Dark/Light Mode

Catatan Nurussyariah Hammado, Dekan Universitas Negeri Makassar

Longevity Medicine, Spirit Baru Kemerdekaan Menuju Indonesia Emas 2045

Kamis, 6 Agustus 2026 07:53 WIB
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Makassar (UNM) Nurussyariah Hammado.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Makassar (UNM) Nurussyariah Hammado.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia terbebas dari segala bentuk belenggu yang menghambat martabatnya. Di abad ke-21, salah satu bentuk penjajahan yang paling nyata adalah penyakit kronis, disabilitas, dan ketergantungan yang merampas kebebasan seseorang untuk hidup mandiri, produktif, dan bermakna.

Bangsa yang merdeka seharusnya dihuni oleh masyarakat yang sehat. Sebab, seseorang yang hidup puluhan tahun, tetapi menghabiskan waktunya dalam kondisi nyeri, stroke, diabetes, demensia, atau gagal ginjal, sesungguhnya belum menikmati kemerdekaan secara utuh. Ia hidup lebih lama, tetapi tidak hidup lebih baik.

Di sinilah Longevity Medicine menawarkan paradigma baru. Bukan sekadar memperpanjang usia (lifespan), melainkan memperpanjang masa hidup sehat (healthspan), sehingga setiap tambahan tahun kehidupan tetap diisi dengan produktivitas, kemandirian, dan kualitas hidup yang tinggi.

Paradigma ini sejalan dengan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. RPJPN 2025–2045 menempatkan Indonesia Sehat sebagai salah satu sasaran transformasi sosial dengan target memastikan penduduk berusia panjang dan hidup sehat. Arah ini juga selaras dengan transformasi kesehatan nasional yang menekankan pergeseran dari pelayanan kuratif menuju promotif dan preventif.

Baca juga : BPK: Tata Kelola Berbasis ESG dan Government 5.0, Fondasi Indonesia Emas 2045

Karena itu, saya meyakini bahwa cita-cita Indonesia Emas tidak akan pernah terwujud apabila masyarakatnya mengalami penuaan dalam keadaan sakit. Indonesia Emas hanya akan menjadi Indonesia Cemas—cemas karena ledakan penyakit degeneratif, cemas karena beban pembiayaan kesehatan yang terus meningkat, dan cemas karena bonus demografi berubah menjadi bonus ketergantungan.

Inilah saatnya Longevity Medicine dijadikan sebagai strategi nasional, bukan sekadar cabang ilmu kedokteran.

Konsep ini juga sangat relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan untuk menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua usia. Lebih jauh dari itu, Longevity Medicine sesungguhnya berkontribusi terhadap hampir seluruh tujuan pembangunan, mulai dari mengurangi kemiskinan akibat biaya kesehatan, meningkatkan kualitas pendidikan melalui kesehatan yang lebih baik, memperkuat produktivitas ekonomi, hingga mengurangi kesenjangan sosial melalui penuaan yang sehat.

Konsekuensinya, transformasi harus dimulai dari pendidikan kedokteran. Sudah saatnya kurikulum fakultas kedokteran bergeser dari paradigma disease-oriented menjadi healthspan-oriented. Mahasiswa kedokteran tidak cukup hanya belajar mendiagnosis dan mengobati penyakit, tetapi juga memahami ilmu pencegahan, biologi penuaan, kedokteran presisi, nutrisi, aktivitas fisik, kesehatan mental, biomarker, kecerdasan buatan, genomik, epigenetik, hingga perubahan perilaku masyarakat. Dokter masa depan bukan hanya penyembuh penyakit, tetapi juga arsitek umur panjang yang sehat.

Baca juga : Semangat Belajar Biar Pintar Dan Jadi Menteri

Transformasi tersebut harus berjalan beriringan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan. Reformasi sistem kesehatan perlu semakin memperkuat investasi pada deteksi dini, stratifikasi risiko, skrining populasi, dan intervensi sebelum penyakit muncul, sejalan dengan pilar promotif dan preventif yang telah menjadi arah transformasi kesehatan nasional.

Demikian pula dengan BPJS Kesehatan. Keberhasilan sistem jaminan kesehatan pada masa depan tidak hanya diukur dari banyaknya klaim yang dapat dibayar, tetapi juga dari banyaknya penyakit yang berhasil dicegah. Insentif pembiayaan perlu secara bertahap bergeser untuk menghargai layanan promotif, preventif, rehabilitatif, serta program yang terbukti mampu memperpanjang healthspan. Dengan demikian, investasi kesehatan tidak lagi berorientasi pada "membayar ketika masyarakat sakit", melainkan "berinvestasi agar masyarakat tetap sehat".

Namun, visi ini tidak akan terwujud tanpa mengakui kendala struktural yang nyata. Distribusi tenaga kesehatan di Indonesia masih timpang. Wilayah Jawa jauh lebih terlayani dibandingkan kawasan timur Indonesia. BPJS Kesehatan sendiri masih bergulat dengan tekanan pembiayaan yang didominasi klaim kuratif, sementara alokasi dana untuk program promotif dan preventif secara historis masih jauh di bawah kebutuhan ideal. Pergeseran dari sistem yang telah mapan selama puluhan tahun menuju paradigma preventif bukan sekadar soal kemauan politik, melainkan juga membangun kembali insentif, tenaga kerja, serta infrastruktur data di banyak daerah. Mengabaikan kendala ini hanya akan membuat visi Longevity Medicine berhenti sebagai wacana, bukan strategi yang dapat dieksekusi.

Memaknai kemerdekaan pada abad kedua Indonesia berarti membebaskan masyarakat dari belenggu penyakit sebelum penyakit itu merampas produktivitasnya. Itulah makna kemerdekaan yang sesungguhnya: bukan hanya bebas sebagai bangsa, tetapi juga bebas sebagai manusia.

Baca juga : Milad Ke-23 JSIT Indonesia Tekankan Kolaborasi & Inovasi Menuju Indonesia Emas

Jika para pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan, maka generasi hari ini harus memperjuangkan kemerdekaan dari penyakit. Sebab, Indonesia Emas tidak dibangun oleh masyarakat yang sekadar berumur panjang, tetapi oleh masyarakat yang panjang umur dalam keadaan sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat.

Longevity Medicine bukan sekadar masa depan dunia kesehatan. Ia adalah strategi membangun peradaban. Ia adalah wajah baru kemerdekaan Indonesia.

"Kemerdekaan bukan hanya tentang menambah usia bangsa, tetapi memastikan setiap warga bangsa dapat menambah kehidupan yang berkualitas pada setiap usia."

Penulis adalah Alumni Australian National University (ANU), Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Makassar (UNM), serta Pemerhati Longevity Medicine pada Bidang Unggulan FK UNM.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.