Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ramadan dan Pola Konsumsi: Menghidupkan Kembali Makna Menahan Diri
Selasa, 3 Maret 2026 18:47 WIB
Ramadan adalah bulan mulia yang sarat makna spiritual. Setiap orang beriman diwajibkan berpuasa di bulan ini dengan tujuan menjadi orang bertakwa. Perlu diperhatikan bahwa orang berpuasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi juga menahan diri, turut merasakan penderitaan atau kelaparan orang miskin dan menjadi momentum memperbaiki relasi sosial dalam kehidupan masyarakat.
Namun, di tengah bulan yang mulia nan suci ini, Ramadan diwarnai dengan pola konsumsi dan perubahan perilaku masyarakat, yang menggambarkan adanya pergeseran pengendalian diri menuju kecenderungan untuk memenuhi hasrat konsumsi.
Ada beberapa perubahan perilaku selama di bulan Ramadan jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Pertama, penggunaan aplikasi belanja selama bulan ramadhan mengalami kenaikan sebesar 30 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (pundi.or.id). Kenaikan ini merepresentasikan bahwa ramadhan tidak lagi identik dengan penghematan, namun justru mendorong perilaku masyarakat menjadi lebih konsumtif, apalagi difasilitasi teknologi digital yang memudahkan akses belanja dan sekaligus menggoda pola konsumsi kita.
Kedua, laporan Digiaids Insight Ramadhan 2026 yang dirilis Telkomsel, yang menghasilkan bahwa kebutuhan spiritual di bulan Ramadan berjalan seiring juga dengan peningkatan pengeluaran bulanan. Sebanyak 54 persen responden mengaku mengalami peningkatan biaya selama bulan Puasa dengan kisaran Rp 3,5 juta hingga Rp 7 juta. Temuan ini sesungguhnya dilematis. Di satu sisi di bulan suci ini ada peningkatan spiritualitas, tapi di sisi lain terjadi lonjakan pengeluaran rumah tangga, meskipun juga bisa berdalih harga-harga kebutuhan pokok semakin naik mengikuti inflasi.
Artinya, Ramadan tidak hanya menjadi ruang peningkatan religiusitas, tetapi juga meningkatkan eskalasi konsumsi, baik untuk kebutuhan buka puasa, hadiah, pakaian baru, hingga tradisi mudik. Fenomena ini sesungguhnya tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan religiusitas berdampingan dengan peningkatan pola konsumsi, sehingga orang-orang berpuasa sepertinya perlu refleksi diri lebih dalam, agar peningkatan pola konsumsi ini tidak mengaburkan tujuan utama berpuasa, menahan diri dan menjadi orang bertakwa.
Baca juga : Ramadan: Bulan Pahala atau Bulan Phishing?
Ketiga, selama bulan Ramadan juga terjadi lonjakan peningkatan sampah makanan sebesar 20 persen. Peningkatan sampah ini secara otomatis berdampak pada lingkungan, bahkan sistem pengelolaan sampah mencatat, sampah makanan di Indonesia sebesar 17 ton. Hal itu berarti menyumpang 41,6 persen dari total sampah makanan. Fakta ini sesungguhnya menjadi peringatan bagi orang-orang berpuasa, selama di bulan Ramadan sudah terjadi pergesaran dari apa yang diharapkan sebagai bulan mulia yang semestinya lebih menunjukkan empati kepada orang-orang miskin.
Hakekat Puasa
Imam Ghazali menekankan bahwa puasa adalah cara untuk meminimalisir makanan, bukan menggeser jam waktu makan. Menurut Imam Ghazali, perut yang terlalu kenyang meskipun halal, tidak disukai Allah SWT. Dalam perspektif tasawuf, menurut Imam Al Ghazali, tujuan puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga pada siang hari kemudian membalasnya di saat buka puasa, melainkan melatih jiwa dan membersihkan hati dan tidak berperilaku berlebih-lebihan.
