Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Setiap datangnya Tahun Baru Imlek banyak masyarakat Tionghoa pulang kampung untuk merayakan Imlek bersama sanak famili mereka yang ada di kampung halamannya masing-masing. Misalnya, mereka yang lahir di Kalimantan, maka mereka pulang kampung ke Kalimantan. Mereka lahir di Sumatera, mereka pulang kampung ke Sumatera. Mereka lahir di pulau Jawa, maka mereka juga pulang kampung ke pulau Jawa. Tradisi pulang kampung pada saat Imlek juga terjadi di Tingkok, Fenomena ini tidak ubahnya seperti perayaan Natal bagi umat Kristiani dan Hari Raya Idul Fitri bagi umat Islam, ketika banyak orang yang pulang kampung untuk merayakan hari yang penuh sejarah dan bahagia ini bersama anggota keluarga mereka.
Tradisi pulang kampung pada saat menyambut Tahun Baru Imlek ini bukan saja terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di Tiongkok saat masyarakat Tionghoa berbondong-bondong pulang kampung untuk merayakan Imlek bersama anggota keluarga mereka di kampung. Menurut informasi dari berbagai media, masyarakat Tionghoa yang melakukan perjalanan domestik pada saat perayaan Imlek di masa negara mereka dilanda pandemi Covid-19 mencapai 4,7 miliar, dan pemerintah China memprediksi angka tersebut akan meningkat dua kali lipat pada perayaan Imlek setelah pandemi berlalu. Kita dapat bayangkan berapa banyak tiket kereta api, pesawat, bus dan kapal laut terjual untuk melayani masyarakat yang ingin merayakan Imlek bersama keluarga mereka di kampung halaman.
Di Indonesia, libur nasional Imlek hanya 1 hari, dan jika Tahun Baru Imlek jatuh pada hari Jumat, maka mereka dapat menikmati waktu libur selama 3 hari, dan jika ditambah 1 hari cuti bersama, maka mereka dapat menikmati liburan selama 4 hari. Beda dengan di Tiongkok, pada saat Imlek masyarakat bisa menikmati libur panjang lebih dari sepuluh hari dan mereka dapat pulang kampung dengan melepas rindu pada keluarga mereka di kampung dalam waktu yang lama. Kebijakan ini dibuat oleh pemerintah Tiongkok untuk menghormati datangnya Tahun Baru Imlek.
Baca juga : Jasindo Perkuat Perlindungan Aset Negara dari Risiko Bencana
Sama dengan tahun Masehi, saat libur nasional dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pulang kampung dan berkumpul dengan sanak keluarganya di kampung halaman tempat mereka dilahirkan. Tentu saja, pulang kampung tidak hanya memberikan dampak pada eratnya hubungan antara sesama anggota keluarga yang sudah lama tidak berjumpa. Dengan adanya pulang kampung pada saat merayakan Tahun Baru Imlek, maka suasana kemesraan makin tambah mesra. Ada kemungkinan pada tahun-tahun sebelumnya hubungan anggota keluarga dekat dan jauh kurang harmonis, karena adanya konflik besar ataupun kecil, namun karena suasana Tahun Baru ada keinginan untuk saling memaafkan satu dengan yang lainnya.
Tahun baru bukan hanya sekadar pulang kampung dan bertemu dengan sanak keluarga, tetapi juga dapat meningkatkan ekonomi lokal. Semakin banyak orang Tionghoa yang pulang kampung, semakin banyak juga tiket pesawat, kapal laut, kereta api, bus dan travel yang terjual. Bukan saja tiket alat-alat transportasi mengalami peningkatan dalam penjualannya, tapi juga kamar-kamar hotel dan tempat-tempat penginapan lainnya juga akan mengalami peningkatan dalam penjualannya. Semakin banyak orang-orang yang pulang kampung pada hari-hari besar tertentu, seperti Imlek, makanan dan produk-produk lokal lainnya juga ikut terjual.
Selain pernak-pernik dan dominasi warna merah, Imlek juga ditandai dengan banyaknya orang Tionghoa yang mengunjungi tempat ibadah seperti kelenteng, Lithang (tempat ibadah umat Khonghucu) untuk sembahyang dan mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas semua semua yang diberikan pada manusia di tahun yang lalu. Mengunjungi tempat ibadah seperti kelenteng dan melakukan ritual di dalamnya sudah menjadi kegiatan rutin orang Tionghoa setiap datangnya tahun baru Imlek. Biasanya di bulan-bulan lain tempat ibadah hanya melayani kegiatan ibadah dari pagi hingga malam, namun pada saat Tahun Baru Imlek tempat ibadah melayani orang-orang yang akan melakukan ibadah selama 24 jam. Biasanya pada bulan-bulan lain tempat ibadah hanya dikunjungi sedikit orang untuk melakukan ritual, namun pada saat Imlek orang-orang yang datang ke tempat ibadah bisa mencapai dua atau tiga kali lipat dari hari-hari biasa. Tidak hanya itu, jumlah uang yang didapatkan dari donasi para pengunjung tempat ibadah atau kelenteng juga akan lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya.
