Dark/Light Mode

RS Al Izza Dan Astri Bakti Insani Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan Mental

Senin, 15 Desember 2025 09:29 WIB
Seminar kesehatan mental sebagai  rangkaian peringatan Ulang Tahun ke-13 Rumah Sakit Izza dan berkolaborasi Yayasan Astri Bakti, di Auditorium Al Izza Preschool, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (13/12/2025). ((Foto: Dok. RS Al Izza)
Seminar kesehatan mental sebagai rangkaian peringatan Ulang Tahun ke-13 Rumah Sakit Izza dan berkolaborasi Yayasan Astri Bakti, di Auditorium Al Izza Preschool, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (13/12/2025). ((Foto: Dok. RS Al Izza)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental (mental health) semakin penting di tengah meningkatnya tuntutan hidup modern, tekanan pekerjaan, kebutuhan ekonomi serta pengaruh lingkungan dan interaksi sosial.

Namun minimnya literasi menyangkut penanganan kesehatan mental masih menjadi salah satu hambatan bagi sebagian orang.

Menjawab tantangan tersebut, seminar bertema “It’s Okay Not to Be Okay” diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Ulang Tahun ke-13 Rumah Sakit Izza, dengan dukungan Yayasan Astri Bakti Insani selaku mitra penyedia fasilitas.

Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Al Izza Preschool, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (13/12/2025).

Seminar yang dimoderatori Angelina Sondakh ini menghadirkan berbagai perspektif, mulai dari psikolog, psikiater, penyintas kesehatan mental, hingga caregiver dan perwakilan komunitas, sebagai ruang dialog yang terbuka, inklusif, dan penuh empati untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap isu kesehatan mental.

“Kami bersama-sama bergabung, untuk mulai menggaungkan penanganan masalah kesehatan mental,” ujar Direktur RS Izza Karawang, dr. Dik Adi Nugraha Sp.B., MM.

Baca juga : Stok Berlimpah Jelang Nataru, Masyarakat Nggak Usah Beli Pangan Berlebihan

Adi menyebut, stigma yang muncul dan perasaan tabu sering membuat banyak orang memilih diam dan memendam masalah, sehingga meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan depresi.

Sementara itu, Ketua Yayasan Astri Bakti Insani, Bagus Jatmiko berharap masyarakat semakin memahami bahwa kesehatan mental bukanlah isu yang tabu, melainkan bagian penting dari kehidupan manusia yang perlu mendapatkan perhatian bersama.

Bagus mengatakan, setiap orang dapat mengalami masa-masa sulit dan kerentanan emosional, namun hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya.

”Keluarga adalah lini pertama, bagaimana membentuk karakter anak dan karakter manusia. Kalau keluarga tidak membentuk dengan karakter yang baik, kemungkinan anak akan mencari pelampiasan yang lain. Kita harus memperbaiki pola hidup, pola pikir sehingga jiwa kita agar tertata dengan baik,” ungkap Bagus.

Psikolog Marissa S. Purba, M.Psi., dan psikiater dr. P. Beta Ayu Natalia, Sp.KJ, memaparkan perspektif profesional mengenai pentingnya mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan mental, menjaga komunikasi yang sehat, serta tidak menunda untuk melibatkan tenaga profesional.

Mereka menekankan bahwa penanganan kesehatan mental tidak selalu dimulai dari langkah besar, melainkan dari kesadaran diri, dukungan lingkungan terdekat, dan akses bantuan yang tepat.

Baca juga : WPW 98 Bagikan Paket Sembako untuk Masyarakat Deli Serdang, Tangerang & Depok

Yang paling penting menurut Marissa adalah mendengarkan, mengajak anak beraktivitas, dan menciptakan rasa aman.

"Melalui pemahaman yang tepat, dukungan lingkungan, dan keberanian untuk mencari bantuan profesional, kesehatan mental diharapkan tidak lagi menjadi isu yang disembunyikan, melainkan bagian penting dari kualitas hidup sehari-hari," ujar Marissa, psikolog dari Universitas Padjadjaran Bandung.

Sementara Beta Ayu menambahkan, dalam konteks jiwa berarti seseorang harus tahu apa kekurangannya dalam menjalani kehidupan.

Apakah cara mengatasi stres atau masalah yang dihadapinya sudah baik atau belum. Apakah dia masih menyimpan respon trauma dari hal-hal di masa lalu.

“Kadang orang tidak paham dengan sendirinya. Di sinilah butuh seorang ahli atau profesional. Jadi jangan sampai sudah pada taraf merasa tidak nyaman baru datang ke psikiater atau psikolog,” katanya.

Pendekatan tersebut kemudian diperkuat melalui kisah seorang penyintas kesehatan mental, Faqih N Umam, yang membagikan pengalamannya melewati masa krisis.

Baca juga : ASDP Kerahkan KMP Jatra I Perkuat Pemulihan Sumatera

Melalui ceritanya, peserta diajak memahami bahwa proses pemulihan merupakan perjalanan yang bertahap dan sangat dipengaruhi oleh penerimaan diri, dukungan keluarga, serta lingkungan yang memberikan rasa aman tanpa stigma.

Perspektif praktis dari sisi keluarga disampaikan Hindrawati dan Bagus Utomo, caregiver yaitu orang terdekat yang memiliki pengalaman mendampingi anggota keluarga tercintanya saat menghadapi krisis kesehatan mental.

Mereka menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini, menjaga komunikasi yang empatik, serta menciptakan lingkungan keluarga yang suportif sebagai fondasi dalam proses pemulihan jangka panjang.

Seminar ini diawali dengan pemutaran film bertema kesehatan mental yang mengisahkan perjalanan seseorang dalam menghadapi stigma serta proses pemulihan.

Selama rangkaian acara, peserta juga dapat mengunjungi area bazaar yang menghadirkan berbagai tenant, menciptakan suasana yang lebih terbuka dan nyaman bagi interaksi di sela-sela kegiatan seminar. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.