Dark/Light Mode

Gelar Halaqah Kespro

PBNU Dorong Penguatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri

Kamis, 30 Juli 2026 18:54 WIB
Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (30/7/2026). (Foto: Dok. LTN PBNU)
Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (30/7/2026). (Foto: Dok. LTN PBNU)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama kembali menggelar Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi (Kespro) Santri di Pesantren Batch kedua, di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (30/7/2026).

Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Kerakyatan Alissa Qatrunnada Wahid menegaskan, pesantren memiliki peran strategis dalam membangun kesehatan reproduksi santri karena memadukan fungsi pendidikan dan pengasuhan sekaligus.

"Pesantren punya dua-duanya, sebagai lembaga pendidikan sekaligus juga ruang pengasuhan. Kalau ruang pengasuhan berarti transmisi nilai itu akan masuk. Mempersiapkan perkembangan personal itu juga akan terjadi," kata Alissa. 

Ia melihat, banyak remaja memperoleh paparan mengenai perilaku seksual dari berbagai sumber tanpa memiliki bekal pengetahuan yang memadai mengenai perkembangan dirinya maupun kesehatan reproduksi.

Karena itu, program kesehatan reproduksi di pesantren menjadi penting untuk membekali santri agar memahami bahwa kesehatan reproduksi bukan hanya soal fisik. “Tetapi juga kemampuan mengambil keputusan terbaik bagi dirinya dalam konteks perilaku reproduksi," jelasnya.

Baca juga : Prudential Syariah Borong 3 Penghargaan Perkuat Posisi Asuransi Jiwa Syariah

Alissa menyatakan, pesantren memiliki potensi besar dalam menyiapkan generasi Indonesia yang sehat. Sebab, pesantren menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai lembaga pendidikan dan ruang pengasuhan.

"Potensi pesantren sangat besar untuk membentuk karakter, kepemimpinan, hingga kesehatan reproduksi santri," ujarnya.

Program pendidikan kesehatan reproduksi santri di pesantren (Kespro) tidak berhenti pada penyelenggaraan halaqah. Ke depan, program tersebut akan dilanjutkan dengan pelatihan bagi para ustaz dan ustazah hingga pembentukan santri sebagai pendidik sebaya (peer educator).

"Setelah ini akan ada pelatihan untuk para asatidz dalam bentuk Training of Trainers (TOT). Lalu akan ada contoh implementasi di pondok pesantren. Mungkin di akhir tahun atau tahun depan kita juga mulai melatih santri menjadi pendidik sebaya," ujarnya.

Ia berharap, para pengasuh pesantren mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi kesehatan reproduksi. Menurutnya, langkah tersebut lebih mudah dilakukan oleh kalangan muda, seperti para Gus dan Ning yang telah terbiasa membuat konten digital.

Baca juga : Gelar Ratas, Prabowo Percepat Penguatan Koperasi Merah Putih

"Sekarang mungkin kita baru bisa bekerja sama dengan para Gus dan Ning yang lebih muda dan lebih terbiasa menggunakan media sosial. Kalau Kiai dan Bu Nyai sepuh memang agak sulit, meski kami juga menemukan banyak Bu Nyai yang sudah bisa membuat konten," ujarnya.

Anemia dan Hipertensi pada Remaja

Di acara yang sama, Anggota Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja, Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Marlina Rully Wahyuningrum mengatakan  tantangan kesehatan remaja saat ini tidak hanya terbatas pada masalah fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan masalah sosial-reproduksi.

Ia membeberkan data memprihatinkan terkait kondisi gizi remaja di Indonesia. Berdasarkan data laporan agregat dari Puskesmas, terhadap 3,9 juta remaja putri kelas 7 dan kelas 10, sebanyak 15 persen di antaranya mengalami anemia.

Data program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah menunjukkan angka yang lebih tinggi. Dari 1 juta peserta didik kelas 7 (putra dan putri) serta kelas 10 (putri) yang diperiksa, sebanyak 30 persen di antaranya terdiagnosis mengalami anemia, mulai dari tingkat ringan, sedang, hingga berat. “Ini isu yang harus kita tanggulangi bersama," ujar Ruli.

Kondisi ini diperparah oleh fenomena growth spurt atau masa pertumbuhan pesat kedua yang dialami remaja setelah periode bawah dua tahun (baduta) dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Baca juga : Perketat Pengawasan, Komdigi Wajibkan Gerai Terapkan Registrasi SIM Biometrik

"Pada fase ini, kebutuhan gizi remaja meningkat drastis. Namun, persepsi tubuh (body image) yang keliru kerap membuat remaja putri membatasi asupan makan secara ekstrem, hingga memicu gangguan makan seperti anorexia dan bulimia nervosa (perilaku memuntahkan kembali makanan yang telah dikonsumsi)," tandasnya.

Modul Reproduksi Santri ala Pesantren

Kegiatan Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pesantren batch kedua ini merupakan program dari Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) yang menyasar para pengasuh pesantren. Kegiatan ini diikuti para pengasuh pesantren di Jawa Timur. Halaqah sebelumnya telah digelar di Pondok Pesantren Khas Kempek Cirebon diikuti oleh para pengasuh pesantren di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

GKMNU telah menyusun modul pendidikan kesehatan reproduksi santri di lingkungan pesantren sebagai upaya mencegah berbagai problematika terkait fungsi reproduksi, termasuk menanggulangi kekerasan seksual terhadap santri. Modul yang disusun bersifat komprehensif, termasuk menghindari madharat seperti mengalami anemia dan mengembangkan keterampilan mengambil keputusan sehingga santri tidak mudah terpengaruh media sosial atau teman-temannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.