Dark/Light Mode

El Nino Tidak Ganggu Pertanian, Harga Pangan Diharapkan Tetap Stabil

Jumat, 12 Juni 2026 22:07 WIB
Toko sembako di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan. (Foto: Khairizal Anwar/RM).
Toko sembako di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan. (Foto: Khairizal Anwar/RM).

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan fenomena El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat tidak akan mengganggu sektor pertanian nasional secara signifikan saat Indonesia mulai memasuki musim hujan.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan bahwa pengaruh El Nino pada periode musim hujan hanya berupa penurunan akumulasi curah hujan yang relatif kecil dibandingkan kondisi normal.

"Kondisi normal klimatologi pada musim hujan yang terdampak El Nino biasanya memang mengalami sedikit penurunan akumulasi curah hujan. Namun, penurunannya terjadi dari jumlah curah hujan yang masih cukup besar, sehingga umumnya tidak terlalu mengganggu aktivitas yang membutuhkan banyak air, seperti sektor pertanian," kata Ardhasena, di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Ardhasena menjelaskan, prediksi komprehensif mengenai musim hujan baru akan diterbitkan pada Agustus mendatang. Sementara itu, pasokan hujan diproyeksikan mulai membasahi wilayah barat Indonesia secara bertahap sejak Oktober.

Berdasarkan analisis bulanan Direktorat Klimatologi BMKG, sebagian besar wilayah Pulau Sumatera, mulai dari pesisir barat hingga kawasan Jambi dan Sumatera Selatan, diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Oktober. Kondisi tersebut kemudian akan meluas ke wilayah lain pada November.

Menurutnya, datangnya musim hujan akan menjadi momentum pemulihan sekaligus instrumen pelepas alami bagi sejumlah daerah yang mengalami kekeringan panjang sepanjang pertengahan tahun ini.

Baca juga : BBM Non Subsidi Naik, Dirut Pertamina Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Energi

BMKG juga memproyeksikan pasokan air hujan akan cukup melimpah pada akhir tahun. Pada Desember, intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan berada dalam kategori menengah hingga tinggi.

Karena itu, BMKG mengimbau pelaku sektor pertanian dan para pemangku kepentingan untuk tidak panik serta terus memanfaatkan informasi iklim resmi sebagai dasar penyusunan strategi masa tanam yang optimal. "Jadi, untuk Desember, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia cukup tinggi, berada pada kategori menengah hingga tinggi," tegas Ardhasena.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan, Indonesia siap menghadapi potensi El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Kesiapan tersebut didukung oleh cadangan beras nasional yang dinilai mencukupi hingga 11 bulan ke depan serta berbagai langkah antisipasi yang telah dilakukan pemerintah.

"Cadangan beras kita, baik yang disimpan di Bulog, yang masih dalam standing crop dan segera dipanen, maupun yang beredar di masyarakat, totalnya sekitar 28 juta ton. Jumlah itu bisa menopang kebutuhan selama 11 bulan," ujarnya.

Kata Sudaryono, bahkan jika El Nino berlangsung hingga enam bulan, stok pangan Indonesia tetap dalam kondisi aman. "Puncak El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus. Dampak terberatnya kemungkinan berlangsung selama tiga bulan, yaitu Juli, Agustus, dan September. Kalaupun molor hingga enam bulan, cadangan pangan, khususnya beras, masih cukup untuk 11 bulan," katanya.

Dari parlemen, Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan mengingatkan agar semua pihak tidak meremehkan sinyal menguatnya fenomena El Nino. Menurutnya, peringatan tersebut bukan sekadar kajian ilmiah, melainkan alarm nyata bagi jutaan petani Indonesia yang bergantung pada ketersediaan air.

Baca juga : Ganggu Jalur Kereta Cepat, 452 Layang-Layang Diamankan KCIC

"Sinyal El Nino yang berpotensi menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua 2026 bukan sekadar peringatan ilmiah. Ini adalah alarm nyata bagi jutaan petani kita yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air," kata Daniel di Jakarta, Senin (8/6/2026).

Daniel mengingatkan Indonesia memiliki pengalaman pahit saat El Nino 1997–1998 yang menyebabkan kekeringan panjang dan gagal panen di berbagai daerah. "Kita tidak ingin kejadian seperti masa lalu terulang tanpa persiapan yang memadai," ujarnya.

Politisi PKB itu juga mendorong langkah konkret untuk mengantisipasi dampak kekeringan akibat El Nino, seperti percepatan pembangunan embung di tingkat desa, penyediaan sumur dalam, serta penyesuaian pola tanam berbasis prakiraan BMKG.

Daniel menegaskan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar dampak El Nino dapat diantisipasi dengan baik sehingga tidak mengganggu petani maupun ketahanan pangan nasional.

"Sehingga tidak berdampak signifikan terhadap petani dan pangan nasional," tandasnya.

Di media sosial X, warganet ramai membahas potensi dampak El Nino terhadap sektor pertanian. Meski Pemerintah dan BMKG menyatakan dampaknya tidak akan signifikan, masyarakat tetap mengkhawatirkan kemungkinan kenaikan harga pangan dalam beberapa waktu ke depan.

Baca juga : Jelang Laga Perdana, Argentina Dibekap Badai Cedera

Akun @hkushardanto menilai dampak ekonomi El Nino bagi Indonesia sebagai negara kepulauan bisa sangat besar. "Selain menyebabkan gagal panen, produksi perikanan juga dapat menurun karena nelayan kesulitan melaut akibat cuaca ekstrem. Transportasi terganggu, belum lagi ancaman kebakaran hutan. Karena itu, seluruh dampak tersebut harus diantisipasi sejak awal," tulisnya.

Sementara itu, akun @ArvinHonami mengaku bersyukur Indonesia telah mencapai swasembada pangan sebelum El Nino terjadi. "Negara-negara Asia lain sedang pusing menghadapi krisis pangan akibat mahalnya pupuk dan dampak El Nino. Untungnya Indonesia relatif aman karena sudah swasembada pangan," tulisnya.

Akun @zakiberkata menyoroti banyaknya varietas tanaman pangan yang telah terbukti mampu bertahan dalam cuaca ekstrem. "Ada banyak varietas padi yang dirancang khusus untuk lahan kering dan tahan kekeringan. Kementerian Pertanian, BRIN, dan Balitbangtan bahkan telah melepas puluhan varietas unggul yang cocok untuk kondisi minim air sebagai antisipasi El Nino kuat," ungkapnya.

Sementara itu, akun @cabtto menekankan pentingnya langkah antisipatif. "Kalau fenomena El Nino semakin meluas, produksi pangan bisa menurun, banyak petani gagal panen, harga beras lokal naik, dan akhirnya berdampak pada kebutuhan impor beras. Karena itu, perlu langkah pencegahan yang bersifat struktural," tulisnya.

Akun @AvelinoGuido28 juga mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga pangan saat El Nino terjadi. "Stok beras 5 juta ton memang modal besar. Tapi pertanyaannya, kalau pada musim normal saja harga beras sudah naik dua digit, apa yang akan terjadi saat kekeringan dan El Nino datang?" ujarnya.

Senada dengan itu, akun @desmondwira mengingatkan pengalaman buruk Indonesia saat gagal mengantisipasi dampak El Nino pada akhir 1990-an. "Fenomena El Nino yang sangat kuat pada 1997–1998 memperparah krisis ekonomi dan politik yang berujung pada kejatuhan Orde Baru. Kekeringan ekstrem saat itu memicu gagal panen massal, lonjakan harga bahan pokok, kebakaran hutan, hingga kelaparan di berbagai daerah," cuitnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.