Karena perut yang terlalu kenyang dapat menumpulkan spiritual, mengurangi empati sosial dan mengganggu kekhusukan dalam beribadah. Oleh karena itu, sejatinya puasa adalah pengendalian diri, bukan memindahkan waktu makan dari siang ke malam.
Imam Ghazali juga membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa awam, orang berpuasa menahan lapar dan dahan serta tidak berhubungan badan suami istri, tetapi perbuatan-perbuatan lainnya belum bisa dikendalikan, puasa semacam ini hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.
Baca juga : Pengangguran Rela Masuk Penjara Demi Bertahan Hidup
Kedua, puasa khusus, yakni selain menahan lapar dan dahaga juga menjaga mata, telinga, lisan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat. Puasa di tingkat ini adalah puasa yang mampu memerangi hawa nafsu.
Ketiga, puasa khusus al khusus, yakni puasa hati dan pikiran duniawi dan keraguan pada Allah dan hanya fokus pada allah SWT. Jadi orang-orang islam harus bisa menjalankan puasa tingkat kedua dan ketiga dari kategori puasa menurut ajaran Imam Ghazali.
Oleh karena itu, esensi puasa adalah mampu menahan hawa nafsu dari aspek fisik hingga batin. Dalam konteks masa kini, Ramadan menjadi sarat konsumsi, maka ajaran ini menjadi pengingat bagi kita semua agar memahami betul bahwa keberhasilan puasa tidak diukur dari menu dan hidangan buka puasa yang serba nikmat, tetapi pada sejauh mana orang-orang berpuasa menahan hawa nafsu, hidup sederhana dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mengembalikan Makna Ramadan
Tradisi puasa yang selama ini kita jalankan menjadi otokritik bagi kaum Muslim. Puasa bukan bertujuan memperbanyak konsumsi dengan euphoria karena dianggap segalanya pasti berkah. Tetapi bagaimana kita menahan diri untuk hidup apaadanya sebagaimana bulan-bulan sebelumnya.
Baca juga : Sandri Rumanama: Kelola Indonesia Timur Kunci Masa Depan NKRI
Oleh karena itu, ada beberapa upaya untuk mengembalikan kembali makna Ramadan. Pertama, masyarakat perlu membangun budaya konsumsi yang bijak sesuai dengan kebutuhannya, menghindari pola konsumsi berlebihan. Kebiasaan ini perlu ada perencanaan yang rasional, membeli makanan secukupnya dan tidak berperilaku boros tetapi semestinya memilih hidup yang hemat dan sederhana. Dengan perilaku yang sederhana, makna puasa akan semakin hadir dalam kehidupan ramadhan.
Kedua, tradisi berbagi harus ditingkatkan di Bulan Ramadan. Tradisi berbagi tidak dimaknai secara seremonial, tetapi bertujuan untuk memperkuat solidaritas sosial serta mengurangi kesenjangan sosial di masyarakat. Dengan menghidupkan berbagi, ramadhan bisa menjadi ruang empati khususnya kepada mereka yang kurang mampu.
Ketiga, kesadaran lingkungan harus ditingkatkan dengan mengurangi pemborosan makanan. Setiap makanan yang terbuang tidak hanya merugikan secara ekonommi saja, tetapi juga berdampak pada lingkungan. Oleh karena itu, ramadhan juga menjadi momentum kepedulian ekologis sekaligus menjalankan nilai kesederhanaan.
Pada akhirnya, Ramadan harus menjadi momentum peningkatan spiritual, menahan hawa nafsu dan menjaga dari pemborosan. Dengan demikian, melalui konsumsi yang bijak, tradisi berbagi dan kesadaran lingkungan. Di Bulan Ramadan tidak ada peningkatan sampah makanan lagi. Ramadan dapat kembali pada hakekatnya sebagai ruang pengendalian diri dan pembentukan kepedulian sosial.
MUHAMAD ROSIT
Dosen FIKOM Universitas Pancasila
Dosen FIKOM Universitas Pancasila
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya