh Rezim Zionis. Perang dan blokade juga menyebabkan ketiadaan dan kelangkaan pangan di Gaza. Anak-anak dan orang dewasa: berebut, berjibaku, berdesakan menadahkan panci atau piring hanya untuk mendapatkan makanan berupa asupan makanan yang sangat tidakmemadai secara kuantitas dan kualitas. Kita juga menyaksikan anak-anak menderita Kwashiokor dan Marasmus (kondisi malnutrisi/kelaparan sangat parah).

Pemandangan tragis, dan memilukan di Gaza tersebut ironisnya terjadi dan disaksikan penduduk dunia termasuk kita di Indonesia melalui media sosial dan televisi. Sungguh menyayat hati Tragedi Gaza Terjadi pada abad 21 di saat peradaban manusia sudah sangat modern dengan tekhnologi yang sangat tinggi dan super canggih. PBB ada, tapi tak berdaya; Negara Arab banyak yang kaya, tapi nyaris terpana saja tanpa aksi nyata membela Gaza. Yang dilakukan hanya sebatas konperensi ini dan itu yang atas nama Negara Islam. Tapi nihil tindakan konkret yang siginifikan. Hanya Qatar berperan sebagai mediator bersama Mesir.

Perubahan Iklim

Di samping kejadian dan peristiwa yang telah diungkapkan sebelumnya, ketersediaan pangan juga dipengaruhi oleh perubahan  iklim.

Baca juga : Prabowo: Indonesia Harus Punya Pertahanan Sangat Kuat di Tengah Dunia yang Tak Pasti

Perubahan iklim secara ekstrem membawa dampak signifikan terhadap sistem pangan global. El Nino yang menyebabkan perubahan pola angin, dan curah hujan pada akhirnya menyebabkan kekeringan di beberapa wilayah dan sebaliknya banjir di wilayah yang lain. Kondisi ini jelas mempengaruhi produksi dan distribusi pangan yang pada akhirnya juga berpengaruh terhadap meningkatnya harga pangan (beras) global. Pada April 2024, Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan indeks pangan untuk harga beras dunia berada pada 135,67, angka ini jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal beras merupakan makanan pokok bagi 3 miliar manusia dan hampir 90 persen dari tanaman intensif air diproduksi di Asia. Bila terjadi perubahan iklim ekstrem berkepanjangan, para konsumer beras terutama di Asia paling terdampak.

Berlomba investasi di bidang pangan

Agak mengejutkan para miliarder teknologi seperti Bill Gates dan Jeff Bezos melakukan investasi besar-besaran di bidang pertanian pangan. Bill Gates tercatat memiliki luas lahan pertanian (pangan) 111,2 ribu hektar di 20 negara bagian Amerika Serikat. Sedangkan Jeff Bezos sang pemilik Amazon telah berinvestasi dan memiliki 169,9 ribu hektar lahan pertanian. Dua miliarder teknologi lain seperti Elon Musk dan Mark Zuckerberg fokus berinvestasi di bidang yang terkait dengan riset di bidang pangan masa depan. Elon Musk fokus membiayai riset pertanian (pangan) berbasis ruang tertutup yang bisa mendukung kehidupan di ruang angkasa. Mark Zuckerberg berinvestasi mendanai riset bio teknologi tanaman "precision agriculture" dan fokus menciptakan tanaman yang efisien ramah lingkungan dan tahan iklim ekstrem.

Apa yang mendorong para miliarder teknologi berinvestasi di bidang pertanian (pangan)? Ada beberapa kemungkinan: pertama, mereka sadar pangan adalah komoditi strategis untuk kelangsungan hidup manusia. Kedua, kekhawatiran pasokan pangan global terganggu bila terjadi perang yang mungkin saja terjadi bila segala macam potensi konflik antar negara, dan antar kelompok negara mengarah pada eskalasi yang tidak lagi dapat dikendalikan melalui diplomasi. Ketiga, pengalaman era pandemi memberi pengalaman berharga dalam kepastian produksi dan distribusi kebutuhan primer manusia: pangan dan obat-obatan. Keempat, tentu saja potensi benefit yang menjanjikan. Mengingat pertanian (pangan) merupakan bidang yang menjanjikan pertumbuhan tinggi secara global pada tahun 2030, berdasarkan Laporan Future of jobs  Report tahun 2025.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.