Dark/Light Mode

Catatan Fitri Suhariyadi, Kepala Biro Umum Dan SDM BPIP

Gen Z, Saatnya Jadi ASN Berkarakter Pancasila!

Selasa, 30 Juni 2026 14:53 WIB
Kepala Biro Umum dan SDM BPIP Fitri Suhariyadi (dua kiri). Dok. BPIP
Kepala Biro Umum dan SDM BPIP Fitri Suhariyadi (dua kiri). Dok. BPIP

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Tak lama lagi, Gen Z akan menjadi tulang punggung birokrasi nasional. Mereka hadir dengan karakter yang berbeda dari generasi sebelumnya: cepat belajar, akrab dengan teknologi digital, terbuka terhadap perubahan, sekaligus menginginkan ruang kerja yang kolaboratif dan bermakna.

Di sisi lain, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus mendorong percepatan reformasi birokrasi sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Salah satu prioritas dalam Asta Cita, yakni poin keempat, adalah memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif, dan berkarakter.

Persoalannya, membangun kompetensi teknis saja tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah membangun karakter, integritas, etika pelayanan, dan semangat kebangsaan. Di sinilah coaching dan mentoring menemukan relevansinya.

Belakangan, ruang publik dipenuhi berbagai perbincangan mengenai karakter Gen Z. Mulai dari fenomena quiet quitting, tingginya mobilitas pekerjaan, isu kesehatan mental, hingga tantangan menjaga produktivitas di era digital yang serba cepat. Pada saat yang sama, muncul pula banyak contoh positif. Tidak sedikit anak muda yang tampil sebagai inovator, relawan sosial, pelaku ekonomi digital, hingga motor penggerak transformasi pelayanan publik.

Artinya, Gen Z bukan generasi yang lemah. Mereka hanya membutuhkan pendekatan kepemimpinan yang berbeda. Mereka lebih mudah berkembang ketika diberikan teladan, ruang berdialog, umpan balik yang konstruktif, dan kesempatan belajar dari pengalaman nyata.

Baca juga : Kepala Bakom: Kunjungan Resmi Presiden Hanya ke Prancis

Karena itu, pola pembelajaran satu arah sudah tidak lagi memadai. Birokrasi membutuhkan pendekatan yang lebih humanis, kolaboratif, dan berbasis pengalaman.

Salah satu jawabannya adalah coaching dan mentoring sebagai bagian dari Pembelajaran Sosial (Social Learning) dalam implementasi ASN Corporate University (ASN Corpu).

Melalui coaching, seorang pegawai didorong menemukan solusi atas tantangan pekerjaannya sendiri melalui proses refleksi, dialog, dan penggalian potensi. Sementara mentoring memungkinkan transfer pengalaman, nilai, budaya kerja, dan kebijaksanaan dari pegawai senior yang kompeten kepada generasi penerus.

Keduanya bukan sekadar metode pelatihan, melainkan proses pembelajaran yang hidup di lingkungan kerja.

Bagi aparatur Gen Z, pendekatan ini jauh lebih efektif dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan ceramah di ruang kelas. Mereka belajar dari praktik langsung, mendapatkan umpan balik secara berkelanjutan, sekaligus membangun relasi profesional dengan mentor yang menjadi teladan.

Baca juga : Himmatul Aliyah Dorong Generasi Muda Jadi Garda Terdepan Penjaga Pancasila

Lebih jauh lagi, coaching dan mentoring menjadi media yang efektif untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku sehari-hari aparatur negara. Nilai gotong royong, integritas, profesionalisme, kepedulian terhadap masyarakat, hingga semangat melayani tidak cukup diajarkan melalui modul. Nilai-nilai tersebut harus dicontohkan, dipraktikkan, dan diwariskan.

Inilah esensi pembangunan karakter Pancasila. Transformasi birokrasi yang sedang dijalankan pemerintah juga membutuhkan perubahan budaya kerja. Budaya birokrasi yang kaku harus bergeser menjadi organisasi yang lincah, adaptif, inovatif, dan berorientasi pada hasil.

Coaching dan mentoring dapat menjadi katalis perubahan tersebut. Organisasi tidak lagi hanya mengukur keberhasilan dari banyaknya pelatihan yang diselenggarakan, tetapi dari seberapa besar perubahan perilaku, peningkatan kompetensi, dan dampak nyata terhadap kualitas pelayanan publik.

Melalui pembelajaran sosial, setiap pegawai menjadi sumber belajar bagi pegawai lainnya. Pengalaman sukses maupun kegagalan menjadi modal pembelajaran bersama. Pengetahuan tidak berhenti pada individu, tetapi berkembang menjadi pengetahuan organisasi.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan SDM aparatur tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau modernisasi sistem. Faktor manusia tetap menjadi penentu utama.

Baca juga : Dari Gagasan Bhayangkari, Kemala Run Kini Jadi Event Internasional

ASN yang unggul lahir dari proses belajar yang berkelanjutan. ASN yang adaptif tumbuh melalui budaya saling membimbing. ASN yang berkarakter dibentuk oleh keteladanan.

Karena itu, penguatan coaching dan mentoring bukan sekadar program pengembangan kompetensi. Ia merupakan investasi strategis untuk menyiapkan birokrasi masa depan yang profesional, adaptif, berdaya saing global, sekaligus tetap berakar kuat pada nilai-nilai Pancasila.

Ketika aparatur Gen Z mampu memadukan kompetensi digital dengan karakter kebangsaan, birokrasi Indonesia tidak hanya akan semakin modern, tetapi juga semakin dipercaya masyarakat. Dan di situlah pembangunan SDM sebagaimana diamanatkan dalam Asta Cita menemukan wujud nyatanya: melahirkan aparatur negara yang mampu menjadi penggerak kemajuan bangsa sekaligus penjaga nilai-nilai Pancasila.

 

*) Penulis adalah Kepala Biro Umum dan SDM BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.