Baca juga : Hasil Survei Kepuasan Publik Tegaskan Dukungan terhadap Kebijakan Prabowo
Tradisi membersihkan tempat ibadah pada saat menjelang Imlek juga menjadi tradisi menarik dalam masyarakat Tionghoa. Menjelang perayaan Imlek, mereka bergotong royong membersihkan tempat ibadah dengan tujuan untuk menyambut kedatangan tahun baru Imlek. Mulai dari membersihkan altar untuk sembahyang, patung-patung yang ada dalam tempat ibadah, ruangan, dan lingkungan tempat ibadah. Apa yang dilakukan oleh orang Tionghoa ini adalah salah satu tradisi yang diwaiskan secara turun-temurun. Tradisi leluhur ini memberikan tuntunan kepada orang-orang generasi sekarang dan yang akan datang agar selalu menjaga kebersihan sepanjang hidup, mulai dari lingkungan sendiri, tempat ibadah, dan lingkungan yang lebih luas.
Selain itu, dalam rangka menyambut kedatangan Imlek, mereka (orang Tionghoa) juga menyiapkan perlengkapan sembahyang (baik sembahyang itu dilakukan di rumah ataupun di tempat ibadah), seperti hio, lilin (besar dan kecil), kertas sembahyang seperti Kimcoa atau Yinco, yang merupakan sarana persembahan penting dalam tradisi sembahyang Tionghoa untuk menghormati Tuhan (Thian Kong/Ti Kong) dan para Dewa. Kertas ini, sering bermotif emas dan perak, dibakar setelah sembahyang sebagai simbol penghormatan dan permohonan bertambahnya rezeki di tahun baru. Dalam sembahyang kepada Tuhan, mereka mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang memberikan kesehatan, panjang umur, dan rezeki pada tahun lalu dan berharap di tahun baru ini Tuhan juga dapat memberikan rezeki yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya atau lebih dari tahun sebelumnya.
Perayaan Tahun Baru Imlek juga diliputi oleh berbagai kepercayaan yang didapatkan dari leluhur dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Di antara kepercayaan orang Tionghoa dalam menyambut kedatangan tahun baru adalah ditandai dengan naiknya dewa dapur (Tsu Cun) menemui Tuhan di Langit, Menurut kepercayaan sebagian masyarakat Tionghoa dewa dapur itu tinggal bersama anggota keluarga di dalam rumah. Disebut dewa dapur karena tempatnya di dapur. Ada yang menyebutnya dengan sebutan Cao Kung Kong dan ada juga yang menyebutnya dengan Toapekong. Apapun nama panggilannya, dewa dapur ini memiliki fungsi untuk mengawasi dan mencatat perbuatan anggota keluarga setiap hari dan dilaporkan kepada Tuhan setiap akhir tahun Imlek.
Baca juga : Kemenperin Gandeng Hungaria Perkuat Vokasi Industri
Imlek bukanlah sekadar diisi dengan perayaan, seperti menampilkan kesenian barongsai dan liong (naga), memasang lampion di berbagai tempat ibadah dan sudut kota, mengunjungi tempat-tempat ibadah, dan mengunjungi sanak famili. tetapi bagaimana Imlek dapat juga dijadikan sebagai sarana toleransi untuk mengeratkan hubungan antarsuku bangsa dan agama. Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara yang multi suku bangsa, bahasa, budaya dan agama, sangat rentan dengan berbagai konflik dan perlu dijaga keharmonisan satu dengan yang lainnya.
Akhir-akhir ini mencul gerakan berbagi sembako dikalangan organisasi orang Tionghoa di beberapa daerah Indonesia dalam rangka menyambut kedatangan Imlek atau bagian dari mengisi perayaan Imlek itu sendiri. Tradisi semcam ini perlu dilestarikan, karena memberikan dampak positif untuk membantu masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi. Dengan cara berbagi ini, makna sosial dari kedatangan Tahun Baru Imlek dapat dirasakan banyak orang, bukan saja di kalangan masyarakat Tionghoa yang kurang mampu, tapi juga pada suku bangsa lain di luar suku bangsa Tionghoa. Kegiatan berbagi dalam rangka menyambut kedatangan Tahun Baru Imlek ini dapat juga dimaknai sebagai alat pemersatu antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lain di Indonesia. Semoga saja perayaan Imlek 2577 ini dapat memberikan kebaikan untuk semua orang.
M. Ikhsan Tanggok
Guru Besar Antropologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Guru Besar Antropologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya