Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Bangun 29 Bendungan, Waskita Karya Perkuat Ketahanan Pangan Dan Ekonomi Daerah
- Terima Ancaman Bom, SDN Srengseng Sawah 15 Jaksel Disisir Densus 88
- TikTok Perkuat Transparansi dan Literasi Konten Buatan AI
- PGN Sebut Jaringan Gas Sumatera Makin Kuat, Investor Diajak Lihat Langsung
- Disebut sebagai Sahabat, Kapolri Panggil Jaksa Agung Kakak Asuh
Petani Sukaresmi Sambut Refocusing MBG, Harga Panen Lebih Stabil
Senin, 29 Juni 2026 09:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya bermanfaat bagi pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga berdampak luas terhadap perekonomian masyarakat, khususnya petani, peternak, dan UMKM lokal di pedesaan maupun wilayah tertinggal.
Hal itu dirasakan Agi Sumarlin, petani di Desa Sukaresmi, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Ia mengaku program MBG membuat serapan hasil panennya lebih terjamin.
"Dulu harga sering anjlok saat panen raya karena pasokan melimpah. Dengan adanya MBG, hasil panen petani lokal memiliki kepastian pasar sehingga membantu menjaga stabilitas harga di tingkat petani," kata Agi.
Baca juga : APKLI Perjuangan Dorong MBG Di Daerah 3T Dan Libatkan Lebih Banyak UMKM
Selain menyerap hasil panen, program MBG juga mengurangi ketergantungan petani terhadap tengkulak. Petani kini dapat menjual hasil panennya langsung ke dapur MBG dengan harga yang relatif lebih baik.
"Kontrak pasokan dengan koperasi atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memberikan jaminan harga yang lebih adil dan stabil," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Badan Gizi Nasional (BGN) kini melakukan refocusing penerima manfaat MBG. Setidaknya terdapat empat kelompok prioritas penerima, yakni anak-anak di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.
Baca juga : El Nino Tidak Ganggu Pertanian, Harga Pangan Diharapkan Tetap Stabil
Menanggapi kebijakan tersebut, Agi menyatakan sangat mendukung karena diyakini memberikan manfaat besar bagi petani di pedesaan dan wilayah 3T yang selama ini memiliki akses ekonomi terbatas. Menurutnya, kebijakan tersebut sudah tepat sasaran.
"Kebijakan ini menjadi angin segar bagi petani di daerah. Hasil panen, seperti padi, sayuran, pisang lokal, ubi, telur, daging, dan komoditas lainnya, bisa diserap oleh dapur MBG. Hal itu dapat mengurangi risiko hasil panen tidak terjual atau harga anjlok saat panen raya, sekaligus memberikan harga jual yang lebih layak dan stabil," terangnya.
Selain petani, lanjut Agi, pedagang dan UMKM juga berharap tetap dilibatkan. Sebab, program MBG terbukti mampu menggerakkan perekonomian lokal, terutama melalui penyediaan bahan baku untuk dapur MBG.
Baca juga : Fundamental Kuat, BRI Sambut Positif Dukungan Berbagai Pihak Pada Pasar Modal
"Mereka ingin dilibatkan secara aktif sebagai pemasok bahan baku tanpa adanya permainan dari pengelola dapur," katanya.
Sebagai petani, Agi mengaku telah merasakan manfaat berbagai program kerakyatan yang digagas Presiden Prabowo. Mulai dari penyederhanaan distribusi pupuk bersubsidi, kenaikan harga pembelian gabah, hingga bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
"Dampaknya cukup nyata. Birokrasi pupuk bersubsidi yang sebelumnya rumit kini lebih sederhana. Pemerintah juga menaikkan harga pembelian gabah menjadi Rp6.500 per kilogram. Ditambah lagi berbagai bantuan alsintan yang langsung diterima petani menjadi angin segar bagi petani dan pedagang," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya